Rabu, 13 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Sudut Pandang

Perang Retorika Trump vs Jong-un

Oleh: A. Safril Mubah*

| editor : 

Trump vs Jong Un

A. Safril Mubah (Jawa Pos Photo)

Ketika para pemimpin dunia menyampaikan pesan perdamaian dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump justru melontarkan ancaman terhadap pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un.

Dalam pidatonya di PBB Selasa (19/9), Trump menyebut Jong-un sebagai rocket man dan mengancam menghancurkan Korut secara total. Tiga hari kemudian, Jumat (22/9), Trump melanjutkan ancaman melalui kicauannya di Twitter dengan menyatakan, ”Kim Jong-un of North Korea, who is obviously, a madman who doesn’t mind starving or killing his people, will be tested like never before.”

Sebelumnya, pada 8 Agustus lalu, Trump memperingatkan Korut agar tidak mengancam AS jika tidak ingin dibalas dengan ”api dan kemarahan” yang tidak pernah dilihat dunia. Pernyataan keras Trump itu mencuat seiring dengan terbitnya laporan Badan Intelijen Pertahanan AS bahwa Korut telah berhasil mengembangkan hulu ledak nuklir yang bisa dimasukkan ke rudal balistik antarbenua. Merespons ancaman Trump, Korut berencana menembakkan rudal balistik berhulu ledak nuklir ke Guam, wilayah paling barat AS di Samudra Pasifik yang berjarak sekitar 3.400 kilometer dari Pyongyang.

Rentetan pernyataan keras Trump merupakan reaksi atas serangkaian uji coba rudal yang telah dilancarkan Korut. Sejak berkuasa pada Desember 2011, Jong-un bertekad mengembangkan senjata nuklir jauh melebihi yang dikembangkan pendahulunya yang juga ayahnya, Kim Jong-il. Demi misi itu, sepanjang enam tahun kepemimpinan Jong-un, Korut telah melesakkan rudal sebanyak 84 kali, 22 kali di antaranya terjadi setelah Trump dilantik sebagai presiden AS awal tahun ini. Menurut catatan Nuclear Threat Initiative (NTI) dan Center for Nonproliferation Studies (CNS), Jong-un telah melakukan uji coba rudal lima kali lebih banyak daripada yang pernah dilakukan Jong-il selama berkuasa pada 1994–2011.

Tidak mengherankan jika ketegangan di Semenanjung Korea terus meningkat pada masa kekuasaan Jong-un. Jepang dan Korea Selatan (Korsel) merupakan dua negara tetangga Korut di Asia Timur yang paling terancam. Meskipun demikian, respons pemimpin dua negara tersebut tergolong lunak dibanding Trump. Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyatakan, waktu untuk berdialog dengan Korut telah berakhir dan kini saatnya mengimplementasikan sanksi. Sementara itu, Presiden Korsel Moon Jae-in berjanji membantu Korut berhubungan baik lagi dengan komunitas internasional jika Jong-un menghentikan kebijakan nuklirnya.

Di pihak lain, Tiongkok cenderung mendorong Korut bernegosiasi untuk menyelesaikan masalah nuklir secara damai. Pembatasan ekspor minyak dan penghentian impor tekstil merupakan bagian dari upaya Beijing mendesak Pyongyang ke meja perundingan. Padahal, Trump berkali-kali mendesak Presiden Xi Jinping menekan Jong-un secara lebih keras, tetapi tidak pernah digubris. Hal itulah yang membuat Trump kecewa hingga akhirnya memutuskan mengancam Jong-un secara langsung.

Persoalannya, serangan verbal Trump terhadap sosok personal Jong-un bakal berakibat kontraproduktif bagi penyelesaian masalah nuklir Korut. Menurut John Park, pakar Korea dari Harvard Kennedy School, penghinaan Trump terhadap Jong-un di panggung PBB telah meredupkan peluang membatasi program nuklir Korut (The Los Angeles Times, 23/9/2017).

Jong-un terlahir dari sebuah dinasti Kim Il-sung yang otoriter dan menempatkan kebanggaan atas diri pribadi di atas segalanya. Bagi dinasti pendiri Korut itu, ”negara adalah saya” sehingga tampuk kepemimpinan Korut harus digilir secara turun-temurun dalam keluarga mereka. Serangan personal Trump telah menginjak-injak harga diri Jong-un sekaligus kehormatan Korut. Untuk menjaga martabat negaranya, Jong-un merasa perlu membalas serangan Trump secara lebih kejam.

Karena itu, setelah dilabeli Trump sebagai rocket man, Jong-un balik menghina Trump sebagai dotard atau orang tua gila yang tidak tahu diri. Dalam pernyataan yang disiarkan Korean Central News Agency (KCNA) Kamis (21/9), Jong-un mengancam menjinakkan Trump dengan api. Dua hari berselang, Sabtu (23/9), Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong-ho mengatakan bahwa negaranya akan melakukan uji coba bom hidrogen di Samudra Pasifik yang berpotensi menjadi ledakan termonuklir terbesar di kawasan tersebut. Pada hari yang sama, ribuan warga Korut turun ke jalan untuk berunjuk rasa anti-AS di Kim Il-sung Square di Pyongyang (Jawa Pos, 25/9/2017).

Meskipun situasi tampaknya mengkhawatirkan, konflik lebih besar mungkin tidak terjadi. Terlalu besar ongkos sosial ekonomi yang harus dikeluarkan jika konflik militer pecah. Semua negara di Asia Timur berkepentingan memelihara keamanan kawasan demi menjaga stabilitas ekonomi masing-masing. Situasi status quo itu pula yang ingin dipertahankan Trump dan Jong-un. Perang retorika di antara mereka sesungguhnya hanya strategi untuk memainkan nuansa keseimbangan kekuatan. Korut membutuhkan nuklir untuk menunjukkan dirinya kuat berhadapan dengan AS. Hal itulah yang coba digerus Trump dengan retorika ancaman personalnya terhadap Jong-un. (*)

(* Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga)

Sponsored Content

loading...
 TOP