Rabu, 18 Oct 2017
Logo JawaPos.com
Travelling

Menyusuri Denyut Nadi Kali Porong (13-habis)

Disambut Tepuk Tangan, Bangga Rasanya

Laporan Jose Rizal dan Allex Qomarulla

| editor : 

Petambak mengendarai perahu mesin di muara Kali Porong di Desa Kupang, Kecamatan Jabon

BERPACU DENGAN SENJA: Seorang petambak dengan mengendarai perahu mesin membelah muara Kali Porong untuk memantau area pertambakan di Desa Kupang, Kecamatan Jabon. (Allex Qomarullah/Jawa Pos/JawaPos.com)

SETELAH berpamitan dengan Mustofa, kepala Dusun Tanjung Sari, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, yang juga ketua Koperasi Samudera Hijau Satu, kami langsung beranjak. Kembali naik ke perahu yang tadi malam kami parkir di dermaga tambang dusun setempat.

Sabtu (16/9) menjadi hari penutup pelaksanaan ekspedisi. Begitu mesin menyala, perahu melaju perlahan menuju Desa Kedung Pandan. Kami memang tidak mau tergesa-gesa. Ingin benar-benar menikmati sisa dari rangkaian perjalanan empat hari ini.

Selayang pandang ke tepian kali, tampak hamparan urukan tanah. Luas sekali. Kini lahan tersebut menjadi bagian dari proyek besar pemkab. Dengan menggandeng PT Kawasan Industri Sidoarjo (KIS), wilayah itu bakal disulap menjadi Kawasan Industri Jabon (KIJ) dalam beberapa tahun. Total lahan tambak yang dialihfungsikan mencapai 298 hektare. Tersebar di dua desa, yaitu Tambak Kalisogo dan Kedung Pandan.

Sesuai jadwal, kami akan menghadiri acara Deklarasi Cinta Lingkungan di SDN Kedung Pandan II. Acara tersebut sengaja digelar untuk menyambut sekaligus menutup ekspedisi menyusuri Kali Porong.

Sekitar 5 kilometer dari titik berangkat di dermaga tambang Dusun Tanjung Sari, perahu mulai kami giring merapat ke tepian. Lokasi SDN Kedung Pandan II sudah tak jauh. Tinggal menyeberang jalan. Sekitar 200 meter saja.

Dari Hulu ke Hilir

Dari Hulu ke Hilir (Grafis: Bagus/Jawa Pos/JawaPos.com)

Ternyata di halaman SDN itu sudah berdiri tenda. Camat Jabon Agus Sujoko, Kepala SDN Kedung Pandan II Supriono, kepala desa se-Kecamatan Jabon, Kelompok Peduli Lingkungan II Zero Waste Academy, Forum Komunitas Hijau (FKH), karang taruna, guru dan murid SDN Kedung Pandan II, serta teman-teman Jawa Pos sudah menunggu. Tepuk tangan terdengar riuh ketika kami memasuki lokasi acara. Bangga sekali rasanya.

Meskipun seremoni penutupan ekspedisi berlangsung siang itu, sebenarnya kami masih punya beberapa agenda lain. Salah satunya melanjutkan pengukuran kualitas air Kali Porong bersama Andreas Agus Kristanto Nugroho, aktivis lingkungan asal Sidoarjo. Kamis (14/9) dia sempat menemani perjalanan kami. Saat itu kami sudah mengecek kualitas air di hulu Kali Porong. Nah, kali ini sasaran pengukuran adalah sisi timur jembatan eks tol Porong–Gempol. Jembatan tol lama yang tidak lagi berfungsi akibat luapan lumpur Lapindo sejak 2006.

Setiba di lokasi, Andreas kembali mengeluarkan sejumlah peralatan. Salah satunya dissolved oxygen (DO) meter. Lantas mencelupkan ujung alat itu pada aliran sungai dan menunggunya beberapa saat. ”Semakin ke hilir semakin tercemar,” kata peraih gelar sarjana dan magister biologi dari Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair) tersebut sembari geleng-geleng kepala.

Andreas menjelaskan, kadar oksigen di hilir Kali Porong semakin berkurang. Di Kedung Pandan, skornya hanya 5,47. Sedangkan di hulu rata-rata masih menunjuk angka 7,34. Semakin tinggi nilai yang ditunjukkan dalam DO meter, semakin bagus kualitas air tersebut. Nilai yang tinggi menunjukkan kadar oksigen tinggi pada air. Nilai yang rendah mengindikasikan sebaliknya (lihat grafis).

Andreas mengaku bersama kawan-kawannya sudah berkali-kali mengingatkan pemerintah soal kadar pencemaran tersebut. Namun, responsnya tidak pernah optimal. Meski begitu, dia tak putus asa. Tak bosan-bosannya mengajak warga menjalankan pola hidup bersih dan mencintai sungai.

Beli Ikan Segar, Langsung Bakar

KAMIS saling melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Andreas memang tidak ikut bersama kami di perahu. Kebetulan ada acara lain yang harus dia hadiri. Kami sendiri ingin menuntaskan perjalanan berperahu ini sampai muara. Lokasinya tak jauh lagi dari Desa Kedung Pandan.

Sekitar 10 menit berperahu, kami sudah melewati dermaga Tlocor, salah satu spot wisata bahari di Kota Delta. Akhirnya terpampang di depan kami Pulau Sarinah. Pulau seluas 94 hektare yang terbentuk dari endapan lumpur itu menjadi penanda bahwa kami sudah tiba di muara Kali Porong.

Kami harus berhati-hati untuk menuju ke sana. Soalnya, air akan surut menjelang sore. Perahu bakal kandas bila tidak berhati-hati. Kami akhirnya berlabuh di Pulau Sarinah yang menghijau dengan bakau (mangrove). Ratusan burung bangau putih bermain dan terbang dengan bebas.

Beberapa pekerja hilir mudik di sekitar dermaga. Mereka menceritakan, lokasi itu akan dibangun menjadi kawasan wisata. Ada sejumlah fasilitas yang sedang disiapkan. Misalnya menara pengawas, toilet, dan deretan bangunan yang mungkin bakal menjadi kantor.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke dermaga bahari Tlocor. Seorang kenalan sudah menunggu. Namanya Suparto, warga Desa Mlirip Rowo. Dari dia kami membeli ikan tangkapan nelayan di desa yang masuk wilayah Kecamatan Tarik tersebut. Waktu kami intip isi tas kresek itu, alamak! Puluhan ikan segar berukuran besar bertumpuk. Beberapa bahkan masih mangap-mangap alias hidup. Ada jendil, kutuk, bader, dan mujair.

Berhubung perut sudah keroncongan, kami buru-buru mencari warung yang berkenan mengolahnya. Sayang, tak ada warung makan yang buka di sekitar Tlocor. Deretan lapak tampak kosong. Apa boleh buat, kami akhirnya berperahu menuju Desa Tambak Kalisogo di sebelah Tlocor.

Kali ini kami mendapatkan warung yang dirasa pas. Dikelilingi area pertambakan dan berdiri menghadap Kali Porong. Sembari menunggu Syandi, salah seorang penjaga warung, mengolah belasan ikan berukuran besar itu, kami nekat membakar sendiri enam ikan dengan sabut kelapa. ”Kalau jendil dan bader lebih enak digoreng,” tutur Syandi.

Tak sampai setengah jam, semua tersaji di meja makan. Asap mengepulkan aroma khas ikan bakar dan goreng yang sangat sedap. Terima kasih, Tuhan. Kami merasa perjalanan ini benar-benar sempurna.

(*/c9/pri)

Sponsored Content

loading...
 TOP