Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Kiprah Barista-Barista Cilik Tanah Air

| editor : 

Barista Cilik

BARISTA CILIK: Queenza Almira Omarxavi menikmati aroma kopi. (Miftakhul Hayat/Jawa Pos)

JawaPos.com- Menikmati segelas kopi spesial makin membudaya. Belajar menjadi penyeduh kopi yang baik menjadi tren. Bahkan, barista-barista cilik hebat kini bermunculan.

-------------

Queenza Almira Omarxavi
Jago The Four-Six Brew
Jemari mungil Almira tampak luwes dengan ketel, pour over, server, dan timbangan di depannya. Rabu lalu (27/9) dia unjuk gigi bagaimana menyeduh kopi. Kopi lintong, kopi dari Sumatera Utara, dengan karakter fruity coba ditaklukkannya.

Barista Cilik

CINTA KOPI: Calysta Helena Theo (kiri) dan Matthew Alonso (kanan). (Radar Semarang-Allex Qomarulla/Jawa Pos)

”Ayah, mana timer-nya,” teriaknya ketika akan mulai mengucurkan air panas dari ketel. Memang, untuk memaksimalkan karakter kopi, harus diperhatikan waktu menyeduh, suhu air, dan tekniknya.

Si lintong diseduh dengan teknik milik Tetsu Kasuya, juara World Brewers Cup 2016. Namanya metode the four-six brew. Dengan metode itu, karakter kopi lintong keluar. Kali pertama menuang kopi, Almira menggunakan 40 persen air di ketelnya. Itu pun dibagi dua, yakni 25 gram di tuangan pertama dan 35 gram pada tuangan kedua. Tujuannya menciptakan keseimbangan asam dan manis dari kopi lintong.

Selanjutnya, 60 persen air di ketel dituang perlahan. Tuangan terakhir itu dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan kopinya. Setelah air dalam V60 –pour over yang digunakan Almira– habis, dia menggoyangkan server yang berbentuk seperti teko. Selanjutnya, dia baru menuangkan kopi dari server ke gelas. Almira menyiapkan dua gelas. Satu untuk Jawa Pos, satu lagi untuk sang ayah.

Ketika membuat kopi, Almira seperti bocah yang sedang bermain masak-masakan. Tak ada beban. Tuang.. tuang.. tuang.. yang penting sesuai aturan. Almira berbisik kepada ayahnya, Fajar Irawan. ”Katanya kurang pas. Masih bitter (pahit, Red),” ujar Fajar menirukan ucapan anak pertamanya. Padahal, kopi bikinan Almira cukup enak. Tidak ada rasa yang mengganggu di mulut.

Demo menyeduh kopi itu sudah biasa dilakukan Almira. Setahun lalu Almira tak sengaja tercebur dalam keasyikan menyeduh kopi. Gara-garanya, sang ayah membuka kedai kopi. Bukan karena dipaksa. Tapi, karena bocah kelas II SD Bukti Duri 05 Pagi, Jakarta, itu sering melihat ayahnya berkutat dengan peralatan-peralatan kopi.

Ketika ingin mengikuti aktivitas rutin sang ayah, Almira minta diajari tahap-tahap penyeduhan kopi yang baik. Mulai menggiling biji kopi, menyiapkan air panas, menyiapkan peralatan untuk menyeduh, hingga teknik menyeduh.

Menurut Fajar, anaknya cukup cepat dalam memahami hal itu. Meskipun, Almira kini belum bisa menjelaskan kenapa harus menjalani tahapan tersebut. ”Namun, dia sudah bisa merasakan kalau kopinya ini sesuai atau tidak,” jelas Fajar.

Almira juga beberapa kali dibawa ke kebun kopi. Tujuannya mengetahui proses hulu tentang perkopian. ”Untuk sekadar menunjukkan kopi yang dipanen itu bagaimana. Untuk menunjukkan kopi itu ada yang masih hijau dan kalau sudah layak dipetik, warnanya merah,” terang suami Sisti Rahayu itu. Menurut dia, kegiatan tersebut dibuat santai. Seperti sedang rekreasi.

Ketika mulai memahami teknik penyeduhan, Almira sering ikut membantu ayahnya di kedai. ”Tapi, kalau lagi ramai, tidak boleh ikut (menyeduh),” ucapnya. Peraturan lainnya, kalau mau ke kedai, Almira harus tidur siang dahulu.

