Kamis, 14 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Finance

BI Dorong Gerakan Non Tunai di Papua

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok.JawaPos.com)

JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) terus mendorong Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) di Papua. Langkah ini dilakukan dalam mendukung kemudahan bertransaksi untuk masyarakat.

Deputi Gubernur BI Sugeng mengungkapkan, sejak 14 Agustus 2014 Bank Indonesia telah mencanangkan GNNT ini sebagai upaya mendorong masyarakat menggunakan sistem dan instrumen pembayaran nontunai dalam transaksi pembayaran.

"Masyarakat dunia telah berangsur-angsur beralih dari komunitas yang didominasi oleh transaksi berbasis uang tunai menjadi nontunai dalam kegiatan ekonominya. Bukan hanya di negara-negara maju, bahkan di negara-negara yang dijuluki negara dunia ketiga seperti di Afrika pun, telah bergerak menuju masyarakat yang bersifat Less Cash Society," kata Sugeng dalam keterangan tertulis, Jumat (13/10).

"Kami sangat mengapresiasi kekompakan dan usaha perbankan dan penerbit instrumen pembayaran nontunai di Provinsi Papua untuk memperkenalkan penggunaan transaksi nontunai. Dan memang diperlukan kegiatan sosialisasi yang masif, sistematis dan terkoordinasi untuk memperkenalkan instrumen pembayaran nontunai di Tanah Papua," tambahnya.

BI memandang hal yang sama juga dibutuhkan oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Dijelaskan Sugeng, apa yang dilakukan oleh BI, OJK, bank dan penerbit di Papua ini patut dicontoh oleh daerah-daerah lain.

"Kami menantang perbankan dan penerbit untuk membantu pemerintah daerah di 29 Kabupaten/Kota di Papua agar dapat segera menerapkan transaksi pembayaran nontunai dalam pengelolaan keuangan daerah, baik dari sisi pendapatan maupun belanja," terangnya.

Dia menjelaskan, ada banyak manfaat yang diberikan oleh suatu Less Cash Society (GNNT). Pertama, adalah kepraktisan dan keamanan dalam bertransaksi. Kedua, secara makroekonomi, efisiensi ekonomi yang dilakukan sangat besar. Sistem perbankan juga dapat menekan biaya pengelolaan kas tunai, sementara Bank sentral dapat menghemat triliunan biaya pencetakan dan pendistribusian uang tunai

Ketiga, pencatatan transaksi yang terjadi secara otomatis dan transparan memudahkan monitoring dan perencanaan dunia usaha maupun perekonomian secara umum. Keempat, sirkulasi uang dalam perekonomian dapat berlangsung secara lebih cepat sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Hal yang tak kalah pentingnya, komunitas masyarakat yang basis transaksinya nontunai, membuka kesempatan bagi seluas-luasnya anggotanya untuk mengakses layanan keuangan yang mungkin selama ini hanya dapat dinikmati oleh kelompok tertentu atau eksklusif," pungkasnya.

(cr4/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP