Jumat, 20 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Guar Bumi, Tradisi Tukar Makanan Warga Ampel Majalengka

| editor : 

Ratusan masyarakat Ampel Kecamatan Ligung berkumpul dan memanjatkan doa, di lapangan sepak bola dalam kegiatan sedekah bumi.

Ratusan masyarakat Ampel Kecamatan Ligung berkumpul dan memanjatkan doa, di lapangan sepak bola dalam kegiatan sedekah bumi. (Ono Cahyono/Radar Majalengka/JawaPos.com)

JawaPos.com – Ratusan warga Desa Ampel, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka menggelar tradisi guar bumi. Didominasi kaum ibu, mereka berkumpul ke lapangan sepak bola. Mereka membawa nasi tumpeng lengkap dengan lauknya. Kegiatan tersebut dalam rangka menyambut datangnya musim hujan sebelum melakukan aktivitas bercocok tanam.

Kepala Desa Ampel Kecamatan Ligung, Endang Suhenda AMd menuturkan sudah beberapa tahun terakhir masyarakat setempat sering menggelar tradisi guar bumi. Kegiatan terserbut berbeda dari sejumlah desa di wilayah Ligung karena diselenggarakan di lapangan sepak bola.

“Sedekah bumi ini memang hampir sama dengan desa lain di wilayah Ligung. Tetapi tempatnya saja yang berbeda, seperti di balai desa, sawah bengkok, dan di sini di lapangan sepak bola,” kata Endang kepada Radar Majalengka (Jawa Pos Group).

Sebelum dimulai, beberapa tokoh masyarakat bersama pemdes melakukan ritual terlebih dahulu. Mereka memanjatkan doa dan saling bertukar makananan khas sedekah bumi yakni ketupat dan lepet (makanan yang terbuat dari ketan seperti lontong).

“Kemudian makanan tersebut akan ditaruh di atas pintu rumah warga masing-masing. Maksud dan tujuannya adalah untuk memohon berkah sekaligus meminta izin kepada Tuhan yang Maha Esa, sebelum para petani melakukan aktivitas di musim rendengan (hujan),” jelasnya.

Menurutnya, ritual sedekah bumi ini rutin dilakukan masyarakat setiap tahun atau menjelang musim tanam pertama. “Kebetulan ritual guar bumi ini dibagi dua tempat yakni di blok Desa dipusatkan di lapangan sepak bola dan di blok Menur. Kami berharap agar musim tanam yang akan datang para petani diberikan hasil panen yang berlimpah,” imbuhnya.

Salah seorang warga setempat, Suluhudin menambahkan ritual guar bumi pada dasarnya agar semua mahkluk Allah saling menghormati dan menyayangi. Dibuktikan dengan saling tukar makanan satu dengan lainnya. Maka setiap tahun tepatnya di awal musim rendengan sering berkumpul dan doa bersama meminta keselamatan kepada sang pencipta.

“Kegiatan guar bumi ini adalah tradisi dari zaman nenek moyang. Tujuan utamanya mengingatkan kita agar semua orang harus tetap ramah terhadap lingkungan. Sehingga ekosistem di sekitar kita akan tetap terpelihara,” paparnya.

Kegagalan pada panen tahun lalu harus menjadi cermin, khususnya para petani dalam menghadapi musim tanam tahun ini. Sedekah bumi merupakan sebuah ritual perenungan diri bahwa semua manusia berasal dari bumi, dan manusia juga hidup di bumi.

(yuz/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP