Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
For Her

Abdul Azis, Idola Baru Para Bonita Ini Nervous Lihat Kekompakan Bonek

| editor : 

Pemain Persebaya Abdul Azis

MIMPI MASA KECIL: Menjadi pemain Persebaya adalah dream comes true buat Abdul Azis. Sejak kecil dia sudah mengidolakan tim ini. (ARYA DHITYA/JAWA POS)

Awal musim lalu, Persebaya Surabaya mendatangkan beberapa amunisi baru. Salah satu sosok yang cukup mencuri perhatian –terutama di kalangan Bonita alias Bonek wanita– adalah Abdul Azis. Abis ganteng, cyin!

Lobi apartemen mes Persebaya di kawasan Surabaya Barat terasa lengang siang itu. Rendi Irwan dkk memang sedang tidak memiliki jadwal latihan. Abdul Azis keluar dari lift.

Mengenakan kemeja kotak-kotak, jins, dan sepatu Nike Primo Court hitam, bek Persebaya itu tidak tampak seperti pemain bola. Kelihatan seperti kids jaman now lah.

Pemain Persebaya Abdul Azis

MUDA: Abdul Azis. (ARYA DHITYA/JAWA POS)

’’Halo, maaf lama nunggu,’’ ucap cowok 24 tahun tersebut menyapa. Dari logatnya saat berbicara, sudah sangat ketahuan bahwa Azis bukan asli arek Suroboyo. Dia lahir dan besar di Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Di tepi kolam renang apartemen yang sejuk, mengalirlah cerita perjalanan Azis sejak masa bermain di sekolah sepak bola (SSB) hingga membela klub legendaris Surabaya.

Bagi Azis, Persebaya bukan hanya klub besar pertama yang diperkuatnya, tetapi juga klub profesional pertama! Sebelumnya, dia memang hanya bermain di klub amatir. ’’Ini langkah yang sangat besar. Soalnya, sejak kecil memang bercita-cita jadi pemain sepak bola profesional,’’ ungkap pemain yang akrab dipanggil Odong oleh teman-temannya tersebut.

Azis terjun ke dunia sepak bola sejak duduk di bangku kelas IV SD. Dia bergabung di sebuah SSB. Di tempat tersebut, Azis mengenal dasar-dasar sepak bola. Sayangnya, sekolah itu kemudian bubar. Azis sempat rehat dari berlatih sepak bola. Baru setelah masuk SMA, dia bergabung dengan sebuah klub amatir. ’’Seminggu latihan tiga kali,’’ kenang cowok kelahiran Makassar, 22 Juli 1993, tersebut.

Pada September 2016, Azis dipercaya memperkuat tim Sulawesi Selatan di PON XIX/2016 Jawa Barat. Sulsel menempati posisi runner-up setelah kalah dari tuan rumah Jawa Barat. Meski gagal juara, permainan Azis dilirik pelatih Persebaya saat itu, Iwan Setiawan. Dia bersama rekan di tim PON Sulsel, Siswanto, diundang untuk seleksi. Keduanya sama-sama lolos dan resmi berkostum Green Force –sebutan Persebaya– sejak Februari.

Bisa membela Persebaya merupakan mimpi yang menjadi nyata. Sebab, Azis sudah lama mengidolakan Persebaya. ’’Sejak kecil, saya suka nonton di TV ketika Persebaya main. Waktu itu saya suka karena mereka tim besar dan suporternya luar biasa,’’ jelas dia.

Azis merasakan sendiri solidnya Bonek saat Persebaya bertanding melawan PSIM Jogjakarta pada Agustus lalu. Puluhan ribu Bonek memberikan suntikan semangat dari tribun Gelora Bung Tomo. Azis mengakui sempat nervous. ’’Saking luar biasanya sampai nggak konsen main saat itu. Tercengang melihat Bonek sebanyak itu,’’ kata Azis.

Sebelum mes Persebaya pindah ke apartemen, Azis tinggal di Wisma Persebaya yang lokasinya tidak jauh dari Gelora 10 Nopember. Di tempat itu, dia mulai menjalin kedekatan dengan pemain lain serta Bonek. ’’Ngumpul-ngumpul aja gitu biar makin akrab,’’ ujar pemain bertinggi badan 168 cm tersebut.

Sejak bergabung dengan skuad Green Force, berarti Azis menetap di Surabaya sekitar sembilan bulan. Dia merasa betah. Sebab, orang-orang yang ditemuinya cukup baik dan seru. Di antara semua pemain Persebaya, dia paling akrab dengan Muhammad Hidayat yang berasal dari Bontang, Kalimantan Timur. Sama-sama berasal dari luar Pulau Jawa, Azis dan Hidayat sering hang out bareng. ’’Paling ke mal aja sama kadang main ke Gelora 10 Nopember,’’ tutur Azis.

Azis menuturkan, tidak ada pemain Persebaya yang sombong. Semua kompak dan tidak segan saling mengajari. Namun, dia masih sering tidak mengerti jika ada pemain yang berbicara dengan bahasa Suroboyoan. Dia hanya memahami satu kalimat yang sering mereka ucapkan. Apa itu? ’’Mangan mbayar dewe-dewe,’’ celetuk Azis, lalu tertawa lepas. (*)

(adn/c14/na)

Sponsored Content

loading...
 TOP