Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Lebanon Takut Diperlakukan seperti Qatar

| editor : 

mantan Perdana Menteri Lebanon (PM) Saad Al Hariri

PEMIMPIN: Sebuah poster Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri terlihat di papan reklame raksasa yang bertuliskan Martabat Anda adalah martabat Lebanon di jalan raya Zouk Mosbeh, sebelah utara Beirut, (JOSEPH EID/AFP)

JawaPos.com - Isolasi oleh negara-negara Teluk terhadap Qatar menjadi momok para pemimpin di Lebanon. Mereka khawatir diperlakukan sama seperti negara yang dipimpin Tamim bin Hamad Al Thani tersebut.

Kekhawatiran itu muncul setelah mereka melihat pidato mantan Perdana Menteri Lebanon (PM) Saad Al Hariri pada Minggu malam (12/11).

Saat itu Hariri menegaskan, Hizbullah harus menepati kesepakatan saat membentuk pemerintahan koalisi. Yaitu, tidak terlibat dalam konflik regional. Jika Hizbullah melanggar, negara-negara Arab bakal menjatuhkan sanksi pada negara yang dipimpin Presiden Michel Aoun tersebut.

’’Wawancara yang dilakukan Hariri (dengan Future TV) mengindikasikan apa yang akan terjadi kepada kami jika tidak ada kompromi (dari Hizbullah). Contohnya sudah ada di Qatar,’’ tegas sumber Reuters di Lebanon.

Qatar sudah merasakan sanksi ekonomi dari Saudi dan sekutu-sekutunya. Namun, negara itu kaya gas alam dan jumlah penduduknya hanya 30 ribu orang sehingga tidak terlalu terpukul. Mereka menggunakan uangnya yang berlimpah untuk membeli kebutuhan dari negara lain.

Tetapi, jika sanksi tersebut diterapkan kepada Lebanon, pukulannya bakal benar-benar terasa. Sebab, negara itu selama ini bergantung sekali dengan bantuan dari negara asing.

’’Satu-satunya tekanan yang dimiliki Saudi adalah ekonomi. Mereka bisa menekan dengan menerapkan sanksi yang dapat melukai (perekonomian),’’ ujar salah seorang pemimpin tertinggi sebuah bank di Lebanon.

Bila dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya, Lebanon yang paling miskin. Lebih dari 400 ribu warganya bekerja di negara-negara Teluk dan mengirimkan uang alias remitansi USD 7 miliar–USD 8 miliar per tahun (Rp 94,8 triliun–Rp 108,4 triliun). Itulah sumber dana yang bisa membuat perekonomian Lebanon berjalan dan pemerintahan berfungsi.

Jika Saudi benar-benar menerapkan sanksi, yang bakal disasar adalah remitansi, larangan penerbangan, visa, dan ekspor. Nasib para pekerja di negara-negara Teluk tersebut juga akan terancam. ’’Itu adalah ancaman yang serius terhadap perekonomian Lebanon yang sudah buruk. Jika mereka menghentikan transfer remitansi, itu bakal menjadi bencana,’’ ungkap salah seorang pejabat senior Lebanon.

Peluang diterapkannya sanksi tersebut cukup besar, kecuali Saudi mendapat keinginannya. Yakni, Hizbullah menjauhi Iran dan tidak lagi ikut campur dengan urusan regional. Namun, hal itu tentu tidak mudah.

Berbagai faksi di Lebanon sudah biasa menerima bantuan dari negara asing. Sunni disokong Saudi serta Hizbullah dan Syiah dibantu Iran. Mereka menawarkan janji-janji agar bantuan mengucur. Hizbullah tentu saja sudah berjanji setia terhadap Iran.

Suntikan dana Iran membuat Hizbullah berkembang pesat. Bahkan, beberapa menilai Hizbullah adalah negara di dalam negara. Pasukan bersenjata mereka jauh lebih kuat daripada pasukan Lebanon. Sejak Hariri meluncurkan pidato terakhirnya, belum ada petinggi Hizbullah yang buka suara.

Analis asal Lebanon, Sarkis Naoum, mengungkapkan bahwa tampaknya Saudi ingin Hariri kembali ke Lebanon dan menekan Presiden Aoun untuk membuka dialog dengan Hizbullah. Kini bola panas berada di tangan Hizbullah dan sekutu-sekutunya.

Meski berasal dari Faksi Kristiani, Aoun adalah pendukung Hizbullah dan lebih condong ke Iran. ’’Mereka harus mengambil keputusan yang bisa membuat Saudi puas. Jika memutuskan untuk menjatuhkan sanksi, Saudi akan melakukannya,’’ tegas Naoum.

Bagi Saudi, mundurnya Hizbullah dari medan perang sangat penting. Perang di Yaman tidak bisa dimenangkan Saudi karena pemberontak Houthi dibantu Hizbullah. Mereka bahkan menguasai sebagian besar wilayah Yaman.

Di Syria, Hizbullah bersama Iran, Rusia, dan Presiden Bashar Al Assad jauh lebih berkuasa ketimbang pasukan koalisi pimpinan AS dan oposisi yang didukung Saudi. Hizbullah menjadi kepanjangan tangan Iran. Eksistensi Hizbullah mengancam perang dominasi kekuasaan antara Saudi dan Iran.

Sementara itu, Aoun mencuit di akun Twitter-nya bahwa Kuwait mendukung usahanya untuk menyelesaikan konflik. Kuwait juga mengakui dan memberikan dukungan atas kedaulatan Lebanon. Meski menjadi sekutu Saudi, Kuwait kerap bersikap netral. Begitu pun saat blokade pada Qatar dijatuhkan, Kuwait lebih memilih menjadi mediator.

Menteri Luar Negeri Lebanon Gebran Bassil kini berkeliling Eropa untuk mencari dukungan diplomatik dan memaparkan kondisi negaranya. Dia kemarin (14/11) mendarat di Belgia dan setelahnya menuju Prancis.

Di pihak lain, Iran berharap Hariri tetap menjadi PM Lebanon. Itulah yang diungkapkan Ali Akbar Velayati, penasihat senior untuk pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Velayati juga menampik tudingan jika petinggi Future Movement itu meminta Iran berhenti ikut campur dalam urusan Lebanon dalam pertemuan terakhir mereka di Beirut Jumat (3/11).

Hariri malah menawarkan diri untuk menjadi mediator hubungan diplomatik Saudi dan Iran. Kedua negara putus hubungan diplomatik pada Januari 2016 gara-gara Saudi menghukum mati ulama Syiah. (*)

(Reuters/AP/sha/c14/any)

Sponsored Content

loading...
 TOP