Senin, 20 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Menikmati Macet Sepeda di Wageningen, Belanda

| editor : 

sepeda, belanda, bersepeda di Wageningen

Suasana kemacetan sepeda di Utrecht (bicycledutch.files.wordpress.com)

KEMACETAN kendaraan bermotor masih menjadi masalah besar yang terus dicari solusinya di berbagai negara. Termasuk, di Indonesia. Pemerintah telah lama memutar otak menemukan solusi terbaik dengan melakukan berbagai kebijakan inovatif seperti perbaikan sarana transportasi umum dan pembatasan kendaraan bermotor.

Sayangnya, sejauh ini, hal yang diharapkan tak berjalan semulus itu. Bahkan, jumlah kendaraan bermotor di beberapa kota di Indonesia justru melonjak tajam. Jika di Jakarta--terutama pada jam-jam sibuk--jalanan akan penuh dengan sepeda motor dan mobil. Fenomena mirip, terjadi di Belanda.

Di Belanda juga sering terjadi kemacetan. Namun, jangan dibayangkan kalau di negeri kincir angin ini macetnya bikin emosi karena asap kendaraan bermotor. Sebab, yang terjadi bukanlah kemacetan kendaraan bermotor, melainkan kemacetan sepeda. Ya, sepeda!

Potret kemacetan sepeda yang terjadi di kampus Wageningen

Potret kemacetan sepeda yang terjadi di kampus Wageningen (bicycledutch.files.wordpress.com)

Fenomena tak lumrah itu hanya terjadi di Belanda dan tidak ditemukan di belahan bumi lainnya. Lalu, bagaimana bisa hal tersebut terjadi? Bagi warga Belanda, sepeda memang merupakan alat transportasi primadona. Dengan jumlah sepeda yang melebihi jumlah penduduknya, negeri bunga tulip bahkan dinobatkan sebagai negara dengan pesepeda terbanyak di dunia.

Di Amsterdam saja, jumlah pengguna sepeda naik mencapai 57 persen dan 43 persen di antaranya menggunakan sepeda untuk bekerja. Secara umum, banyak warga yang memilih bersepeda dari satu tempat ke tempat lain. Tidak hanya untuk pergi ke tempat-tempat dekat, bahkan sepeda juga digunakan untuk pergi ke tempat yang jaraknya cukup jauh.

Contoh nyata terjadi di lingkungan sehari-hari saya. Kebetulan, saya memiliki beberapa teman kampus yang tinggal di kota lain yang berjarak kurang lebih 10 km dari kampus saya di Wageningen, Belanda. Tak tanggung-tanggung, beberapa di antara mereka menggunakan sepeda untuk pulang-pergi ke kampus dari Senin hingga Jumat. Sesuatu yang wow bagi kita, bukan?

Memang, saya pribadi mengakui, bersepeda di negara kecil ini sangat nyaman. Selain karena topografi Belanda yang relatif datar, ada berbagai faktor lain yang menyebabkan budaya bersepeda mendarah daging di sini. Pertama, tersedianya infrastruktur yang mendukung pengguna sepeda.

Setiap kota di Belanda menyediakan jalur sepeda di samping kanan-kiri jalur kendaraan bermotor. Bahkan, di desa paling terpencil sekalipun, jalur-jalur sepeda ini tetap dibangun. Di sepanjang kanal-kanal Amsterdam misalnya, pemerintah lebih memilih membangun jalan untuk sepeda daripada jalan untuk kendaraan bermotor.

Rambu-rambu dan lampu merah khusus untuk pesepeda juga tersedia di jalanan Belanda. Faktor pendorong lain adalah biaya transportasi di Belanda terkenal tidak murah. Bayangkan, untuk sekali naik bus umum saja kita bisa dikenakan tarif 4 euro (sekitar Rp 60 ribu) bahkan untuk rute pendek sekalipun.

Hal ini mendorong lebih banyak orang untuk bersepeda. Selain kedua faktor tersebut, ada hal yang menurut saya lebih penting yaitu sikap (attitude) dari penduduk Belanda itu sendiri. Warga Belanda sangat menghargai pesepeda dan pejalan kaki. Bersepeda merupakan sebuah kebanggaan bagi masyarakat Belanda.

Pesepeda dan pejalan kaki di negara ini lebih didahulukan daripada kendaraan bermotor sehingga jangan heran jika banyak mobil yang rela berhenti demi menunggu kita selesai menyebrang. Dengan demikian, kita dapat bersepeda dengan rasa nyaman dan aman.

Foto yang ditampilkan merupakan potret kemacetan sepeda yang terjadi di kampus saya di Wageningen. Mayoritas mahasiswa di sini dan mungkin di kota-kota lainnya di Belanda memang memiliki sepeda. Mereka akan menggunakannya sebagai alat transportasi utama ke kampus.

Di kampus Wageningen, tempat parkir sepeda yang banyak disediakan hampir selalu penuh. Terutama, di jam-jam padat kuliah. Kadangkala, saya bahkan tidak mendapatkan tempat untuk parkir sepeda sehingga harus mencari tempat kosong yang letaknya jauh dari pintu masuk kampus.

Saat musim gugur seperti saat ini, rata-rata mahasiswa di kampus saya pergi ke kampus sekitar pukul 8 pagi dan pulang sekitar pukul 5 sore. Pada jam-jam tersebut, lalu lintas sepeda sangat padat dan pada momen inilah biasanya terjadi kemacetan sepeda.

Kemacetan ini terjadi terutama saat lampu merah untuk pesepeda berwarna merah sehingga harus menunggu hijau. Pada saat yang sama, datang banyak pesepeda lain dari arah belakang sehingga makin bertumpuk dan menimbulkan kemacetan.

Pemerintah Belanda sendiri sebenarnya tidak hanya tinggal diam. Mereka terus meningkatkan kualitas infrastruktur bagi pesepeda dengan melakukan perbaikan jalan, serta meningkatkan kuantitas melalui pembangunan jalur sepeda dan tempat parkir baru di beberapa wilayah.

Lalu, apa saja implikasi dari fenomena ini? Dengan banyaknya orang yang bersepeda, tentu ada rugi dan untungnya. Kerugiannya adalah kemungkinan terjadinya kemacetan sepeda, namun hal tersebut tentu lebih mudah diatasi karena bentuk sepeda yang jauh lebih ramping dan tidak memakan banyak ruang jalan.

Keuntungannya, dengan banyaknya orang bersepeda, maka emisi karbon ke udara juga dapat dikurangi sehingga sangat berkontribusi menurunkan efek pemanasan global. Selain itu, sepeda juga tidak banyak menimbulkan polusi suara sehingga tingkat kebisingan di suatu kota dapat diminimalisasi.

Keuntungan lain, budaya bersepeda akan menjauhkan warganya dari beberapa penyakit seperti obesitas dan diabetes sehingga tentunya mereka akan hidup lebih sehat. Selain itu, bersepeda juga akan membuat tubuh kita santai (relax) dan bermanfaat untuk mengurangi stress.

Dengan berbagai manfaat yang didapatkan dari bersepeda, kira-kira kapan bersepeda menjadi budaya bagi masyarakat kita? Mungkinkah macet kendaraan bermotor di Indonesia berubah menjadi macet sepeda?

Ditulis oleh:

Rivandi Pranandita Putra

PPI Wageningen, Belanda
MSc Student of Environmental Sciences (MES)
Wageningen University & Research

(PPI/ce1)

Sponsored Content

loading...
 TOP