Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
Hukum & Kriminal

IPW Sebut Pembakaran Polres Dharmasraya Jadi Modus Baru Teroris

| editor : 

Polres Dharmasraya

Suasana Polres Dharmasraya saat terbakar, Minggu (12/11) dini hari. (Istimewa)

JawaPos.com - Kasus pembakaran Polres Dharmasraya diduga dilakukan oleh kelompok teroris. Pasalnya, sejumlah barang bukti mengarah pada aksi teroris yakni surat perintah jihad.

Serangan kali ini jauh berbeda dengan serangan sebelumnya. Karena di serangan sebelumnya, teroris kebanyakan menyasar anggota dan melukainya.

Neta S Pane selaku Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) mengatakan, penyerangan terhadap Polres Dharmasraya adalah modus baru dalam dunia terorisme di Indonesia.

“Sebab kedua pelaku yang diduga sebagai teroris berhasil membakar kantor polisi atau Polres. Selama ini aksi penyerangan teroris terhadap institusi Polri lebih kepada anggotan kepolisian,” kata dia kepada JawaPos.com, Minggu (12/11).

Pada aksi sebelumnya, kata dia, pelaku lebih sering menembak, melukai, dan aksi bom bunuh diri. Kalaupun ada fasilitas Polri yang diserang lebih kepada aksi penembakan dari jauh.

Polres Dharmasraya

Terduga pelaku pembakaran Polres Dharmasraya ditembak mati. (Istimewa)

“Namun dalam kasus Polres Dharmasraya, teroris melakukan aksi pembakaran. Artinya para teroris semakin berani melakukan perang terbuka dan jarak dekat dgn anggota kepolisian,” sambung dia.

Bagaimana pun, lanjut dia, sikap nekat para teroris ini patut dicermati dan diwaspadai Polri agar anggotanya maupun fasilitasnya tidak terus menerus menjadi bulan-bulanan teroris.

“Perang terbuka dan jarak dekat yang dilakukan teroris kepada jajaran kepolisian belakangan ini kerap terjadi. Setelah serangan bom kampung melayu yang menewaskan sejumlah polisi, para teroris melakukan serangan ke Polda Sumut yang menyebabkan satu polisi tewas,” terang dia.

Dalam serangan teroris, menurut waktu penyerangannya hampir sama antara serangan di Polda Sumut dan Polres Dharmasraya. “Teroris melakukan serangan di tengah malam menjelang pagi,” sambung dia.

Dia menambahkan, dari kasus itu ada dua yang harus menjadi perhatian Polri agar bisa mempersempit ruang gerak teroris.

“Pertama, kasus Dharmasraya dan Polda Sumut menunjukkan bahwa jajaran kepolisian tidak boleh lengah, terutama saat tengah malam dan dini hari. Dua serangan di Sumut dan Dharmasraya menunjukkan bahwa serangan terjadi saat jam rawan dan anggota terjebak ngantuk yang hebat,” paparnya.

Kedua, kata dia, kasus di Sumut dan Dharmasraya menunjukkan tanpa bom teroris tetap bisa beraksi. Dengan senjata apa adanya para teroris tetap bisa melakukan perlawanan dan menyerang polisi.

“Selain itu kasus Dharmasraya menunjukkan bahwa dalam melakukan serangan para teroris tidak hanya terfokus di kota besar, kini mereka (teroris) juga mengincar wilayah pedalaman. Fenomena ini perlu diantisipasi Polri agar teror tidak kian menyebar,” pungkas dia.

(elf/JPC)

Alur Cerita Berita

Sponsored Content

loading...
 TOP