Setelah punya kemampuan menyeduh kopi dengan peranti manual, kini Almira mulai belajar membuat latte art. Urusan yang satu itu tentu bukan hal yang mudah untuk anak seusia Almira. Orang dewasa saja membutuhkan latihan berpuluh-puluh kali untuk bisa menghasilkan gambar di atas crema kopi.

”Pernah ikut lomba latte art. Lawannya orang gede. Aku masuk finalis, padahal cuma gambar love,” tutur bocah yang ingin memiliki kedai kopi sendiri itu.


Calysta Helena Theo
Buang Karbondioksida saat Brewing

JIKA di Jakarta ada nama Almira yang kemampuannya dalam menyeduh kopi mendapat banyak apresiasi di Instagram, di Semarang ada Calysta Helena Theo. Usianya sama-sama unyu, masih 9 tahun. Calysta juga beberapa kali unjuk kebolehan dalam Coffee Fest.

Dalam beberapa ajang kejuaraan di Coffee Fest, Calysta berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Dia pernah masuk lima besar dalam kejuaraan penyeduhan kopi di ajang Jazz Brewing pada awal tahun lalu. Masuk lima besar itu tentu sangat membanggakan. Sebab, peserta kompetisi tersebut orang dewasa, termasuk papa Calysta sendiri, Billy Chong.

Calysta pertama terjun dalam kejuaraan penyeduhan kopi saat Jateng Coffee Fest. Dalam pergelaran itu, dia berhasil masuk 29 besar. Lalu, dilanjutkan di Temanggung Coffee Fest dan Tugu Muda Brewer. Dalam dua kompetisi tersebut, Claysta berhasil menyabet posisi 10 besar.

Calysta belajar menyeduh kopi dua tahun lalu. Ketika itu, usianya masih seperti Almira, 7 tahun. Kini pelajar kelas IV Trilingual School Tunas Harum Bangsa Semarang itu menguasai berbagai teknik penyeduhan dengan peralatan manual. Mulai V60, Kalita Wave, Aeropress, hingga ice coffee drip.

Tidak hanya menguasai penggunaan alat, Calysta juga memahami teori-teori dalam penyeduhan kopi. Bukan soal takaran kopi dan air saja. Melainkan juga sampai teori membuang karbondioksida dalam proses brewing kopi.

Proses ini biasa dikenal dengan istilah blooming. Blooming merupakan salah satu tahapan penting dalam penyeduhan kopi. Pelepasan karbodioksida itu terjadi ketika air panas bertemu dengan bubuk kopi. Proses blooming sendiri dalam tiap alat seduh manual kopi berbeda-beda caranya. Tidak sekedar menyiramkan air ke kopi. Sebagaimana diketahui, karbodioksida dalam kopi muncul ketika terjadi proses roasting atau sangrai.

Bagi Calysta, kopi layaknya sahabat. Sama seperti dia memperlakukan satwa-satwa peliharaannya. Karena itu, menyajikan kopi harus penuh arti.

Kepada wartawan Radar Semarang (Jawa Pos Group), Calysta menceritakan bagaimana kali pertama dirinya mengenal kopi. Itu berawal ketika sang papa yang menjadi inspirasinya pergi ke salah satu coffee shop di Jogja. Calysta kemudian menjajal kopi yang seketika membuatnya jatuh cinta. Dari situ dia tahu bahwa kopi memiliki berbagai rasa. Bukan hanya pahit.

”Saat itu, kopi Aceh Gayo yang sampai sekarang aku suka. Minumannya satu, kopi. Tapi, bisa memiliki rasa yang berbeda-beda,” cerita gadis yang juga gemar menulis novel dan komik itu. Dari situ dia tertarik untuk belajar bersama papanya.

Billy Chong mengaku mendukung penuh hobi baru Calysta. Bahkan, dia membebaskan anaknya bereksperimen menciptakan kopi di kedai miliknya, Kopip3dia, di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Semarang. Tapi, itu tidak setiap hari. Hanya setiap Sabtu sore dan Minggu. ”Hari-hari biasa dia tetap harus fokus sekolah dan menjalani les,” paparnya.

Billy mengaku heran dengan kemampuan anaknya. Pada usia saat ini, Calysta bahkan sudah memiliki kemampuan sensori kopi. ”Sensor lidah dan penciumannya bagus. Dia tergolong cepat dalam belajar,” beber suami Ira Agustini itu.

