Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Eksistensi Trail Community for Tour and Recreation

Jelajah Jalur Ekstrem dengan Motor ala Trail

| editor : 

Sulamul Hadi Nurmawan di samping motor trail

PENGGAGAS TRACTOR: Sulamul Hadi Nurmawan dengan motor trail-nya. (Boy Slamet/Jawa Pos/JawaPos.com)

Kesamaan hobi memacu motor trail sembari piknik menjadi latar belakang terbentuknya Trail Community for Tour and Recreation (Tractor). Komunitas itu punya ciri unik. Setiap kali touring, anggota diharuskan membawa sarung dan kopi.

ARISKI PRASETYO HADI, Sidoarjo

EMPAT orang berbincang akrab di teras depan rumah Ketua DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan. Saat itu, tuan rumah ngobrol santai bersama Rudi Sujatmiko, Budi Hermawan, dan Joko. Salah satu bahan obrolan mereka adalah rencana touring ke Bromo. ”Ayo touring lagi di Bromo. Kemarin kemalaman,” ucap Sullamul Kamis lalu (21/9).

Ketua DPRD Sidoarjo Sulamul Hadi Nurmawan (Gus Wawan) dalam kegiatan adventure

JIWA ADVENTURE: Ketua DPRD Sidoarjo Sulamul Hadi Nurmawan (kanan). (Boy Slamet/Jawa Pos/JawaPos.com)

Ajakan laki-laki yang akrab disapa Wawan itu disambut anggukan oleh tiga temannya. Mereka sepakat berkelana ke Bromo minggu depan. ”Misi” kali ini adalah menuntaskan perjalanan minggu sebelumnya. Perjalanan yang dimaksud bukan sekadar piknik. Mereka akan menjelajah alam dengan menggunakan motor trail.

Ya, empat orang tersebut tergabung dalam satu komunitas pencinta motor trail. Namanya Trail Community for Tour and Recreation (Tractor). Itu adalah wadah bagi semua orang yang hobi memacu adrenalin dengan mengendarai motor trail. Melintasi jalur-jalur yang tidak umum.

Tractor didirikan oleh Wawan lima tahun lalu. Pendirian klub motor trail tersebut lahir lewat diskusi singkat di rumahnya. Saat itu, sepeda motor trail sedang booming. Banyak komunitas motor ekstrem yang berdiri di Sidoarjo.

Dalam diskusi itu, sejumlah teman menyampaikan ide untuk mendirikan sebuah klub trail. Anggotanya para pemuda di kawasan Desa Kloposepuluh, Kecamatan Sukodono. Namun, usulan tersebut belum bisa langsung diwujudkan. ”Karena tidak ada yang punya motor trail. Termasuk saya,” tuturnya.

Kendala tersebut tak melunturkan keinginan mereka. Beberapa anggota lantas memodifikasi motornya menyerupai motor trail. Ada yang membuat Honda GL Pro menjadi trail. Ada juga yang mengubah Honda Win dan Yamaha RZR.

Tidak hanya motor ”lanang” yang diubah menjadi trail. Motor seperti Suzuki Shogun serta Yamaha Jupiter juga diutak-atik sehingga menjadi motor trail. ”Seadanya motor dimodifikasi menjadi trail,” ucap Wawan. Termasuk Wawan.

Saat itu, dia tidak memiliki motor trail. Yang ada hanya sepeda motor warisan zaman semasa kuliah di Jogjakarta. Yakni, Suzuki Ts 125 CC. Sekilas, bentuk motor tersebut mirip trail. Dengan slebor depan melengkung serta bodi mirip trail, motor itu tangguh menghadapi medan berat. Tidak sulit mengubahnya serupa trail.

Bapak lima anak itu mengatakan, motor Suzuki Ts tersebut merupakan pemberian almarhum ayahnya. Awalnya, dia dibelikan Honda Tiger 200. Namun, hanya berselang satu bulan, kendaraan itu ditarik oleh orang tuanya. Tujuannya, Wawan tidak kebut-kebutan di jalan.

Motor Honda Tiger 200 lantas ditukar dengan Suzuki Ts 125 CC. Meski kapasitas mesinnya cukup besar, ternyata kendaraan itu tidak bisa melaju kencang. Maksimal kecepatannya hanya 80 km/jam–100 km/jam. ”Makanya Abah memilihkan saya Suzuki Ts 125 CC. Agar tidak kebut-kebutan,” jelasnya.

Selama kuliah, kendaraan itu sudah menunjukkan keandalannya. Setiap akhir pekan, Wawan selalu menggeber motornya melintasi medan berat. Dahulu pilihannya menyusuri jalur Pantai Parangtritis. Tidak melulu melintasi pasir, terkadang jalan setapak yang terjal juga dilalap.

Setelah semuanya memiliki kendaraan yang menyerupai trail, komunitas Tractor resmi berdiri. Kali pertama anggotanya hanya 20 orang. Hampir semuanya adalah teman dan kerabat dekat Wawan.
Sama seperti klub motor lain, Tractor juga sering menggelar touring.

Wawan masih ingat betul awal-awal Tractor turun ke medan berat. Bromo menjadi tempat petualangan pertama. Selain medan berat, alamnya sangat indah. Persiapan dimatangkan. Selang satu hari keberangkatan, 20 motor dikirim ke Malang. Besoknya baru anggota naik kendaraan menuju ke Malang.

Pada perjalanan perdana itu, mereka langsung menemui kendala. Empat motor rusak sekaligus. Kendalanya bermacam-macam. Ada yang bannya pecah sampai motor tidak bisa dihidupkan. Untungnya, segala perlengkapan sudah disiapkan. ”Ada juga anggota Tractor yang mekanik bengkel. Sehingga bisa langsung diatasi,” tuturnya.

Ada pula perjalanan yang paling melelahkan dan sangat berat. Rutenya sangat ekstrem. Yakni, menembus hutan di Coban Talun, Malang. Mereka berangkat pagi. Menjelang sore, hujan deras mengguyur. Ditambah lagi pencahayaan yang kurang. Wawan menuturkan, anggota berkali-kali menabrak pohon. ”Karena sangat gelap,” jelasnya.

Dalam perjalanan itu, tidak sedikit yang memutuskan untuk berdiam diri di gunung. Menunggu hujan reda. Setelah reda, perjalanan kembali dilanjutkan. Yakni, menemukan jalan pulang. Pukul 21.00, mereka baru menemukan jalan keluar dari hutan. ”Saking hausnya, saya sampai minum air hujan. Bekal sudah habis,” ucapnya.

Namun, ada juga perjalanan yang sangat berkesan. Yakni, ketika berada di puncak Coban Talun, rombongan berhenti. Mereka melepas penat serta lapar. Di tempat itu ada satu rumah warga. Tidak ingin meminta makanan secara gratis kepada warga, suami Fitrianti Ismet tersebut lantas meminta Tractor urunan. ”Uang patungan itu kami berikan kepada warga. Kami minta dimasakkan makanan apa pun,” jelasnya.

Ada ritual Tractor setiap kali touring. Saat sampai di tempat tujuan, mereka segera mengeluarkan bekal wajib dari dalam tas. Yakni, kopi dan sarung. Minum kopi sembari menikmati keindahan alam dan bercengkerama dengan teman. Wawan mengatakan, meski touring, kelompoknya tidak lupa beribadah.

Keunikan lain adalah saat menentukan rute perjalanan selanjutnya. Anggota dibebaskan untuk usul. Syaratnya, medan yang dilalui harus ekstrem serta baru. Nah, yang usulannya di luar ekspektasi harus siap-siap menerima hukuman. ”Kalau tidak ekstrem, langsung kami caci,” tuturnya, lantas tertawa.

(*/c6/ai)

Sponsored Content

loading...
 TOP