Senin, 20 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Events

Mengenal KKB Papua dan Dua Kampung Tempat Penyanderaan 1.300 Warga

| editor : 

kelompok kriminal bersenjata, kelompok bersenjata papua, penyekapan warga papua, KKB papua,

Kapolda Papua Irjen Pol Drs Boy Rafli Amar dan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI George E Supit menyalami anggota TNI yang tergabung dalam Operasi Satgas Terpadu Penanggunalan KKB, Senin (6/11) (Mayer C Sarioa/Radar Timika)

JawaPos.com – Kelompok kriminal bersenjata (KKB) bukan cerita kemarin sore. Sudah lama mereka beroperasi meneror warga di Kampung Banti dan Kimbely. Mereka memalak warga lokal maupun pendatang di dua kampung itu.

Sebagaimana dilaporkan Radar Timika (Jawa Pos Group) yang pernah meliput di kawasan tersebut, Banti dan Kimbely adalah dua kampung yang mengapit sebuah sungai. Aliran air itu menjadi tempat pembuangan aktivitas tambang PT Freeport Indonesia.

Waa Banti, nama asli Kampung Banti, dihuni warga asli. Di sana Freeport membangun sejumlah fasilitas publik. Mulai sekolah sampai rumah sakit. 

kelompok kriminal bersenjata, kelompok bersenjata papua, penyekapan warga papua, KKB papua,

Lokasi penyekapan dari pencitraan satelit Google, Distrik Tembagapura (garis merah), Kimbely (kuning) dan Kampung Banti (lingkaran biru). Warga disandera oleh KKB Papua (Google Maps)

Mayoritas penghuni Kimbely adalah pendatang. Suku pendatang yang tinggal di sana antara lain adalah Bugis, Makassar, Toraja, dan Kei. Banti dan Kimbely cukup dekat dengan Tembagapura, hanya 5 kilometer.

Namun, karena jalan yang berbatu, perjalanan bisa membutuhkan waktu sepuluh menit dengan menggunakan mobil off-road. Mobil biasa tidak bisa dipergunakan di sana.

Mayoritas warga lokal mendulang emas di sungai yang berhulu di tambang Freeport. Aliran air di sana lumayan banyak mengandung emas. Warga pendatang, sebagian juga mendulang emas, terutama orang Kei dari Maluku.

Sedangkan orang Bugis, Makassar, dan Toraja lebih banyak berdagang. Mulai sembako, bahan bakar, sampai baju. Mereka berda­gang di kios-kios. 

Nah, kondisi itu membuat aktivitas ekonomi Kimbely lebih hidup meski warganya lebih sedikit. Warga lokal harus pergi ke Kimbely untuk membeli kebutuhan pokok. Banti dan Kimbely hanya dipisahkan jembatan.

Bagaimana orang pendatang bisa mendominasi bisnis di Banti dan Kimbely? Bisa jadi karena mereka dekat dengan aparat. Tembagapura saja sebenarnya adalah daerah yang terisolasi.

Untuk sampai ke sana, dari Timika, orang hanya bisa menggu­nakan bus Freeport atau kendaraan aparat. Otomatis, barang-barang yang diperdagangkan warga pendatang di Banti dan Kimbely juga masuk melalui dua angkutan itu. 

Jarak Timika menuju Tembagapura sekitar 38 mil atau 61 km. Sepanjang Timika menuju Tembagapura, ada tiga checkpoint yang harus dilewati. Checkpoint Gorong-Gorong (mil 27), checkpoint bandara (mil 28), dan checkpoint Kuala Kencana (mil 32). Sebagai catatan, satuan mil diukur dari bibir pantai. Tembagapura sendiri berada pada mil 66. 

Jalan dari Timika menuju Tembagapura sangat berat. Berbatu dan naik turun. Meski hanya 61 km, perjalanan bisa memakan waktu tiga jam. Kendaraan tidak bisa melaju karena mayoritas menggunakan gigi 1. 

KKB sudah lama menghantui warga. Baik lokal maupun pendatang. Awal bulan lalu seorang warga pendatang diperkosa KKB. Ketika itu suami perempuan pendatang tersebut sedang meninggalkan rumah untuk membeli bahan bakar yang selanjutnya dia jual eceran.

Maunya KKB datang untuk minta uang. Namun, karena mendapati sang perempuan seorang diri di rumah, KKB lantas memerkosanya. 

Korban bersama suami sudah melapor ke polisi di Tembagapura. Namun, sampai saat ini belum ada perkembangan apa pun. Melihat kejadian itu, sepertinya Polri yang di-back up TNI harus lebih tegas untuk mengakhiri drama penyekapan dan penyanderaan saat ini.

(*/c9/ang)

Sponsored Content

loading...
 TOP