Jumat, 24 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

”Dwitunggal” Serka Sumarna-Bripka Hartono, Cermin Kekompakan TNI-Polri

| editor : 

Dwitunggal

SEPERTI SAUDARA: Bripka Hartono (kiri) dan Serka Sumarna di Mabes Polri, Jakarta (13/10). (Ilham Wancoko/Jawa Pos)

Serka Sumarna dan Bripka Hartono merawat kekompakan dengan rutin patroli bersama ke rumah warga untuk mengetahui kondisi terkini mereka. Kapolri menyebut keduanya patut jadi panutan sinergi antara anggota TNI dan Polri.

Ilham Dwi Wancoko, Jakarta

SUDAH hampir dua jam pencuri itu ngendon di plafon SMPN 6 Subang. Di bawahnya, puluhan warga mulai tak sabar. Mereka berusaha melubangi atap. Tapi, Serka Sumarna dan Bripka Hartono langsung mencegah. Sambil juga mencari akal bagaimana caranya agar si pencuri mau menyerah dan turun.

Akhirnya Sumarna yang bertugas sebagai babinsa (bintara pembina desa) Kelurahan Karanganyar, Subang, merayu si maling. Lebih tepatnya menakut-nakuti. ”Turun saja, kalau tidak, massa makin banyak. Kamu bisa dimassa,” teriaknya.

Ternyata efektif. ”Ya, saya turun, tapi jangan dipukuli ya,” ujar pencuri itu sembari mukanya melongok ke bawah hingga terlihat Sumarna dan Hartono yang bertugas sebagai babinkamtibmas (bintara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat) di kelurahan yang sama.

Wajah pencuri tersebut sudah memerah. Keringatnya sebesar butiran jagung. Saat turun dari plafon, tampak badannya bergetar. ”Langsung kami amankan,” ujar Hartono mengenang kejadian pada pertengahan 2016 itu.

Penangkapan tersebut hanyalah salah satu cerita sukses kerja sama harmonis dua bintara TNI dan Polri itu. Di saat hubungan kedua institusi terkadang mengalami friksi, seperti terjadi belakangan terkait senjata, Sumarna, 44, dan Hartono, 35, justru jadi ”dwitunggal” yang bisa mengayomi warga.

Itu pula yang menjadi dasar penganugerahan penghargaan kepada keduanya oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Mabes Polri, Jakarta, Jumat lalu (13/10). Sumarna yang berdinas di Kodim 0605/Subang dan telah setahun menjadi babinsa di Karanganyar mendapatkan pin emas. Sedangkan Hartono, anggota Polsekta Subang dan telah tiga tahun menjadi babinkamtibmas Karanganyar, dianugerahi promosi mengikuti pendidikan sekolah inspektur polisi.

Tito bahkan menyebut sinergi antara Sumarna dan Hartono patut menjadi panutan bagi semua anggota TNI dan Polri. Dia menyebut penangkapan pencurian di SMPN 6 Subang itu sebagai contoh bahwa soliditas melahirkan banyak keberhasilan. ”Padahal, itu sebenarnya sangat berisiko seandainya si penjahat membawa senjata. Tapi ternyata bisa diringkus dalam hitungan detik,” ucapnya.

Menurut keduanya, soliditas tersebut terbangun dari rutinitas keseharian. Hampir tiap pagi mereka berpatroli bersama. ”Kalau patroli kami itu tidak muter-muter jalan. Tapi mendatangi rumah-rumah warga, sekadar untuk mengetahui kondisinya,” jelas Hartono.

Mereka bergantian mengunjungi rumah warga. Berbincang tentang kondisi terkini kelurahan atau keluhan yang mungkin dirasakan warga. Selain itu, meski berbeda institusi, keduanya memiliki meja kerja yang berdampingan di Polsekta Subang. Itu yang membuat kekompakan keduanya kian terajut secara intens. Jadilah mereka juga selalu berbagi informasi tentang aksi yang meresahkan masyarakat. Baik ketika berada maupun tidak berada dalam satu tempat. Kapan pun, di mana pun.

Informasi tentang pencurian di SMPN 6 Subang itu, misalnya, diterima Hartono dari si penjaga sekolah sekitar pukul 01.30 WIB. Dia langsung mengontak Sumarna sebelum berangkat menuju TKP (tempat kejadian perkara). ”Begitu saya sampai, Pak Sumarna tak lama kemudian juga tiba,” kata Hartono.

Berkat patroli rutin bareng, mereka juga pernah menggagalkan pencurian uang dari sebuah mobil yang diparkir. ”Pagi itu kami tengah berbincang di rumah Pak Suroso setelah selesai patroli. Tiba-tiba terdengar alarm mobil,” kata Sumarna.

Sontak, keduanya langsung berlari ke luar rumah pensiunan pegawai negeri sipil tersebut. Sekitar beberapa ratus meter dari tempat mereka berdiri, tampak mobil Avanza yang suara alarmnya kian kencang. ”Saya lari bareng Bripka Hartono menuju mobil,” ucapnya.

Begitu mendekati mobil, kaca depannya ternyata sudah pecah. Seorang lelaki tampak lari membawa sebuah tas. Ada pula lelaki lain yang keluar dari sebuah bangunan yang tampak kebingungan. ”Hartono langsung lari mengejar lelaki yang lari itu. Saya mengikutinya,” terang Sumarna.

Melihat anggota TNI dan Polri mengejarnya, si lelaki pencuri itu mempercepat lari. Tapi, setelah 500 meter, Sumarna dan Hartono berhasil menarik tasnya. Si maling pun terjatuh. Dalam sekejap pencuri tersebut dapat diringkus. ”Kami bawa pencuri itu langsung ke polsek,” ujarnya sembari menyebut khawatir ada masyarakat yang emosional.

Ternyata, tas yang berhasil mereka selamatkan berisi uang Rp 75 juta. Uang tersebut rencananya digunakan untuk merenovasi gedung Sekolah Luas Biasa Negeri (SLBN) 6. Panji yang mengambil uang itu dari bank mampir dulu ke rumah rekannya, tak jauh dari kediaman Suroso. ”Itu uang negara untuk renovasi sekolah ternyata,” kata Hartono.

Selain Sumarna dan Hartono, ada 42 anggota Polri dan satu anggota TNI lain yang mendapatkan penghargaan dari Kapolri. Ada yang karena berhasil menggagalkan penyelundupan 1 ton sabu-sabu beberapa waktu lalu. Ada pula yang berkat keberhasilan lain dalam bidang pertanian, sosial, dan ekonomi.

Di tengah acara, Sumarna dan Hartono sempat diajak maju ke panggung oleh Kapolri. ”Kalian ini seperti apa? Teman, rekan, atau apa?” tanya Tito. Jawaban keduanya menggambarkan mengapa mereka bisa awet menjaga kekompakan. ”Kami ini keluarga,” ucap keduanya singkat. Tepuk tangan pun langsung menggema di ruang penganugerahan penghargaan.

(*/c9/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP