Sabtu, 25 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Di Balik Reuni 25 Tahun Loedroek Tjap Toegoe Pahlawan

| editor : 

Cak Lontong

REUNI: Cak Lontong (kanan) tampil bersama Loedroek Tjap Toegoe Pahlawan. (Galih Cokro/Jawa Pos)

Nama mereka, Loedroek Tjap Toegoe Pahlawan (LTTP), pernah menghangatkan pentas-pentas anak-anak muda, khususnya para mahasiswa, sekitar seperempat abad silam. Pada Sabtu (11/11), mereka kembali pulang ke ’’kampung halaman’’ mereka, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

SALMAN MUHIDDIN, Surabaya

SEJATINYA enam pentolan LTTP generasi pertama bisa main bareng di acara Dies Natalis Ke-60 Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada Sabtu (11/11). Namun, Dargombes tidak bisa tampil bersama Agus Lengki, Jackie Rahmansyah, Darmo, Agus Basman, dan Cak Lontong alias Lies Hartono yang datang jauh-jauh dari luar kota. Padahal, Dargombes-lah yang membuat naskah dan mengonsep pertunjukan tersebut.

Sayang sekali. Padahal, panggung di Taman Alumni ITS itu begitu sempurna untuk reuni ke-25 tahun LTTP. Acara reuni tersebut dilakukan di kampus kelahiran mereka. Ada lebih dari 20 ribu penonton yang sebagian besar merupakan mahasiswa ITS. Penonton membeludak hingga di luar pagar. Kapan lagi ada kesempatan seperti itu?

But show must go on. Pertunjukan tetap berlanjut meski tanpa Dargombes.

Di tenda LTTP, di belakang panggung, para pemain ludruk sibuk berdandan pada pukul 20.30. Para lelaki itu berdandan maksimal. Pakai bedak tebal layaknya ibu-ibu mau kondangan. Sebab, 15 menit lagi pertunjukan dimulai.

Akhirnya, lantunan lagu-lagu pelesetan yang dimainkan band LTTP terdengar. Lagu hiphop dan rock mancanegara dipadupadankan dengan lagu Rek Ayo Rek Mlaku-Mlaku nang Tunjungan dan Ayam Den Lapeh.

Pertunjukan pembuka tersebut menjadi pertanda ludruk segera dimulai. Para pemain masih terlihat bersiap-siap. Cak Lontong mondar-mandir di belakang panggung. ’’Topiku endi (di mana, Red)?’’ tanya Cak Lontong kepada para kru.

Belangkon yang seharusnya dia pakai hilang entah ke mana. Karena pertunjukan segera dimulai, alumnus SMAN 5 Surabaya itu mengambil belangkon yang dipakai seorang kru. Begitu belangkon disahut, dia lari ke panggung.

Begitu Cak Lontong muncul di panggung, riuh tepuk tangan menggemuruh. Rasa kangen penonton menggelora. Maklum, sangat jarang bisa melihat Cak Lontong main ludruk lagi. Wajahnya memang masih sering muncul di layar televisi, mengisi acara komedi. Tetapi bukan ludruk.

Alkisah, Cak Lontong bersama tiga murid datang berguru kepada seorang kiai di atas bukit. Mereka ingin mencari ilmu biar sukses. Cak Lontong menjadi murid paling senior dan tiba paling awal. Tiga junior lainnya adalah Bagus Wibowo, Andik Zainal Arifin, dan Wasis Din Brodin. Nama terakhir itu menggantikan peran yang seharusnya dimainkan Dargombes.

Karena ludruk kali ini bercerita soal pencarian ilmu, mereka mulai melontarkan guyonan mengenai jurusan teknik sipil yang mengundang mereka. Bagus menanyai Andik tentang macam-macam profesi. Apa sebutan ahli gitar? Andik dengan mudah menjawab: gitaris.

Pemain keyboard? ’Keyboris,’’ sahut Andik membuat pemain lain protes. ’’Awakmu iki niat ngelawak opo pancen gak ngerti? (Kamu ini niat melawak atau memang tidak tahu, Red),’’ sahut Cak Lontong sambil mendorong Andik.

Bagus melanjutkan pertanyaannya. ’’Kalau ahli teknik sipil apa sebutannya?’’ tanya Bagus. Andik tertegun. Namun, penonton tersenyum penuh arti. Terutama yang berusaha menebak-nebak jawabannya.

Cak Lontong, rupanya, tahu jawabannya. Maklum, Cak Lontong memang dikenal punya karakter tidak pernah salah. Karakter itu melekat karena dia sering memerankan karakter raja atau lurah yang tidak bisa disalahkan. Seluruh jawabannya pasti benar dengan pembenaran versi diri sendiri.

Bagus mengulangi pertanyaannya. Cak Lontong pun menjawab dengan lugas. ’’Nonmiliter! Lho iya kalau sipil berarti enggak ikut militer,’’ ucapnya disambut protes murid lainnya. Tetapi, tetap saja Cak Lontong ngeyel bahwa jawabannya benar.

Alkisah, sang kiai dalam ludruk tersebut akhirnya memberi keempat muridnya pusaka. Andik mendapat jas dan diminta pergi ke Jakarta. Jas itu akan membuatnya menjadi politikus kaya raya. Namun, karena penggunaannya salah, dia malah menjadi koruptor. Bagus memperoleh baju Superman. Kebal, bisa miber (terbang).

Cak Lontong juga diminta pergi ke Jakarta dengan membawa pusaka kopiah. Tutup kepala yang menjadi ciri khasnya saat bergabung dengan LTTP tersebut terbukti membuat namanya sukses menjadi pelawak di Jakarta. Din Brodin hanya dapat selembar kain biru. ’’Kanca-kancaku oleh pusaka sakti. Kok aku mek oleh mbal-gombal (teman-temanku dapat pusaka sakti. Kok saya cuma dapat kain lap, Red),’’ keluhnya kepada kiai dengan logat kental Madura.

Kiai Darmo, sang guru, menjelaskan bahwa kain itu bisa menyelamatkan banyak orang. Din Brodin diminta tidak protes dan pulang ke Surabaya. Tugasnya adalah menolong warga Putat Jaya yang kesusahan setelah lokalisasi Dolly ditutup.

Di set kedua, para pemain LTTP generasi pertama lainnya muncul. Agus Lengki muncul sebagai mucikari, Jackie Rahmansyah sebagai pemilik warung, dan Agus Basman sebagai orang Belanda. Agus Basman datang mencari kain biru. Kain tersebut ternyata berasal dari bendera Belanda yang dirobek arek-arek Suroboyo di Hotel Yamato, kini bernama Hotel Majapahit. Jika kain itu dipegang Belanda, waktu bakal kembali ke zaman penjajahan. Belanda menguasai lagi Indonesia.

Din Brodin yang pindah ke Dolly tidak mau menyerahkan kain biru tersebut. Dia diminta para murid-murid seperguruannya untuk menjaga pusaka itu. Sempat terjadi tembak-tembakan. Karena para murid sudah memegang pusaka, kulit mereka tidak bisa tertembus peluru.

Namun, saat itu Cak Lontong tergeletak. Teman-temannya bertanya mengapa dia mati. Padahal, di cerita sebenarnya tidak ada yang mati. ’’Enak mati. Biar enggak ngomong banyak-banyak,’’ ujar pria kelahiran Magetan, 47 tahun silam, tersebut, lalu diminta hidup lagi.

Maklum, Cak Lontong tidak ikut latihan sama sekali. Seluruh ucapan yang dia lontarkan merupakan hasil mengarang. Dia tidak bisa mengikuti latihan, bahkan geladi bersih. Ke mana jalan cerita? Dia juga tidak tahu. Kematangannya sebagai komedian membuatnya tetap bisa menyatu dengan cerita.

Dalam cerita, Belanda membawa prajurit Reog Ganongan untuk menyerang warga Surabaya. Namun, Reog Ganongan yang asli datang membela. Pertempuran sengit terjadi. Pemain Ganongan yang asli memakai topeng. Cak Lontong yang tidak tahu jalan cerita ikut membantu para pemain Ganongan memukul dan menendang. Kisah itu pun diakhiri dengan kemenangan Indonesia.

Akhirnya, di pengujung pentas, para pemain bergembira bersama di belakang panggung. Pemain LTTP dari enam generasi berfoto bersama. Maklum, seiring dengan berjalannya waktu, para pemain keluar masuk. Hanya Dargombes yang terus bertahan di LTTP.

Saat itu kostum kaus putih berbalut rompi hitam sudah dilepas Cak Lontong. Kaus itu sudah basah kuyup bermandi keringat. Dia berganti baju jersey Persebaya. ’’Sebenarnya saya ya kangen sama anak-anak. Sudah berapa puluh tahun enggak main bareng,’’ katanya.

Cak Lontong menerangkan, dirinya hadir karena agenda reuni LTTP ini berbarengan dengan ulang tahun kampus ITS. Kesempatan seperti itu tidak datang dua kali. Karena itu, dia menyempatkan hadir di tengah-tengah jadwal padatnya.

Saat ditanya tentang keberadaan Dargombes, Cak Lontong malah menyalahkannya. ’’Lha yo, Gombes yang mengawali, dia sendiri yang mengakhiri,’’ canda alumnus Teknik Elektro ITS angkatan 1989 tersebut.

Dargombes sebenarnya juga berada di ITS. Dia punya acara sendiri di teknik mesin. Keesokan hari setelah penampilan itu, Jawa Pos menemui Dargombes di taman depan Sentra Ikan Bulak (SIB). Sore itu dia memiliki jadwal manggung lagi. Kali ini hanya dengan Andik dan Bagus. Bukan ludruk. Melainkan dagelan.

Sebelum tampil, lelaki yang membuka usaha kafe di daerah Rungkut tersebut bercerita bahwa dirinya tidak hadir karena jadwal yang bertumpuk. Din Brodin yang bukan dari LTTP pun didatangkan untuk menggantikan posisinya. Untungnya, pelawak dengan ciri khas kumis tebal itu mampu menjalankan tugas meski hanya berlatih pada pekan terakhir.

Karakter yang diperankan Din Brodin memegang peranan penting. Ibarat sebuah pesawat, Dargombes menyiapkan peran tersebut sebagai pilotnya. Namun, sang pilot harus diganti saat pesawat hendak take off.

Kini keinginan Dargombes adalah reuni kembali. Dia masih penasaran karena tidak bisa ikut. Dia bermimpi seluruh koleganya bisa main satu panggung lagi di pertunjukan tunggal dengan persiapan lebih matang.

Ya, pertunjukan tunggal. Tidak ada penampil lainnya. Pada pertunjukan kemarin, LTTP tampil di sela-sela pertunjukan musik dari ITS, stand-up comedy, dan penampilan Raisa.

Variety show ala LTTP yang ditampilkan pada malam minggu lalu harus diulang lagi. Ludruk yang dikolaborasikan dengan kesenian lainnya itu sukses mengocok perut para mahasiswa. Ada sentuhan-sentuhan modern seperti band yang membawakan lagu-lagu mancanegara yang dikolaborasikan dengan lagu-lagu daerah. Tari remo, kidung, dan hingga kesenian reog juga ditampilkan.

Dargombes merasa pertunjukan ludruk 20 tahun lalu tidak bisa ditampilkan lagi saat ini. Namun, zaman sudah berbeda. Jika para seniman ludruk tidak mau mengeksplorasi pertunjukan, kids zaman now pasti ogah menonton. Semoga keinginan itu terwujud pada reuni ke-26 tahun depan.

(*/c14/dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP