Senin, 20 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Bisnis

CEO Shopee Chris Feng: Ada Pemain Berbeda di Tiap Segmen

| editor : 

shopee, online shop

MELESAT: CEO Shopee Chris Feng di antara para karyawan di Jakarta. Shopee kini menjadi salah satu marketplace terbesar di Indonesia. (MUHAMAD ALI/JAWA POS)

JawaPos.com - Indonesia kian menjadi pasar yang menggiurkan bagi e-commerce asing. Shopee, e-commerce asal Singapura, menjadi satu dari sekian banyak pemain asing yang berusaha merengkuh pasar Indonesia. Berikut petikan wawancara wartawan Jawa Pos Shabrina Paramacitra dengan CEO Shopee Chris Feng.

Kapan tepatnya Shopee kali pertama masuk ke Indonesia?
Kami masuk ke Indonesia dua tahun lalu, tepatnya November 2015. Indonesia adalah salah satu di antara tujuh negara yang kami masuki. Negara lainnya, antara lain, Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, Vietnam, dan Filipina. Alasan kami ekspansi ke Indonesia, kami melihat Indonesia itu sebagai potensi market terbesar kami. Meskipun kami baru dua tahun di sini, pertumbuhan kami sangat cepat. Di masa depan, kami yakin kami terus tumbuh dan sukses.

Berapa persen kontribusi Indonesia terhadap perkembangan bisnis Shopee?
Kontribusi terhadap penjualannya mencapai 40 persen. Shopee tumbuh pesat di tingkat regional dengan nilai transaksi lebih dari USD 3 miliar. Tingkat pengunduhan aplikasi juga cukup besar, yaitu 50 juta unduhan. Di Indonesia, Shopee diunduh 18 juta kali dengan lebih dari 60 juta pengguna aktif dan 750.000 penjual. Total di tujuh negara, ada lebih dari 3 juta penjual.

Bagaimana karakteristik pasar e-commerce di Indonesia?
Indonesia punya jumlah populasi yang sangat besar. Jadi, pangsa pasarnya sangat besar. Kedua, Indonesia punya banyak pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Banyak juga produk yang dibuat di Indonesia. Kalau dibandingkan dengan di Singapura dan Malaysia, sangat berbeda. Di Indonesia, orang sangat suka bersosialisasi. Pembeli suka chat kepada penjual lebih dulu sebelum mereka memutuskan untuk membeli. Bahkan, setelah beli, kadang mereka masih suka tanya-tanya kepada penjualnya. Indonesia juga negara yang sangat luas dan terdiri atas banyak pulau. Urusan logistik tentu berbeda dengan di Singapura maupun Malaysia.

Menurut Anda apa yang menjadi hambatan industri e-commerce di Indonesia?
Masalah logistik. Namun, kami berharap e-commerce dapat tumbuh lebih cepat. Dengan begitu, akan ada improvement dari waktu ke waktu. Kedua, masalah payment (pembayaran). Tidak banyak orang Indonesia yang punya kartu kredit. Orang masih banyak memilih pembayaran via transfer bank atau bayar di jaringan minimarket yang bisa menerima uang tunai. Namun, lambat laun hal itu akan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Kemudian, walaupun UKM sudah mulai go online, masih banyak UKM yang hanya menjual barangnya secara offline. Masyarakat memang membutuhkan waktu untuk mengerti bagaimana caranya menjual secara online dan menumbuhkan bisnisnya secara online.

Shopee sangat fokus pada penetrasi belanja online via ponsel. Mengapa?
Sure. Orang Indonesia sebenarnya berminat untuk belanja via ponsel. Kami menemukan bahwa orang lebih banyak menatap layar ponsel ketimbang layar PC (personal computer), terutama untuk belanja. Orang tidak mau seharian hanya duduk di satu tempat. Mereka ingin bisa melakukan hal-hal lain sambil menunggu bus atau sambil makan siang. Mereka bisa mencari hal-hal lainnya. Kami melihat tren. Jadi, kami memutuskan untuk membuat persepsi bahwa belanja via ponsel adalah pengalaman yang menyenangkan. Tentu, kami juga punya website yang bisa diakses melalui PC. Namun, itu tidak lebih mudah bagi masyarakat.

Kompetisi di industri e-commerce sangat ketat. Apa keunggulan Shopee dibanding kompetitor?Saya rasa beberapa hal yang kami lakukan secara berbeda adalah kami fokus pada belanja via ponsel. Kedua, kami berinvestasi untuk penjual. Kami memberikan pelatihan kepada para penjual biar mereka bisa menjual dengan lebih baik. Kami juga membangun komunitas lintas negara dan kota supaya mereka bisa saling belajar satu sama lain. Ketiga, kami ingin fokus melayani pembeli. Kami menghabiskan waktu untuk mendesain sistem sehingga kami bisa merekomendasikan produk yang tepat kepada pembeli. Kami juga menawarkan pengiriman gratis sehingga pembeli tidak perlu khawatir soal biaya pengiriman.

Bagaimana Anda melihat dukungan pemerintah kepada e-commerce di Indonesia?
Kami gembira melihat pemerintah Indonesia sudah merilis peta jalan e-commerce. Kami bekerja sama dengan asosiasi dan pemerintah Indonesia untuk menumbuhkan sektor e-commerce. Kami melihat banyak dukungan dari pemerintah untuk e-commerce. Pemerintah bersama asosiasi juga terus mengedukasi pelaku UKM agar mereka go online.

Beberapa kalangan berpendapat tentang mindset ”the winner takes all” bahwa hanya akan ada satu atau dua pemain besar yang menguasai pasar. Bagaimana menurut Anda?
Pasar e-commerce di Indonesia sangat besar. Saya selalu berpikir akan ada pemain yang berbeda di setiap segmen. Well, tentu kami berpikir kami adalah salah satu yang terbesar dan kami terus bertumbuh setiap waktu. Apakah nantinya ada dua atau tiga pemain besar, biarkan pasar yang memutuskan. (*)

(*/c16/sof)

Sponsored Content

loading...
 TOP