Kini Calysta tidak hanya terlibat dengan seduh-menyeduh kopi. Dia juga mulai tergerak melakukan kegiatan sociopreneur yang berkaitan dengan kopi. Dia melakukan itu setelah sempat belajar ke koperasi kopi di Garut dan Bali.

Di sana Calysta awalnya hanya ingin mengenal proses penanaman, mengenal berbagai jenis kopi, dan melihat langsung pengolahan kopi. Namun, sepulang dari Bali, bocah yang bercita-cita menjadi barista perempuan sekaligus dokter hewan itu bekerja sama dengan koperasi setempat.

Lewat koperasi tersebut, Calysta membuat produk kopinya sendiri. Produk kopi itu dikemas dengan desain lukisan karyanya. Lukisan-lukisan tersebut menggambarkan hewan piaraan Calysta. Nah, hasil penjualan kopi itulah yang rencananya didonasikan untuk kegiatan perlindungan satwa.

”Saya kasihan kalau lewat jalan, ada kucing yang kurus. Saya mau kasih makan, tapi tidak punya uang. Jadi, ini kopinya untuk donasi perlindungan hewan,” kata gadis yang memang suka memelihara binatang itu.


Matthew Alonso
Pelukis di Atas Kopi
”His name is Matthew. He is the youngest competitor of east java latte art competition. He just turned 12 yo (years old) yesterday. He looks so professional, very confidence and calm on the stage, I hope he can make it into the final. Good luck and happy belated birthday @matthew_alonso_123 You really inspired me today!!”

Itulah komentar panjang yang disampaikan salah seorang barista nasional Muhammad Aga. Apresiasi tersebut diungkapkan ketika Matthew Alonso berlaga dalam Latte Art Competition pada event East Java Coffee Show pekan lalu.

Matthew memang termasuk salah seorang barista berbakat tanah air. Kemampuannya mengolah kopi tidak sekadar bisa memaksimalkan alat-alat seduh manual. Pada usianya yang baru menapak 12 tahun, Matthew sudah piawai membuat kreasi gambar di segelas latte (latte art).

”Awalnya, saya hanya tertarik ketika melihat barista membuat kopi. Kebetulan Papa juga baru buka kedai saat itu,” ujarnya pelajar SMP Kr Petra 1 Surabaya itu. Awal mula mempelajari latte art, Matthew membuat gambar hati.

Gambar hati atau heart dalam dunia latte art memang sering kali dianggap paling mudah. Tapi, jika tidak tahu tekniknya, pembuatannya tetaplah susah. Meskipun di hadapan kita sudah tersaji secangkir espreso dan susu yang sudah di-steam.

Meski sulit, Matthew tidak putus asa. Dia mengaku menikmati kesulitannya itu. ”Puas rasanya saat sudah berhasil. Serasa menggambar di atas kopi,” ucap anak pasangan Ary Satrio Wibowo dan Linda Sentosa itu. Saat ini Matthew mengaku sudah bisa membuat berbagai teknik gambar latte art.

Di dunia latte art, bentuk-bentuk dasar yang sering disajikan oleh barista, antara lain, heart (love), rosetta, tulip, angsa, dan ukir (etching). Dalam video yang dibagikan oleh ayah Matthew di YouTube, bocah kelahiran 22 September itu sudah piawai membuat aneka bentuk dasar latte art.

Kemampuan membuat latte art itu sering dilatih Matthew dengan mengikuti kompetisi. Tentu dalam berbagai ajang, Matthew sering menjadi peserta termuda. Tak jarang, banyak orang yang meragukan kemampuannya. ”Banyak yang kaget, mungkin dikira anak kecil cuma bisa main games,” ucapnya.

Saat ini prestasi tertinggi yang berhasil diraih Matthew adalah juara II latte art competition di Urban Coffee Week. Ajang itu diselenggarakan di salah satu mal di Surabaya pada Juli lalu. Meski kemampuannya terlatih di berbagai lomba, Matthew mengaku masih sering canggung ketika berhadapan dengan customer.

Di luar tiga nama di atas, tentu masih banyak bocah imut yang punya kemampuan meracik kopi bak orang dewasa. Mereka tersebar di berbagai daerah. Kebanyakan memang antusias mendalami kopi karena lingkungan. Salah satunya, pekerjaan orang tua yang memiliki kedai atau bahkan sekolah barista.

(lyn/gun/cr4/c6/ang)

Sponsored Content

loading...
 TOP