Senin, 23 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Magma Indonesia, Aplikasi dan Laman untuk Antisipasi Bencana Geologi

| editor : 

Magma Indonesia

TEROBOSAN: Devy Kamil Syahbana (kanan) dan Martanto di Pos Pengamatan Gunung Agung di Rendang, Karangasem (4/10) (Raka Denny/Jawa Pos)

Trio pembuatnya merancang Magma Indonesia untuk mengantisipasi letusan gunung, tanah longsor, gempa bumi, maupun tsunami. Sangat memangkas waktu penyebaran hasil analisis petugas pantau yang amat dibutuhkan masyarakat.

SAHRUL YUNIZAR, Karangasem

MALAM terus beranjak Senin lalu (2/10) itu. Tapi, Martanto tetap terpaku di Pos Pantau Gunung Api Agung. Staf Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tersebut masih sibuk berkutat dengan angka dan data.

Jemarinya cekatan mengolah hasil analisis aktivitas Gunung Agung enam jam belakangan. Dari perangkat komputer di ruang monitor, pria yang akrab dipanggil Anto itu lantas memublikasikan hasil analisis tersebut. Masyarakat pun langsung dapat melihatnya. ”Dulu lama sekali. Sekarang lima menit cukup,” ujar dia ketika berbincang dengan Jawa Pos.

Proses panjang itu bisa dipangkas berkat Magma Indonesia. Aplikasi dan laman resmi mitigasi bencana geologi pertama dari Indonesia yang juga diklaim pertama di dunia.

Anto merancangnya bersama dua rekannya sesama pegawai PVMBG, Devy Kamil Syahbana dan Syarif Abdul Manaf. Untuk saat ini Magma Indonesia baru bisa diunduh di sistem operasi Android. Rencana pengembangan ke iOS tertunda karena ketiga pembuatnya sibuk memantau Gunung Agung di Bali yang saat ini berstatus awas.

Sebelum Magma Indonesia tercipta, hasil analisis petugas pantau gunung api harus melalui banyak tahap untuk sampai ke masyarakat. Dari petugas di lapangan, hasil analisis dikirim dalam bentuk surat elektronik ke PVMBG. Kemudian dikoreksi sebelum dilaporkan kepada kepala Badan Geologi. Setelah ditandatangani, hasil analisis kembali ke PVMBG yang lantas dikirim melalui faksimile kepada pemerintah provinsi.

Selesai? Belum. Untuk sampai ke masyarakat, hasil analisis diturunkan lagi kepada aparat kecamatan, kelurahan atau desa, sampai dusun. Proses panjang itu jelas memakan waktu. Padahal, ada saatnya hasil analisis aktivitas gunung api harus segera diterima masyarakat. Misalnya dalam kondisi darurat seperti yang terjadi di Gunung Agung saat ini. Jika telat mengambil langkah, fatal akibatnya.

Apabila demikian, waktu dan tenaga petugas pantau gunung api terbuang percuma. Saban hari mereka bekerja nyaris tanpa henti, tetap saja hasil analisis yang mereka buat lambat sampai ke masyarakat.

Sebagai salah seorang staf PVMBG, Anto resah mengetahui hal itu. Maka, diam-diam dia mulai merancang laman khusus yang mampu menjadi ruang data bencana geologi. Bukan hanya letusan gunung api, tapi juga gempa bumi, tanah longsor, dan tsunami. Dengan potensi bencana geologi tinggi, pikir Anto, Indonesia wajib punya ruang data tersebut. ”Saat masuk CPNS di PVMBG, saya langsung buat,” ucap dia.

Semula Anto membuatnya hanya untuk kebutuhan sendiri. Dia ingin seluruh hasil analisisnya tersimpan rapi serta dapat dilihat kapan pun dan dari mana pun. Namun, idenya berkembang. Pria kelahiran Probolinggo, Jawa Timur, itu ingin semua hasil analisis dari petugas pantau punya tempat khusus.

Tanpa perintah, secara bertahap Anto membuat laman tersebut. Dia mengerjakan itu di sela tugas pokoknya. Ketika senggang di kantor pusat PVMBG maupun saat bekerja di lapangan. Bahkan, waktu luang saat bertugas di Pos Pantau Gunung Api Agung dia pakai untuk meningkatkan performa laman Magma Indonesia. ”Karena suka-suka buatnya, tidak ada tekanan,” ujar dia. Apalagi setelah PVMBG memberikan dukungan.

Dua tahun lalu Kasubbid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Devy Kamil Syahbana mengajak Anto bekerja sama. Sejak saat itu Anto tahu bahwa Devy punya gagasan serupa dengan dirinya.

Lebih dari itu, mereka pun memiliki visi senada. Yakni menyampaikan hasil analisis aktivitas gunung api secepat-cepatnya. Lantaran kemajuan zaman begitu pesat, mereka sepakat itu wajib dilakukan. Laman Magma Indonesia terus dikembangkan.

Mereka turut menggaet pengamat gunung api yang kini juga bekerja di PVMBG, Syarif Abdul Manaf, untuk membuat aplikasi berbasis Android. Jadilah mereka sebagai trio pengembang Magma Indonesia.

Meski punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, ketiganya berhasil membuat dan menyebar aplikasi tersebut. Terakhir Jawa Pos mengakses Google Play Store Rabu lalu (4/10), Magma Indonesia sudah diunduh 10 ribu akun.

