Jumat, 20 Oct 2017
Logo JawaPos.com
Lifestyle

Cara Bikin Anak Milenial Bisa Tetap Gaya Pakai Batik

| editor : 

Gerai Batik di Pasaraya Blok M

Gerai Batik di Pasaraya Blok M (Rieska/JawaPos.com)

JawaPos.com - Rasa bangga terhadap kain nusantara harus mulai bangga diciptakan sejak dini. Begitu pula pada generasi milenial yang cenderung terpengaruh dari gaya berbusana budaya barat maupun Asia lainnya. Boleh saja sesekali bergaya dengan kiblat brand atau label luar negeri namun jangan sampai melupakan budaya negeri sendiri salah satunya kain batik.

Pasaraya Blok M sengaja mempersembahkan Tribute to Batik bagi generasi milenial di Hari Batik Nasional, Senin (2/10). Tujuannya untuk menarik para generasi milenial agar tidak menganggap batik sebagai gaya yang kuno atau old fashion.

"Banyak anak muda enggak paham tentang batik. Setiap generasi memang kami harus jemput bola deh gimana sih supaya milenial ini lirik batik. Tentu harus sesuaikan dari segi harga, motif, style, agar mereka benar-benar care," kata CEO Medina Latief, Senin (2/10).

Tentu untuk membuay generasi milenial bangga memakai batik dan dipakai dalam kegiatan sehari-hari bisa dengan pandai melakukan padu padan. Tak hanya pakaian, tetapi dari mulai aksesori seperti kerudung, kalung, gelang, sepatu, atau kipas bisa dengan unsur batik.

"Saat ini kan sudah banyak perusahaan menerapkan harus pakai batik satu hari dalam sepekan kepada karyawan. Menyenangkan sih cowok anak muda sudah mulai pakai batik sehari-hari. Setidaknya mereka punya beberapa batik," ujarnya.

Para perajin dan pengusaha serta desainer didorong untuk lebih kreatif dalam memasukkan unsur batik Solo, Jogjakarta, Cirebon dan lainnya pada fesyen yang digemari anak muda. Misalnya dengan membuat jaket dari batik.

Selain itu Medina mengimbau agar masyarakat lebih menghargai perajin batik dengan memilih batik tulis ataupun batik cap. Sedangkan batik print atau cetak, tentu keluar dari pakem iti sendiri. Sebab batik adalah sebuah teknik atau proses menggoreskan lilin atau malam pada kain.

"Batik tradisi ada dua. Cap sama tulis.
Balik lagi, tentunya batik tulis agak mahal. Range harga batik kami mulai dari Rp 300 ribuan sampai jutaan ya. Tentu jauh berbeda dengan batik print yang tidak melewati proses membatik itu sendiri," paparnya.

(ika/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP