Senin, 20 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Bisnis

Importer Masih Sulit Tekan Biaya Logistik

| editor : 

Kapal di perairan Selat Madura.

MAHAL: Sejumlah kapal pengangkut peti kemas mengantre di perairan Selat Madura. (FRIZAL/JAWA POS)

JawaPos.com - Importer masih menghadapi tingginya biaya logistik yang diperkirakan berkontribusi 30–36 persen terhadap total biaya operasional.

Ketua Umum Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi) Anton Sihombing menyatakan, tingginya biaya logistik membuat daya saing Indonesia di negara-negara ASEAN berada di posisi keempat untuk parameter logistic performance index (LPI). Indonesia tertinggal dari Singapura, Malaysia, dan Thailand.

’’Meski dwelling time (waktu tunggu di pelabuhan) sudah tercapai seperti waktu yang diinginkan, cost bukannya turun, malah naik,’’ katanya kemarin (13/11).

Karena itu, pihaknya meminta seluruh pengurus Ginsi bekerja sama dengan instansi maupun asosiasi terkait. ’’Misalnya, kami minta tiap ada kenaikan tarif di pelabuhan harus diikutsertakan,’’ imbuh Anton.
Ketua Ginsi DKI Jakarta Subandi menuturkan, kontribusi biaya logistik di Malaysia dan Singapura kurang dari 20 persen. Jika dibandingkan dengan Indonesia, selisihnya signifikan.

Dampak tingginya biaya itu tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga importer. Importer terbebani dengan harga jual barang yang tinggi dan besarnya biaya yang ditanggung, tapi margin yang diperoleh rendah.

’’Kondisi tersebut memburuk jika mengacu pada upaya pemerintah yang sedang mendorong daya beli masyarakat,’’ tuturnya. Potensi barang tidak laku menjadi besar. Pengaruhnya terhadap keberlangsungan usaha cukup signifikan. ’’Sangat mungkin importer gulung tikar,’’ lanjut Subandi.

Komponen yang berpengaruh terhadap tingginya biaya logistik, antara lain, biaya bongkar muat di pelabuhan, uang jaminan untuk pelayaran asing, dan biaya perbaikan kontainer. ’’Ginsi sedang berupaya menghilangkan komponen uang jaminan,’’ paparnya. Uang jaminan itu diberikan importer kepada perusahaan pelayaran. Tujuannya, mengantisipasi klaim kerusakan kontainer.

Sekjen Ginsi Erwin Taufan menambahkan, pengaruh tingginya biaya logistik terhadap kegiatan operasional importer cukup besar. Terutama importer yang mengantongi angka pengenal importer-produsen (API-P). ’’Ketika memutuskan tidak belanja, mereka akan tidur. Nah, yang mengambil untung adalah negara lain yang bea masuknya nol persen,’’ terangnya.

Karena itu, dibutuhkan regulasi keberpihakan yang bisa melindungi industri dalam negeri. ”Impor tidak bisa dilarang, tapi boleh diproteksi,” ucapnya. Dengan demikian, pemerintah harus mendorong industri supaya terus tumbuh. Selain itu, pemerintah perlu menjaga importer produsen agar tidak beralih menjadi importer umum yang sebelumnya hanya mendatangkan barang berupa bahan baku, tapi kini bisa mendatangkan barang jadi. (*)

(res/c18/sof)

Sponsored Content

loading...
 TOP