Senin, 20 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Mencermati Tuntutan Legalitas Pernikahan Sesama Jenis di Australia

| editor : 

Ilustrasi simbol LGBTI

Ilustrasi simbol LGBTI (Pixabay)

JawaPos.com - Love is love dilengkapi dengan hashtag di awal begitulah yang acapkali saya temui di tembok-tembok di area Victoria, Australia.

Slogan #loveislove dengan warna pelangi ini banyak digemborkan oleh para pejuang marriage equality. Para kaum LGBTI (Lesbian, Gay, Bisexual, Trans, and Intersex) di Australia menuntut pemerintah untuk mengesahkan undang-undang yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Apa kamu setuju?

Equality (kesetaraan) dan freedom (kebebasan) adalah dua hal yang mereka perjuangkan. Mereka berpendapat bahwa setiap manusia memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidup mereka terlepas dari orientasi seksual mereka.

Dikutip dari www.humanrights.gov.au jumlah komunitas LGBTI di Australia diperkirakan sekitar 11 persen dan pada 2011 tercatat ada sekitar 6.300 anak dengan orang tua sesama jenis. Kebanyakan kaum LGBTI menyembunyikan identitasnya karena banyaknya kekerasan juga diskriminasi yang menimpa kaum minoritas ini. Banyak pelecehan yang dilakukan baik secara verbal misalnya lewat graffiti dan tulisan-tulisan mau pun kekerasan fisik.

Topik tentang LGBTI sendiri memang sedikit tabu untuk dijadikan buah bibir di kalangan orang Timur termasuk orang Indonesia. Namun, saya berpendapat bahwa kuliah di luar negeri tidak semata mata untuk menimba ilmu tentang bidang yang kita tekuni tetapi juga belajar tentang knowledge of the world.

Atau singkatnya, pengetahuan umum yang penting sekali untuk mengasah intelegensi sosial kita. Saya berpandangan bahwa critical scholars hendaknya memperkaya sudut pandang juga lebih open-minded dalam mengkaji isu isi yang sudah mengglobal, salah satunya tentang marriage equality.

Marriage equality sendiri memang sudah menjadi pembincangan hangat di seluruh penjuru Australia, termasuk Melbourne. Bahkan ada badan advokasi sukarela bernama Australian Marriage Equality (AME) yang dibentuk pada 2004 yang berupaya untuk mendukung disahkannya pernikahan sesama jenis.

AME sendiri dibentuk sebelum Parlemen Federal Australia memperbaiki Undang-Undang tentang pernikahan di Australia atau Marriage Act 1961 sehingga pernikahan pasangan sesama jenis dapat dilegalkan.

Menanggapi isu tentang pernikahan sesama jenis ini di Australia sedang diadakan voting mengenai setuju tidaknya undang-undang tersebut disahkan. Voting tersebut sudah dibuka sejak September lalu dan akan ditutup pada November 2017 mendatang.

Sudah lebih dari dua pertiga warga Australia yang melakukan voting terhadap marriage equality. Mereka berbendapat bahwa setiap pasangan yang saling mencintai diberikan hak untuk menikah secara legal dan agar pasangan LGBTI tidak mendapatkan diskrimknasi di tengah masyarakat.

Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull menyatakan keoptimisannya terhadap disahkannya pernikahan sesama jenis melalui “yes” vote-nya terhadap isu tersebut.

Pengalaman yang saya rasakan memang masyarakat di Melbourne begitu terbuka dalam menerima kaum LGBTI, bahkan di kampus saya Monash University. Ketika orientasi mahasiswa ada hal yang unik menurut saya. Kegiatan orientasi waktu itu adalah pameran klub-klub yang ada di Monash. Saya heran bukan main ketika melihat klub mahasiswa teknik khusus LGBTI.

Jadi memang perkumpulan untuk lesbian dan gay digelar secara terang terangan dan mereka juga tidak merasa malu kalau orientasi seksual mereka berbeda dengan orang pada umumnya. Kebetulan saya punya teman Melbournian (sebutan bagi orang Melbourne), dia menanyakan pandangan saya terhadap kaum LGBTI.

Saya bilang itu hak mereka dan hidup itu pilihan. Saya juga tidak keberatan punya teman LGBTI tapi bukan berarti saya mendukung mereka. Saya hanya menghargai apa yang sudah mereka pilih, tandas saya.

Ditulis oleh,

Nama: Kiki Fauziah
Master of TESOL, Monash University, Australia
PPI Australia (ppidunia.org)

(tia/ce1/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP