Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Kegigihan Kapolsek di Sulawesi Tengah Mengevakuasi Warga Suku Terasing

| editor : 

Kapolsek Bunta

BANTU: Kapolsek Bunta Iptu Candra, bermodalkan sebatang kayu untuk menahan beban saat menyeberang sungai. (Polsek Bunta for Luwuk Post/JPG)

Iptu Candra harus memanggul Isak Linggi melewati gunung, hutan, dan sungai selama berjam-jam. Isak mengalami luka bakar sejak Maret lalu dan belum sekali pun tersentuh perawatan medis.

ASNAWI ZIKRI-STEVEN LAGUNI, Banggai

LUKA bakar di kaki kanan pria itu sudah demikian memburuk. Tulang keringnya sampai terlihat. Sementara kulit dan daging pada bagian yang terluka telah pula membusuk.

Tapi, tetap saja tawaran pertolongan dari dua polisi yang mendatangi rumahnya, Iptu Candra dan Aipda Basuki Rahmat Hidayat, tak langsung diterima. Isak Linggi, pria tersebut, bersikukuh untuk dirawat di rumah saja. Menggunakan obat-obatan tradisional.

Candra yang didampingi aparat Desa Doda Bunta, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), butuh waktu sekitar setengah jam untuk memberikan pemahaman kepada Isak dan keluarga. Bahwa biaya pengobatan mereka akan ditanggung pemerintah. ”Barulah kemudian dia bersedia untuk diajak berobat,” ujar Candra yang juga Kapolsek Bunta kepada Luwuk Post (Jawa Pos Group).

Tapi, persoalan tidak lantas selesai di situ. Isak dan keluarga merupakan warga suku terasing, suku Saluan, yang mendiami kawasan sangat terpencil di Dusun Mumpe. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari pusat Desa Doda Bunta. Dengan jalur sangat berat: naik turun gunung, melintasi hutan dan semak, serta menyeberangi sungai.

Itu pula yang membuat luka Isak memburuk selama ini. Sulitnya medan, plus kesulitan ekonomi, membuat luka yang dialami pada Maret lalu itu tak tersentuh perawatan medis.

Sampai kemudian Candra dan anggota Polsek Bunta mendengar kondisinya. Setelah berkoordinasi dengan aparat desa, pemerintah Kecamatan Simpang Raya, serta Dinas Kesehatan dan RSUD Luwuk, berangkatlah Candra dan Basuki yang merupakan babinkamtibmas Doda Bunta serta aparat desa setempat. ”Kami berangkat jam 6 pagi (Senin lalu, 16/10) dari Doda Bunta dan sampai jam 9 pagi di Mumpe,” kata Candra.

Mereka berangkat tanpa membawa pasien. Bagaimana baliknya yang akan melewati rute yang sama? Saat Isak harus dibawa menuju tempat ambulans menunggu di Bunta untuk membawanya ke puskesmas. Padahal, pria 43 tahun tersebut tak mungkin diminta berjalan. Digotong dengan tandu juga sulit dilakukan di medan seberat itu.

Akhirnya Isak didudukkan di atas kursi yang terbuat dari bambu. Lalu diikat. Candra yang secara sukarela menawarkan diri kemudian memanggulnya layaknya tas ransel.


Kapolsek yang terkenal humoris itu hanya bermodal sepotong kayu yang dia pegang. Tujuannya, menahan beban saat menanjak dan menuruni gunung, melewati hutan dan semak belukar, serta menyeberangi sungai.

Bisa dibayangkan betapa sulit dan beratnya. Bergantian memanggulnya juga tak mudah dilakukan. Karena bisa jadi akan memperburuk kondisi Isak jika harus dinaikturunkan. Anggota rombongan lain akhirnya hanya bisa membantu mendorong bokong Iptu Candra saat harus menanjak. Sesekali keluarga dan warga Dusun Mumpe yang ikut mengantar menyemangati melalui canda gurau.

”Candaan mereka itu lebih memberikan semangat buat saya untuk segera tiba di Desa Doda Bunta,” kenang alumnus SPN Karombasan Manado angkatan 1997 yang menyelesaikan sekolah perwira pada 2012 itu.

Setelah menempuh perjalanan tiga jam lebih, akhirnya mereka tiba di tempat mobil ambulans yang telah disiapkan. Dari sana Isak yang didampingi istri dan kedua anak lelakinya langsung dilarikan ke Puskesmas Bunta.

Kegigihan Candra dalam membantu warga itu pun langsung menuai banyak apresiasi. Bukan hanya dari internal kepolisian di jajaran Polres Banggai. Tapi juga masyarakat dan pemerintah Kabupaten Banggai.

Meski tengah berada di Argentina, Bupati Banggai Herwin Yatim tak lupa turut menyampaikan terima kasih. ”Atas nama pribadi dan pimpinan di daerah ini, saya mengucapkan terima kasih kepada Kapolsek Bunta Iptu Candra yang telah membantu dan mengorbankan dirinya untuk mengantarkan warga dari rumah hingga ke Puskesmas Bunta,” kata Herwin seperti dikutip Radar Sulteng (Jawa Pos Group).

Dukungan lain datang dari Kepala Rumah Sakit Umum Daerah Luwuk dr NHD Gunawan dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai Dr dr Anang Otoluwa. Keduanya berjanji memberikan pelayanan prima dan gratis kepada Isak.

Dari Jakarta, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian juga telah memerintah jajaran pimpinan Polda Sulteng memberikan penghargaan kepada Candra. Namun, Kapolda Sulteng Brigjen Rudy Sufahriadi belum bersedia menjelaskan secara detail kapan dan penghargaan apa yang akan diberikan kepada anak buahnya itu. ”Nanti kalau sudah dikabari,” ucapnya.

Meski berterima kasih, Candra mengaku sama sekali tak punya niat mendapatkan apresiasi serta penghargaan saat tergerak menolong Isak. Semata-mata karena ingin warganya tersebut bisa segera mendapatkan perawatan. ”Alhamdulillah, kami masih bisa diberi kesempatan untuk membantu warga yang membutuhkan pertolongan,” tuturnya.

(*/JPG/syn/c9/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP