Kamis, 14 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Sudut Pandang

Menuju Kampus Inventor dan Inovator

Oleh: Asra Al Fauzi*

| editor : 

Inovasi Anak Bangsa

Asra Al Fauzi (Jawa Pos Photo)

SUNGGUH menarik ungkapan Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Graha Pena Surabaya beberapa hari lalu, ketertinggalan Indonesia di berbagai sektor terjadi karena iklim inovasi yang sangat rendah. Akibatnya, roda politik, ekonomi, dan sosial akan stagnan serta cenderung selalu tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara lain.

Menurut Presiden Jokowi, ada beberapa masalah yang menjadi penghambat inovasi. Di antaranya, regulasi yang berbelit, kultur yang berorientasi prosedur, dan dunia pendidikan yang belum siap.

Invention & Innovation
Sering kita rancu dan kadang menganggap sama istilah invention dan innovation. Menurut Art Fry, invention adalah what happens when you translate a thought into a thing. Jadi, suatu proses membuat prototipe tertentu yang bisa mengaplikasikan konsep kita dan membuktikan bahwa itu bisa bekerja.

Model nyata hasil kreasi kita itu akhirnya menjadi invention atau penemuan baru. Sedangkan innovation adalah proses setelah itu, is the act of working through all of the obstacles and problems in the path of turning a creative idea into a business. Jadi, inovasi adalah suatu istilah bagaimana kita menjalankan produk kreatif kita sehingga memberikan keuntungan bagi kita dan masyarakat dengan cara yang unik sehingga bisa melewati tantangan dan hambatan yang ada.

Penemuan baru dan inovasi hampir selalu diawali dengan penemuan masalah, ada istilah necessity is the mother of invention. Tetapi, itu dogma lama yang kadang selalu dipegang oleh para ilmuwan dengan hipotesis penelitiannya. Kadang kita perlu berpikir out of the box dan berlogika lebih simpel atau kadang perlu futuristic thinking yang melawan dogma. Pada 1928, Alexander Flemming kembali ke laboratoriumnya setelah liburan dan menemukan jamur yang tumbuh di cawan petrinya. Sekilas kemungkinan cukup dibersihkan saja, tetapi dia malah memilih memeriksa cawannya di bawah mikroskop.

Pada 1929, dia menulis artikel tentang efek antibiotika terhadap kuman. Sejak saat itu, banyak penemuan antibiotika selanjutnya untuk mengobati penyakit infeksi. Suatu proses invention kecil yang akhirnya membuka inovasi dan mengubah dunia. Tidak perlu fasilitas canggih, data lengkap, atau banyal sumber daya. Hanya perlu imajinasi liar dan menghubungkan teori yang ada dalam pikiran serta melakukannya tanpa ragu.

Mungkin kita tidak pernah tahu tentang obat Viagra, yang sebenarnya penelitian awalnya adalah untuk mengobati penyakit jantung (Angina pectoris), tetapi ternyata terjadi efek samping (ereksi berlebihan) yang tidak diperkirakan. Efek samping selalu berkonotasi negatif dan kegagalan. Tetapi, tim peneliti berimajinasi lain. Terbukti saat ini obat Viagra menjadi salah satu obat dengan penjualan tercepat per tahunnya dan banyak berguna bagi penderita disfungsi seksual. Sebaliknya, kegunaannya untuk kelainan jantung, seperti hipotesis awal, malah tidak terbukti.

Kultur Pendidikan
Invention dan innovation itu membutuhkan proses yang panjang, mulai bermimpi, menggambar ide, observasi, menerjemahkan ide, penemuan konsep, berpikir lebih dalam, hingga proses engineering. Hasil kreasi berupa penemuan baru itu tidak cukup. Proses inovasi selanjutnya adalah bagaimana invention itu memberikan value kepada masyarakat dunia. Proses dinamika itu tentu saja perlu kultur yang mendukung, di level negara tentu masalah regulasi, aturan, dan komitmen politis yang harus diubah.

Tetapi, jiwa inovatif pada generasi muda dibangun dari kultur kampus. Hingga saat ini, mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya perguruan tinggi, masih jauh dari harapan bila dibandingkan dengan negara lain. Di tingkat Asia Tenggara saja kita masih jauh di bawah Singapura, Thailand, maupun Malaysia. Berdasar penilaian terbaru dari QS World University Rankings, kita paling tinggi masih berada di peringkat ke-277 (Universitas Indonesia) dan di Asia peringkat ke-67. Nanyang Technological University (NTU), Singapura, berada di peringkat kesebelas dunia. Salah satu kriteria untuk menentukan reputasi universitas adalah faktor research impact, bagaimana kualitas penelitiannya memengaruhi perkembangan scientific dunia.

Pada 2005, penelitian di Eropa tentang ribuan inventor menunjukkan 50 persen dari penemuan mereka sebenarnya terjadi secara tidak sengaja atau bahkan penemuan yang tidak direncanakan, 34 persen pemegang paten yang bekerja seperti biasa, tetapi tiba-tiba melihat suatu fenomena atau timbul pemikiran baru yang menginspirasi penemuan-nya. Sebanyal 12 persen yang lain melaporkan bahwa penemuannya adalah unexpected byproduct dari penelitiannya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kultur meneliti memang harus membumi dan mengakar dalam kehidupan kampus. Target penelitian bukan hasil akhir atau jumlah penelitian, tetapi open-ended research dengan peneliti yang selalu aktif, menjiwai, dan berkarakter entrepreneur. Kultur entrepreneur pada kampus akan menghasilkan inventor dan inovator, yang selalu tahu akan peluang dan bagaimana melihat fenomena yang terjadi dengan pola futuristic thinking, ide yang muncul bisa menjadi isu yang positif di masa depan.

Kultur inovatif timbul dari diri sendiri, tidak perlu bermimpi great man theory. Tetapi, micro-creativity dari level individu yang harus dibangun dan dipupuk, perlu kultur yang berkarakter dan kondusif, dunia pendidikan dan kultur kampus kita yang harus menjawabnya. (*)

(*) Dokter ahli bedah saraf, dosen Fakultas Kedokteran Unair)

Sponsored Content

loading...
 TOP