Penilaian terhadap aplikasi yang kali pertama dilempar ke publik awal Februari lalu itu pun baik. Apalagi setelah di-update tiga bulan lalu. Sistem maupun tampilan muka aplikasi tersebut semakin baik.

Berbeda dengan aplikasi milik kebanyakan institusi pemerintah, Magma Indonesia dikembangkan bertiga oleh Anto, Devy, dan Syarif. Tanpa bantuan konsultan, apalagi dari perusahaan swasta. Bahkan, mereka tidak menggunakan anggaran pemerintah. Seluruhnya mereka kerjakan sendiri. ”Dengan sumber daya dan alat yang ada di PVMBG, Badan Geologi, dan Kemen ESDM,” jelas Devy.

Serupa dengan Anto, ketika diwawancarai, Devy juga tengah bertugas di Pos Pantau Gunung Api Agung. Dia bersama timnya datang sejak status Gunung Agung waspada. Dua pekan lebih bertugas memantau aktivitas gunung tertinggi di Bali itu, Devy semakin yakin Magma Indonesia harus terus diperbarui. Baik aplikasi maupun lamannya.

Sebab, tidak hanya penting untuk menjembatani petugas pantau gunung api dengan masyarakat, aplikasi dan laman itu juga penting untuk menunjang berbagai kebutuhan masyarakat. Khususnya yang tinggal di sekitar gunung api. Magma Indonesia bisa menjadi pemandu mereka.

Misalnya ketika status gunung api naik menjadi awas. Masyarakat bisa mengunduh peta kawasan rawan bencana (KRB). Mereka juga boleh mencetak dan memperbanyak peta tersebut untuk kepentingan bersama. ”Tidak perlu minta ke PVMBG atau BNPB,” kata Devy.

Bagi yang sudah memiliki dan terbiasa memakai telepon pintar, Magma Indonesia bisa menjadi petunjuk untuk menjangkau zona aman dari zona bahaya. Petunjuk itu tidak dibuat sembarangan, tapi sudah melalui riset panjang.

Devy bersama timnya juga memakai histori gunung api untuk membuat peta tersebut. Dengan begitu, pemerintah setempat juga bisa menjadikan peta tersebut sebagai dasar sebelum mengevakuasi masyarakat. Lebih dari itu, ke depan Magma Indonesia bisa menjadi acuan pemerintah ketika membuat atau memperbarui rencana tata ruang wilayah (RTRW).

Magma Indonesia bakal terus di-update sehingga bisa memetakan zona aman dan 69 gunung api di Indonesia. Devy juga mengatakan bahwa data yang diunggah PVMBG dalam aplikasi tersebut terus diperbarui.

Mereka tidak hanya membenahi fitur interaksi dengan masyarakat, tapi juga menambah sejumlah informasi seperti sejarah setiap gunung api. Termasuk di antaranya sejarah letusan tiap-tiap gunung api.

Soal tanda bahaya ketika ada gunung api naik status, masyarakat tidak perlu pusing. Dengan Magma Indonesia, mereka pasti mendapat notifikasi setiap kali ada perubahan. Bukan hanya gunung api, peringatan untuk penerbangan pun demikian. ”Sebelumnya tidak ada yang kasih rekomendasi penerbangan dengan dasar aktivitas gunung api,” ungkap Devy.

Pria berperawakan jangkung itu juga menjelaskan, pemberitahuan otomatis bakal muncul begitu terdapat tanda-tanda bencana geologi lainnya. Baik tanah longsor, gempa bumi, maupun tsunami. Tidak heran jika aplikasi tersebut bisa menjadi rujukan penataan wilayah. Juga bagi para pendaki sebelum naik gunung. ”Baiknya mereka tahu kondisi gunung yang akan didaki. Bagaimana statusnya, aman atau tidak,” tutur dia.

Berbagai keunggulan itu turut membawa Magma Indonesia menyingkirkan lebih dari 3.500 inovasi dari kementerian dan lembaga di seluruh Indonesia. Mereka masuk 40 besar kompetisi inovasi informasi pelayanan publik yang diselenggarakan Kemen pan-RB. Pertengahan bulan depan Magma Indonesia diadu lagi dengan beragam inovasi informasi pelayanan publik dari banyak negara.

Trio peracik Magma Indonesia dari PVMBG diundang ke Paris untuk menunjukkan kehebatan buah pikir dan kerja keras mereka kepada dunia. Adalah ajang Edge of Government Innovation Award 2018 yang mengundang mereka.

Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Anto, Devy, dan Syarif. Sekaligus menjadi kesempatan mereka untuk membuktikan lagi, banyak hal di tanah air yang patut dibanggakan. Apalagi, Magma Indonesia disebut-sebut sebagai aplikasi dan laman resmi mitigasi bencana geologi terintegrasi pertama di dunia. ”Memang sudah ada yang lain. Tapi, yang resmi dari pemerintah dan terintegrasi baru Magma Indonesia,” ungkap Devy.

Sayang, Jawa Pos tidak bisa berjumpa dengan Syarif. Sebab, dia tengah bertugas di tempat lain. Namun, Devy dan Anto memastikan, komitmen mereka bertiga kuat.

Dalam waktu dekat, mereka ingin aplikasi Magma Indonesia juga bisa diunduh dan dipakai pengguna iOS. Sehingga bisa menjangkau lebih banyak elemen masyarakat. Tentu saja dengan harapan semakin besar manfaatnya.

(*/c9/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP