Senin, 20 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Bisnis

Realistis Tak Capai Target Pertumbuhan Ekonomi

| editor : 

Grafis Pola konsumsi masyarakat

Grafis Pola konsumsi masyarakat (GRAFIS: BAGUS/JAWA POS)

JawaPos.com  – Pemerintah mulai realistis dengan pertumbuhan ekonomi domestik tahun ini. Menjelang tutup tahun, pemerintah hanya berani memprediksi realisasi di kisaran 5,1 persen.

Padahal, sebelumnya pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia 2017 bisa menyentuh angka 5,2 persen.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengaku cukup sulit untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi sesuai dengan target awal. ’’Indikator pembangunan pada 2017 ini, untuk pertumbuhan ekonomi tampaknya masih akan struggling kalau di angka 5,2 persen. Jadi, kebanyakan larinya di angka 5,1 persen,’’ kata Bambang di kantornya kemarin (13/11).

Prediksi tersebut berdasar realisasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan I hingga III tahun ini. Angkanya tidak sampai 5,1 persen. Secara akumulasi, realisasi pertumbuhan ekonomi hingga triwulan ini III hanya 5,03 persen.

Karena itu, Bambang menyatakan bahwa cukup berat menggenjot perekonomian di triwulan IV agar mampu mencapai target 5,2 persen. ’’Artinya, triwulan akhir ini harus tinggi pertumbuhannya, mungkin di atas 5,5 persen. Tapi, itu tampaknya agak berat,’’ jelasnya.

Bambang menguraikan, ekspor, investasi, maupun belanja pemerintah bisa menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi triwulan terakhir. Menurut dia, realisasi pertumbuhan ekspor dan investasi tahun ini cukup menggembirakan. Namun, berbeda halnya dengan belanja pemerintah. Serapannya cenderung rendah, bahkan sempat negatif, di kuartal kedua.

’’Biasanya, serapan belanja pemerintah bisa sampai 6–7 persen kalau melihat polanya. Tahun ini serapan konsumsi pemerintah itu paling tinggi baru 3 persen. Jadi, perkiraan saya bisa tumbuh 5 persen. Mudah-mudahan belanja pemerintah daerah juga bisa meningkat,’’ jelasnya.

Terkait dengan konsumsi masyarakat atau rumah tangga, Bambang mengakui bahwa pertumbuhannya terus melambat. Rendahnya realisasi pertumbuhan konsumsi, khususnya pada triwulan III yang hanya 4,93 persen, dipicu adanya pergeseran momen Lebaran.

’’Ingat, ada faktor Lebaran. Itu sebabnya pakaian dan alas kaki penjualannya lesu. Indonesia kan budayanya itu beli baju baru pada saat Lebaran,’’ ujarnya.

Secara umum, lanjut dia, pelemahan konsumsi disebabkan adanya shifting atau pergeseran jenis konsumsi masyarakat. Berdasar jenis barang, terjadi penurunan untuk konsumsi makanan dan minuman serta barang kebutuhan pokok.

Di sisi lain, terjadi peningkatan konsumsi terhadap jasa seperti kesehatan, pendidikan, transportasi, dan leisure. ’’Ada pergeseran dari sifat konsumsi yang biasanya barang ke jasa. Jadi, ada indikasi sedikit perubahan dari sekadar konsumsi basic beralih ke konsumsi jasa. Ini terkait dengan meningkatnya kelompok menengah ke atas,’’ ulas Bambang.

Dia mencontohkan, dulu orang lebih suka menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan besar. Apalagi, mereka bisa belanja kebutuhan pokok sekaligus makan bersama keluarga. Namun, saat ini orang lebih memilih berbelanja kebutuhan pokok di minimarket ketimbang supermarket.

Selain itu, orang lebih suka menghabiskan waktu liburan dengan mengunjungi tempat wisata. ’’Dulu, ketika ingin leisure, perginya mungkin ke Hypermart. Nah, sekarang kalau weekend leisure-nya tidak harus belanja, tapi ke tempat wisata. Sehingga, meningkatnya wisatawan dalam negeri itu juga merupakan bukti perubahan pola konsumsi dari barang ke jasa,’’ katanya.

Secara terpisah, pengamat ekonomi INDEF Bhima Yudhistira menuturkan, pergeseran konsumsi dari barang ke jasa sebenarnya sudah lama terjadi. Hal itu disebut sebagai gejala deindustrialisasi, yakni porsi industri manufaktur yang memproduksi barang terhadap PDB terus turun.

Pada 2001, porsi industri terhadap PDB berada di angka 29 persen. Sementara itu, per triwulan III 2017, porsinya di bawah 20 persen. Di sisi lain, sektor jasa terus naik. ’’Artinya, pemerintah sudah lama membiarkan pergeseran dari konsumsi barang ke jasa. Jadi, agak lucu kalau sekarang dianggap sebagai faktor penyebab lemahnya pertumbuhan ekonomi. Tentu pergeseran tidak terjadi tiba-tiba,’’ ujarnya.

Untuk 2017, kata dia, faktor utama penyebab ekonomi stagnan adalah daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang anjlok. ’’Sebagian besar akibat salah kebijakan pemerintah seperti pencabutan subsidi listrik 900 VA dan pajak yang makin agresif,’’ jelas Bima kepada koran ini kemarin. (*)

(ken/c19/fal)

Sponsored Content

loading...
 TOP