Senin, 20 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Sepakat Bubarkan Parlemen Catalunya

| editor : 

Catalunya,  catalunya Merdeka

MENGAMBANG: Stiker bertulis demokrasi tertempel di atas bendera Catalunya dan Spanyol. (REUTERS/Ivan Alvarado)

JawaPos.com - Perdana Menteri (PM) Spanyol Mariano Rajoy segera mengakhiri kekuasaan Carles Puigdemont di Catalunya.

Kemarin (20/10) pemimpin 62 tahun tersebut memenangi dukungan oposisi untuk membubarkan parlemen Catalunya. Pemilihan umum (pemilu) untuk membentuk pemerintahan baru di Catalunya bakal berlangsung pada Januari.

”Keterangan yang lebih terperinci akan kami publikasikan setelah rapat darurat dengan kabinet Spanyol besok (hari ini, Red),” kata Inigo Mendez de Vigo, juru bicara PM Rajoy, dalam jumpa pers mingguan di Kota Madrid. Hari ini (21/10) Rajoy memimpin rapat kabinet. Satu-satunya topik yang dibahas adalah kemerdekaan Catalunya dan kekerasan hati Puigdemont yang tetap ngotot minta berunding.

Pemilu Catalunya, menurut Vigo, akan menjadi cara yang paling masuk akal dan tidak melanggar konstitusi untuk menghentikan ambisi sebagian besar Catalan untuk merdeka. Terutama Puigdemont yang pada Kamis (19/10) mengancam bakal mendeklarasikan kemerdekaan Catalunya. Sebab, hasil referendum 1 Oktober memang memberikan kemenangan kepada kubu si alias ”ya” yang menghendaki kemerdekaan.

Hari ini Rajoy mengaktifkan pasal 155 yang konsekuensi terbesarnya adalah pencabutan hak otonomi Catalunya. Penerapan pasal 155 untuk menyelesaikan konflik politik internal itu bakal menjadi yang pertama di Spanyol dalam waktu empat dekade terakhir. Semula Partai Sosialis yang menjadi kubu oposisi dalam pemerintahan Rajoy menentang rencana tersebut. Namun, mereka berubah pikiran kemarin.

”Tujuan pengaktifan pasal tersebut ada dua. Yakni, mempertahankan keutuhan bangsa dan penegakan aturan,” kata Rajoy di sela pertemuan Uni Eropa (UE) di Kota Brussel, Belgia. Kemarin krisis Catalunya dan Spanyol memang tidak menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut. Tapi, di luar ruangan, para pemimpin UE riuh membahas kemerdekaan Catalunya.

Sebelumnya Mahkamah Konstitusi Spanyol menetapkan bahwa hasil referendum Catalunya tidak sah. Madrid lantas mendesak Catalunya membatalkannya. Namun, Puigdemont bergeming. Dia menganggap referendum itu sebagai mandat Catalan yang harus diembannya. Padahal, dalam referendum yang hasilnya 90 persen peserta memilih si itu, angka kehadiran pemilih hanya 43 persen.

Krisis Catalunya dan Spanyol membuat masyarakat resah. Mereka yang tidak mendukung kemerdekaan Catalunya memilih berdiam diri di rumah. Sebab, ada ratusan ribu, bahkan jutaan, Catalan yang turun ke jalan menuntut kemerdekaan. Untuk menghindari bentrokan, mereka yang tidak menginginkan Catalunya merdeka terpaksa mengunci diri di dalam rumah.

Selain warga sipil, para pebisnis Spanyol pun resah. Sejak referendum 1 Oktober melahirkan kekisruhan di Catalunya, para pebisnis memindahkan markasnya ke wilayah lain. Beberapa di antaranya adalah bank.

Karena itu, Catalan panik. Kemarin sebagian besar warga menarik uang dari bank. ”Ini cara kami memprotes keputusan tak bijaksana pihak bank,” kata seorang aktivis Crida Democracia, organisasi pro kemerdekaan Catalunya. (*)

(AP/Reuters/hep/c10/any)

Sponsored Content

loading...
 TOP