Jumat, 20 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Perjuangan Panjang Sarpin, ”Menteri Pendidikan” Suku Badui

| editor : 

Suku Badui

GIGIH: Sarpin melihat hasil karya tenun Badui di Desa Kanekes, Lebak (18/9). Selain mengajari anak-anak Badui baca-tulis, sehari-hari Sarpin bekerja sebagai aparat desa. (Dery Ridwansah/Jawa Pos)

Bertahun-tahun Sarpin mengajarkan aksara dan angka ke anak-anak Badui di tengah larangan adat untuk bersekolah. Tak kendur meski belakangan resistansi menguat.

M. Hilmi Setiawan, Lebak

BEBERAPA kali Sarpin mengajak Jawa Pos berpindah tempat. Pertama di dalam rumah di belakang kantor desa tempatnya bekerja. Terakhir di teras rumah lainnya yang agak jauh. Di semua tempat itu, matanya tak lepas mengawasi tiap sudut. Kalau-kalau ada orang lain yang menguping pembicaraan. ”Saya harus hati-hati ngomongnya. Supaya tidak terjadi intimidasi,” ungkapnya.

Intimidasi? Belakangan, mulai pertengahan Agustus lalu, resistansi terhadap kerja keras bertahun-tahun Sarpin mengajari anak-anak suku Badui baca-tulis memang menguat. Padahal, Sarpin sudah merintis kerja sukarela itu sejak 1998. Di rumahnya di Desa Kanekes, Lebak, Banten. Memakai papan kayu dan arang.

Diawali dengan mengajari anak sulungnya. Sampai bisa menembus 20 anak yang dapat diajaknya belajar di ”sekolah nonformal” Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kencana Ungu di tahun ini. Bahkan, ada beberapa anak didiknya yang melanjutkan pendidikan sampai ke sekolah formal.

Dan itu semua dilakukan kepala seksi pemerintahan Desa Kanekes tersebut saat aturan larangan bersekolah masih diterapkan di kalangan warga Badui. Tak heran jika atas keberaniannya itu, Sarpin sampai dijuluki ”menteri pendidikan” Badui.

Penolakan belakangan –yang juga membuat aturan larangan bersekolah masih awet sampai sekarang– semata-mata didasari kekhawatiran. Orang-orang Kanekes –sebutan lain warga Badui– cemas, jika sudah terdidik, anak-anak mereka akan memilih meninggalkan kampung. Atau bakal mengubah tradisi yang mereka uri-uri selama ini.

Menurut Sarpin, setiap tahun memang ada dua hingga tiga keluarga Badui yang memutuskan keluar dari komunitas. ”Tapi, saya sendiri bisa baca, tulis, dan sekolah kesetaraan sampai sekarang tetap jadi warga Badui. Tidak keluar kampung,” kata Sarpin pertengahan bulan lalu (18/9).

Bagian dapur rumah Sarpin sempat dirusak orang tak dikenal. Sang istri pun meminta pria Badui kelahiran 27 Agustus 1971 itu tak memaksakan diri.

Sarpin lahir dan besar di tengah keluarga Badui Luar. Secara kewilayahan, Badui Luar maupun Badui Dalam berada di dalam Desa Kanekes. Meski berada di Badui Luar yang sedikit lebih longgar aturan adatnya, Sarpin tetap tergolong lambat mengenal huruf dan angka. Baru di usia 15 tahun.

Tapi, komitmennya kuat. Sama sekali tak malu meski baru memulai di usia anak SMP/SMA. Sarpin dibimbing temannya yang bernama Idik. Idik adalah warga Badui, tetapi akhirnya dia dan keluarganya keluar dari komunitas Badui.

Anak pasangan Nasinah dan Saipah itu mengatakan, kedua orang tuanya sempat menolak. Sarpin pun harus sembunyi-sembunyi saat akan berangkat untuk belajar membaca dan menulis. Namun, semangat Sarpin untuk belajar baca dan tulis tidak surut. Sampai akhirnya orang tuanya luluh.

Perubahan sikap itu terjadi karena bapak-ibunya menyadari, kemampuan baca dan tulis sangat dibutuhkan keluarga. ”Sebelum saya bisa baca-tulis, orang tua saya memanggil orang luar Badui untuk membaca surat-surat pajak dan lainnya. Lama-lama dirasa kurang nyaman dan aman,” kenangnya.

Ketika kemudian berkeluarga dan dikaruniai anak, Sarpin bertekad menurunkan ilmu baca-tulisnya ke buah hatinya yang pertama, Mulyono, yang lahir pada 1994. Begitu pula kelak kepada anak keduanya, Marno Sunarya, yang lahir delapan tahun berselang.

Ternyata, anak-anak Badui lainnya juga tertarik. Sekitar 1998, Sarpin membuka rumahnya untuk mereka yang ingin ikut belajar membaca dan menulis. Akhirnya dia sehari-hari mengenalkan huruf A sampai Z kepada anak-anak Badui. Biasanya sekitar pukul 09.00 sampai 10.00 WIB. Sampai kemudian berdiri komunitas Baduy Membaca.

Pada 2010 Sarpin mulai memberanikan diri mengajak anak-anak yang ikut belajar membaca dan menulis masuk PKBM. PKBM adalah lembaga pendidikan nonformal untuk masyarakat. Meskipun begitu, PKBM memiliki akses dengan sekolah formal untuk mendapatkan ijazah kesetaraan.

Memasuki 2015, ada 17 anak Badui yang diajak Sarpin masuk PKBM Kencana Ungu, termasuk anak kedua Sarpin. Tahun ini jumlahnya bertambah menjadi lebih dari 20 anak. Bahkan, ada di antara mereka yang masuk sekolah formal, yakni SDN 2 Bojongmenteng. Sekolah tersebut berada di pintu masuk kawasan suku Badui.

Upaya Sarpin itu semata-mata dilakukan karena dirinya sadar tak mungkin bisa terus sendirian mengajari anak-anak Badui. Di PKBM Kencana Ungu ada sejumlah relawan yang siap membantu. Model pembelajarannya tidak tiap hari. Tapi kian intensif menjelang ujian paket.

Namun, upaya itulah yang kemudian mendapatkan penolakan dari para tokoh adat Badui. Mereka menganggap PKBM sebagai sebuah lembaga pendidikan formal layaknya sekolah pada umumnya. Berkali-kali Sarpin menjelaskan, tetap saja mental.

Pendiri dan pegiat Perkumpulan Literasi Indonesia Wien Muldian menganggap gesekan antara Sarpin dan pemangku adat masih bisa dicarikan jalan. Wien menyarankan agar Sarpin tetap bisa mengakomodasi keinginan para tokoh setempat.

”Menurut saya, kegiatan baca dan tulis Kang Sarpin tidak perlu sampai dipaksakan untuk Badui Dalam. Sebab, masyarakat Badui Dalam memiliki peraturan adat ketat antimodernitas yang dijaga selama ratusan tahun,” tuturnya sembari mengapresiasi yang telah dilakukan Sarpin selama ini.

Sarpin memang tak akan menyerah. Sudah sekian tahun dia melewati berbagai rintangan serta penolakan dan terbukti berhasil. Jadi, dia akan terus berjuang meyakinkan warga Badui. Demi murid-muridnya. Demi mimpi besarnya agar anak-anak Badui tak sekadar bisa baca-tulis. ”Sekarang, tiap kali melihat anak-anak Badui yang bermain di sekitar kantor desa, saya kangen ngajari mereka lagi,” ungkapnya.

(*/c9/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP