Jumat, 24 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Tim Roda Gila yang Menghasilkan Energi dari Lindasan Ban-Ban Truk

| editor : 

Roda Gila

TELITI: Para anggota tim roda gila. (Chandra Satwika/Jawa Pos)

Berbagai alternatif energi terbarukan terus digaungkan. Salah satunya, energi kinetik yang selama ini pemanfaatannya belum maksimal. Tujuh orang berhasil membuat model alat konversi energi tersebut dari truk BBM yang melintas.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

RODA truk silih berganti menggilas lempengan besi dengan aksen garis hitam-kuning itu. Besi tersebut mencuat ke atas. Saat truk melintas, lempengan besi itu menutup. Begitu roda lewat, lempengan kembali naik. Proses tersebut terus berulang saat ada truk yang lewat.

Di bawah lempengan besi yang mencuat ke atas, terlihat jelas dua pegas yang membuat lempengan itu naik-turun saat ada kendaraan yang melintas di atasnya. Lengkap dengan beberapa rangkaian roda dan kabel. Nama alat tersebut, Kinetic Flywheel Conversion (KFC). Alat itu mengubah energi kinetik dari kendaran yang melintas ke energi listrik. Prinsip kerjanya sangat sederhana, mirip mesin jahit manual. Saat pedal mesin jahit diinjak, roda berputar dan menggerakkan mesin jahit.

Demikian pula KFC. Saat truk tangki melintas, gaya dorongan ke bawah dari lempeng akan menggerakkan sebuah roda besi berdiameter 30 centimeter. Lalu, roda besi tersebut akan menggerakkan dinamo listrik yang yang dihubungkan oleh sebuah rantai. Listrik yang dihasilkan akan ditampung di baterai. Energi yang tersimpan itu digunakan sebagai sumber listrik baru yang ramah lingkungan.

Saat ini KFC terpasang di area Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina Surabaya. Persisnya, 30 meter dari gate in truk tangki. Di TBBM, tiap hari lebih dari 200 truk melintas. Satu truk bisa sampai dua kali kembali untuk mengisi BBM. Artinya, ada sekitar 400 truk yang masuk ke area TBBM. Nah, daripada truk hanya keluar-masuk begitu saja, tercetuslah ide untuk memanfaatkan hal tersebut. Kombinasi laju dan beban truk akan jadi sumber energi yang pas dan ramah lingkungan.

Ide itu tercetus dari tujuh pekerja TBBM Pertamina Surabaya. Salah satunya, Wahyu Nugroho yang juga kepala divisi penerimaan dan penimbunan BBM. Dia yang pertama menggagas. Ide awal datang dari banyaknya volume truk yang melintas. Ditambah lagi, TBBM masih ketergantungan listrik dari PLN. ’’Nilai pengeluaran listrik di TBBM juga cukup besar, mencapai Rp 330 juta per bulan,’’ ujar Wahyu yang juga ketua proyek KFC tersebut.

Sementara itu, penerapan energi terbarukan baru menggunakan sel surya. Itu pun penggunaannya sangat terbatas. Energi yang dihasilkan juga kecil. Berangkat dari masalah tersebut, dia mengumpulkan enam orang lainnya. Mereka memiliki latar belakang keilmuan dan bidang pekerjaan yang berbeda-beda. Mulai ahli elektronika, mekanik, hingga bidang yang mengurusi lalu lintas kendaraan.

Tim tersebut diberi nama Project Collaboration (PC) Prove Roda Gila. Anggotanya adalah Yerry dari divisi penyaluran BBM, Kiki Jovan dari divisi planning maintenance service, Danafia dari divisi electric engineer, Wahyu Prayogo dari divisi quality dan quantity BBM, Rio Erang Prabowo dari divisi armada mobil tangki, serta Ismail dari terminal facility. Mereka pun mempunyai semboyan yang unik. Yakni, ’’Energiku saka banmu (dari rodamu).’’

Setelah terbentuk, Tim Roda Gila mulai menggodok pemikiran mereka. Yaitu, cara mengubah energi kinetik tersebut jadi energi listrik yang bisa berproduksi secara kontinyu. Pada Januari 2017 tercetuslah gagasan untuk membuat KFC. Detail engineering design (DED) mulai dibuat.

Setiap anggota memiliki peran. Mulai membuat rangkaian listrik dan rangkaian mekanik hingga menghitung energi dan efisiensi listrik yang dihasilkan. Setelah DED selesai, proses produksi mulai dilakukan.

Proses pembuatan pun dilakukan oleh Tim Roda Gila. Maklum saja, latar belakang pendidikan sebagai orang teknik membuat semuanya bisa dilakukan sendiri. Mulai membuat gir khusus hingga rangkanya. Pengelasan dan bubut besi juga dilakukan sendiri.

Alat tersebut ditempatkan dalam sebuah rangka besi baja. Panjangnya 5 meter, lebar 60 sentimeter, dan tinggi 1 meter. Dalam rangka itu, ada dua pegas, tabung udara kapasitas 5 bar, air motor (motor yang digerakkan oleh tekanan angin), dinamo listrik, dan rangkaian roda gerigi.

Energi listrik berasal dari dua sumber yang berbeda. Pertama, dari gaya kinetik yang dihasilkan melalui naik-turun pegas. Gerakan tersebut memutar dinamo listrik.

Kedua, berasal dari angin. Selain berfungsi untuk naik-turun lempengan besi, pegas memompa udara ke dalam tabung dengan panjang 1,5 meter. Saat tabung penuh, secara otomatis, udara keluar dan memutar air motor. Air motor itu kemudian memutar dinamo listrik dan menghasilkan listrik.

Pada Juni 2017 KFC mulai diuji coba di lapangan. Alat tersebut ditanam di sebuah bak beton. Tujuannya, alat itu tidak bergeser saat dilewati truk. Untuk berat kendaraan yang melintas, ada aturannya. Yakni, minimal 6 ton. Kecepatan laju maksimal 10 kilometer per jam. Untuk tahap awal, yang boleh melintas hanya truk dengan tangki kosong. Sebab, rangka desain masih menggunakan besi biasa. Ia belum didesain untuk menerima beban lebih dari 6 ton.

Di TBBM ada empat jenis truk yang melintas. Tiap truk yang melintas menghasilkan besaran daya listrik yang berbeda. Sekali melintas, truk tangki 16 ribu liter dengan 10 ban menghasilkan daya 176 watt. Truk 24 ribu liter dengan 14 roda menghasilkan daya 266 watt.

Lalu, truk 32 ribu liter dengan 18 ban menghasilkan 306 watt. Truk 40 ribu liter dengan 22 ban menghasilkan 354 watt.

Rata-rata per bulan seluruh truk yang melintas menghasilkan daya hingga 12.800 ribu kWh. ’’Dengan hasil segitu, ada penghematan Rp 13 juta untuk listrik tiap bulan,’’ tutur Danafi, panggilan Danafia. Listrik sebesar itu bisa menerangi seluruh pompa pengisian TBBM. Termasuk lampu pagar TBBM.

Danafi menyatakan, daya yang dihasilkan bisa lebih besar daripada sekarang. Namun, baterai yang terpasang sekarang masih terbatas. ’’Rencananya, kami tambah baterai untuk meningkatkan kapasitasnya,’’ katanya.

Selama proses pengujian, KFC mengalami banyak modifikasi daripada desain awal. Salah satunya, desain penggerak roda utama KFC. Sebelumnya, roda digerakkan besi bergirigi. ’’Kalau menggunakan gerigi besi, jadi cepat tumpul. Itu sering macet,” ucap Wahyu.

Kini konsepnya diganti dengan meniru cara kerja berputarnya piston. Ada besi yang bisa mendorong dan memutar roda hingga 360 derajat. Itu membuat cara kerja lebih efisien. Gerigi besi juga lebih awet.

Pembuatan satu unit KFC menelan dana hingga Rp 53 juta. Itu sudah termasuk rangkaian baterai dan panel listrik. Wahyu menjelaskan, dalam 4 bulan saja, sudah bisa balik modal dengan penerapan KFC. ’’Penghematan yang dihasilkan juga besar,’’ ujar alumnus Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu.

Kini PC Prove Roda Gila sedang mengajukan KFC untuk diterapkan di seluruh TBBM di Indonesia dan menambah beberapa titik lagi untuk dipasangi KFC. Beberapa di antaranya adalah gate out dan terminal pengisian yang jadi jalur lalu lintas truk.

Tidak mau hanya diterapkan di kandang, Wahyu berharap alat tersebut bisa digunakan di tempat lain. Tempat-tempat yang potensial dipasangi KFC ialah gerbang tol dan gerbang pelabuhan. Dua tempat tersebut memiliki volume kendaraan yang besar. ’’Pasti tenaga listrik yang dihasilkan juga jauh lebih besar,’’ ungkap pria 30 tahun itu.

Namun, untuk diterapkan di jalan tol, alat tersebut harus dimodifikasi lagi. Salah satunya, membuat pegas lebih responsif terhadap beban. Alat sekarang baru bisa bergerak jika ada beban minimal 6 ton. ’’Kalau di jalan tol, kendaraannya beragam. Jadi harus disesuaikan dulu,” tuturnya.

Wahyu berharap alat kreasi dari timnya tersebut bisa bermanfaat. Bukan hanya bagi TBBM, tetapi juga keperluan lain yang membutuhkan teknologi ramah lingkungan. ’’Kami siap membantu jika ada yang ingin menerapkan KFC,’’ jelasnya.

(*/c20/dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP