Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Internasional

Laporan Juneka Subaihul Mufid Dari New York

Melihat Rumitnya Pengamanan Tamu Sidang Umum PBB

Tirai Gelap untuk Antisipasi Sniper

| editor : 

Petugas Secret Service, AS

KETAT: Petugas Secret Service bersiaga saat helikopter Marine One yang mengangkut Presiden AS Donald Trump tiba di New York (17/9). (YURI GRIPAS/REUTERS)

JawaPos.com - Sebelum bisa masuk markas PBB, delegasi harus melewati pos pemeriksaan berlapis bahkan sejak setengah kilometer sebelumnya. Jumlah mobil penjemput dan pengantar pulang rombongan bisa berbeda.

LANGIT masih mendung. Jalanan pun gelap. Maklum, jarum jam juga baru menginjak pukul 05.00 waktu New York.  Tapi, kesibukan sudah sangat terasa di perempatan yang terletak sekitar setengah kilometer dari markas PBB itu. Polisi memeriksa dengan teliti kartu identitas khusus yang memuat foto, nama lengkap, dan negara asal.

Selain itu, ada kode huruf pada pojok kiri bawah. Misalnya, P untuk press (pers) dan D buat delegate (delegasi). Jawa Pos termasuk yang berada dalam antrean Selasa pagi lalu (20/9).

demonstran di PBB

TAK AMBIL RISIKO: Seorang demonstran anti-Presiden AS Donald Trump diamankan polisi di tengah berlangsungnya Sidang Umum PBB (19/9). (DARREN ORNITZ/REUTERS)

Semua yang diperiksa menuju titik yang sama: markas PBB. Di tempat tersebut, sejak Selasa lalu itu, dihelat Sidang Umum PBB yang dihadiri ratusan kepala negara/pemerintah.

Jadi, tak mengherankan kalau prosedur pengamanannya begitu ketat. Pagi itu, di bawah cahaya lampu yang tidak terlalu terang, petugas mencocokkan foto di kartu dengan wajah pemilik.  Raut muka polisi penjaga itu tampak serius cenderung sangar dan tanpa senyum. Serta tidak banyak bicara.
”Yes.. go,” ujar petugas setelah memeriksa kartu identitas.

Yang punya hajat memang PBB. Tapi, karena markas organisasi dunia itu di New York, otomatis Amerika Serikat ikut repot. New York Police Department (NYPD), Secret Service, dan FBI termasuk yang terlibat dalam pengamanan.

Bahkan, kerepotan itu dimulai sejak rombongan delegasi semua negara memasuki wilayah angkasa Negeri Paman Sam tersebut. Mengutip New York Times, saat masih menjadi presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad selalu meminta pilot mematikan transponder saat akan mendarat di Bandara John F. Kennedy, New York. Itu membuat pesawat seperti hilang dari radar.

Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina juga kerap kali datang dengan menggunakan pesawat komersial. Petugas keamanan otomatis harus bersiaga agar penumpang tak terganggu dan Hasina bisa segera diamankan.

Port Authority Police Department bertugas mengawal iring-iringan rombongan hingga keluar bandara. Semua mobil yang digunakan telah diperiksa berkali-kali oleh agen Secret Service dan anjing pelacak.

Saat keluar dan masuk bandara, kendaraan harus bebas dari ancaman apa pun. Jumlah mobil yang menjemput saat datang dan yang mengantar saat pulang bisa berbeda. Sebab, kerap kali para kepala negara dan pejabat yang ikut rombongan berbelanja habis-habisan sebelum pulang.

Salah satu yang melakukannya di sela Sidang Umum PBB kali ini adalah keluarga Presiden Zimbabwe Robert Mugabe. Putranya, Bellarmine Chatunga, tampak berbelanja saat sang ayah tengah berada di Sidang Umum PBB.

’’Putra Presiden Robert Mugabe, Bellarmine Chatunga, di McDonalds, New York, bersama beberapa bodyguard yang membawa kantong-kantong belanjaan Gucci. Berfoya-foya?’’ tulis Studio 7 VOA di akun Twitter-nya.

Tim patroli NYPD sudah mengamankan jalan agar bebas hambatan saat iring-iringan kepala negara lewat. Dilansir CBS News, rombongan kepala negara yang masuk golongan ancaman tinggi mendapatkan pengawalan dari tim khusus. ’’Kami harus siap untuk segala situasi,’’ ujar Sersan Joseph Murphy yang mengawal rombongan Presiden AS Donald Trump.

Ratusan petugas mengamati kamera CCTV yang dipasang di berbagai titik. Helikopter berseliweran mengecek dari udara dan sniper berjaga di berbagai lokasi. Semua demi satu tujuan, tamu negara selamat hingga pulang kembali ke negaranya.

Penjagaan dilakukan 24 jam nonstop. Semua orang yang keluar masuk diperiksa berlapis. Seluruh jendela-jendela besar di markas PBB juga sudah ditutup dengan tirai warna gelap. Tujuannya adalah menghalangi pandangan. Dengan begitu, sniper yang memiliki tujuan melukai atau membunuh salah seorang delegasi bisa dicegah.

Di perempatan 2 Av dan E 46 St tempat pemeriksaan pertama tadi, empat penjuru mata angin dijaga masing-masing dua hingga tiga polisi. Selain petugas berseragam biru itu, ada yang memakai rompi tebal bertulis Secret Service.

Lolos dari titik pertama masih harus berjalan kaki sekitar 300 meter menuju pos berikutnya di 1 Av. Sepanjang jalan itu, akses kendaraan amat dibatasi. Hanya kendaraan delegasi dan petugas yang diperkenankan masuk.

Petugas berseragam kembali memeriksa identitas. Setelah dipastikan cocok, baru diperkenankan menyeberang jalan yang lengang karena diblokade itu.

Di seberang jalan itu, ada pembagian rute. Awak media diarahkan ke jalur sebelah kiri yang cenderung menjauhi gedung. Sedangkan delegasi bisa lewat arah kanan yang lebih dekat.

Tepat di halaman gedung utama tempat sidang, setelah melewati pagar yang juga dijaga polisi NYPD, barulah bisa masuk ke halaman paling belakang gedung yang berada di dekat East River.

Pada Selasa pagi lalu itu, antrean awak media sudah mengular di luar tenda pemeriksaan. Di dalam tenda tersebut, ada empat mesin pendeteksi X-ray untuk pemeriksaan barang penumpang. Hanya dua di antaranya yang difungsikan untuk memeriksa apa saja barang bawaan wartawan.

Jika lolos, barang-barang itu diberi stiker khusus. Di dalam gedung masih ada satu pemeriksaan lagi. Butuh waktu satu jam untuk seluruh proses pemeriksaan sejak awal.  Untuk mengakses ke lokasi-lokasi tertentu juga harus diperiksa ulang melalui pendeteksi logam. Bahkan, di beberapa titik seperti ruang pertemuan bilateral di dalam gedung, juga harus ada pendamping.

Meski memiliki kartu identitas, wartawan tidak bisa sembarangan masuk tanpa ada pendampingan dari liaison officer. Wartawan dari Indonesia, misalnya, mendapatkan pendampingan dari petugas di Wakil Tetap RI di New York atau Kedutaan Besar Indonesia untuk PBB.

A.A. Permana, polisi senior di PBB, menuturkan, pengamanan di gedung PBB memang dibuat berlapis-lapis. Hampir semua kesatuan polisi dan petugas keamanan dilibatkan untuk menjaga di sekitar markas PBB.
Salah satu alasan utamanya adalah kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Meski, pada hari-hari biasa pemeriksaan ketat juga dijalankan.

”Memang mungkin agak tidak nyaman. Tapi, ini demi keamanan,” tegas pria yang sejak 2004 menjadi polisi PBB satu-satunya dari Indonesia itu. (*)

(*/sha/c17/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP