Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Bandung-Malang, 10 Owa Jawa Mudik Pakai Kereta Api

| editor : 

Owa Jawa mudik ke habitatnya pakai kereta api.

Owa Jawa mudik ke habitatnya pakai kereta api. (Riana Setiawan/Radar Bandung/JawaPos.com)

JawaPos.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat bersama The Aspinall Foundation berhasil merehabilitasi 10 ekor Owa Jawa. Satwa bernama latin Trachypithecus Auratus itu akan dilepaskan ke habibat asli di Hutan Lindung Kondang Merak, Jawa Timur menggunakan Kereta Api (KA).

Wartawan Radar Bandung (Jawa Pos Group) Asep Rahmat melaporkan, suara pekikan dua troli pengangkut barang keluar dari pintu masuk Selatan Stasiun Kereta Api (KA) Bandung, sekitar pukul 13.00 WIB, Selasa (10/10). Petugas statsiun sibuk menurunkan 10 kandang berukuran masing-masing panjang 80 centimeter, lebar 60 centimeter dengan tinggi 70 centimeter.

Masing-masing kandang memiliki lubang ventilasi disetiap sisinya. Setiap kandang yang berwarna coklat kusam itu didalamnya sudah disediakan tempat kotoran, tempat makanan dan tempat air minum. Dengan kawat teralis berukuran kecil, 10 Owa endemik Jawa Timur itu tiba di Stasiun Bandung dari Pusat Rehabilitasi Primata Jawa di Ciwidey, Kabupaten Bandung.

Binatang itu bakal dipindahkan ke Pusat Rehabilitasi di Coban-Talun, Batu, Malang, Jawa Timur untuk selanjutnya di lepas liarkan di Hutan Lindung Kondang Merak, Jawa Timur.

Satwa endemik Indonesia itu dilindungi oleh undang-undang. Seperti spesies lainnya, Owa Jawa terdiri atas dua spesies yaitu Tracypithecus Auratus auratus dengan wilayah persebarannya di Jawa Timur, Bali, Lombok, Pulau Sempuh dan Nusa Barong dan sub-spisies lainnya yaitu Tracypithecus Auratus Mauritus dengan wilayah persebaran yang terbatas yaitu di Jawa Barat dan Banten.

Cara membedakan Owa Jawa Barat dengan Jawa Timur bisa dengan mudah. Owa Jawa Barat pada umumnya berwarna hitam gelap. Sedangkan Owa Jawa Timur biasanya memiliki pigmen warna orange. Apalagi, jika satwa itu sudah dewasa maka warna pekat orange dibulunya semakin jelas.

Ke 10 Owa khas endemik Jawa Timur itu 6 ekor diantaranya didatangkan dari repatriasi di Kebun Binatang Howletts, Inggris milik Aspinall Foundation yang sebelumnya telah bekerja sama (pertukaran hewan) dalam hal pelestarian satwa langka sejak 2012 silam.

Sedangkan 4 ekor lainya merupakan hasil penegakan hukum yakni 2 ekor dari BKSDA DKI Jakarta dan 2 ekor lagi dari BKSDA Kabupaten Ciamis. Semuanya didatangkan ke Pusat Rehabilitasi Primata Jawa di Ciwidey, Kabupaten Bandung pada awal Januari 2017.

"Sejak didatangkan mereka langsung direhabilitasi dengan suasana alam," ucap Kepala Perawat Satwa The Aspinall Foundation, Sigit Ibrahim, saat ditemui di Stasiun KA Bandung.

Ke-10 Lutung Jawa itu usianya beragam. Mulai dari 3 sampai 5 tahun. Bahkan, satwa paling tua usianya sekitar 13 tahun. Komposisi ke 10-nya meliputi 7 jantan dan 3 betina. Satwa tersebut bakal melakukan perjalanan dari Kota Bandung menuju Malang, kurang lebih 15 jam menggunakan KA beserta surat perjalanan dan berita acara pengiriman.

"Berangkat pukul dari Bandung pukul 16.00 WIB dan tiba sekitar pukul 07.00 WIB di Malang," jelas Sigit.

Selama perjalanan, satwa itu didampingi tim dokter untuk mengatasi tingkat stres. Begitu juga 10 kilogram cadangan makanan berupa sayur-mayur. Sigit mengungkapkan, jika melihat kondisi perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 15 jam, kemungkinan besar kondisi psikologis satwa itu sedikit terguncang. Namun, secara garis besar tidak akan berpengaruh terhadap kondisi alamiah satwa.

"Tidak apa-apa. Bahkan 6 ekor yang didatangkan dari Inggris pun menggunakan KA dan pesawat. Apalagi, selama rehabilitasi semuanya (satwa) dinyatakan sehat dan tidak mengalami gangguan kesehatan apapun," jelas dia.

"Selama rehabilitasi satwa itu sudah menunjukan sifat aslinya di alam liar seperti takut berinteraksi dengan manusia dan suka makanan alami," sambung dia.

Sigit mengaku, pengiriman Owa Jawa itu merupakan salah satu upaya BKSDA Jabar bersama Aspinall Foundation dan BKSDA Jatim dalam menguatkan kembali populasi primata dilindungi yang hampir punah. Sebab, populasi Owa Jawa ini setiap tahunnya terus menurun akibat perburuan liar dan lahan yang semakin sedikit.

"Mudah-mudahan ini menjadi langkah untuk mencegah kepunahnya populasi satawa endemik. Lagi pula, Kebun Binatang Howletts, Inggris pada akhir tahun ini akan kembali menyerahkan beberapa stawa yang hampir punah lainnya," pungkasnya.

(yuz/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP