Rabu, 13 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Nasional

Kivlan Bilang Genjer-genjer itu Lagu Perang PKI, Tapi Faktanya....

| editor : 

Kivlan Zein

Kivlan Zein (JawaPos.com)

JawaPos.com - Isu G 30 S PKI kembali digaungkan menjelang 30 September. Salah satu catatan sejarah yang selalu diingat adalah lagu Genjer-Genjer, dimana sebagian orang menilainya sangat dekat dengan partai komunis di Indonesia. 

Sebagaimana diketahui, lagu yang sempat dilarang pada zaman orde baru itu diciptakan oleh seniman M Arif asal Banyuwangi.

Sebelumnya, Mayjen TNI (purn) Kivlan Zein juga menyatakan Genjer-Genjer adalah lagu perang bagi PKI ketika menyerang. 

Jika dilihat dari catatan sejarah, bagaimana sih awal mula lagu Genjer-Genjer tercipta?

Sejarawan Universitas Indonesia (UI ) Muhammad Wasith Albar mengungkapkan, lagu Genjer-Genjer aslinya bukan lagu perang, akan tetapi merupakan lagu pemberi semangat. 

Lagu itu awalnya sebagai kreativitas kaum marhaen atau orang-orang proletart saat itu. “Jadi bukan lagu perang. Waktu itu sangat populer, lagu rakyat dari Banyuwangi,” ungkap Wasith kepada JawaPos.com, Sabtu (23/9).

Wasith memaparkan, sejatinya lagu itu menggambarkan kesusahan masyarakat. Saat itu pangan sedang sulit, hingga membuat tanaman genjer yang biasa dimakan bebek menjadi makanan masyarakat. 

Awalnya, lanjut  Genjer-genjer Syair itu dibuat dalam bahasa Using, bahasa khas Banyuwangi. Lagu ini dibuat pada 1943 karena terinspirasi oleh sulitnya kondisi zaman penjajahan Jepang. 

Genjer dahulu menjadi makanan ternak, namun dimakan oleh rakyat karena mengalami masa sulit kala itu.

"Itu lagu untuk menyindir Jepang, karena kelaparan jadi makannya itu (genjer) untuk sebagai lauk. Penciptanya, M Arif yang saat itu direkrut jadi anggota Lekra,” jelas Wasith.

Menurut Wasith, pada 1960-an semua partai memiliki mesin kesenian. Sedangkan untuk PKI bernama Lekra.

"Namanya kesenian, apa pun bentuknya alat propaganda alat politik untuk mobilisasi massa yang paling murah. Kebetulan lagu itu populer makanya M Arif diminta gabung ke Lekra,” jelasnya.

Wasith menambahkan, belakangan dikatakan lagu itu dinyanyikan Gerwani saat di Lubang Buaya. Ketika itu, sejumlah jenderal dibunuh dalam peristiwa yang dikenal dengan G 30 S PKI.

Kebenaran soal itu belum bisa dipastikan. Namun kemudian beredar lirik lagu di mana genjer-genjer dipelesetkan dari 'genjer-genjer pating kelewer' menjadi "jenderal-jenderal pating kelewer'. 

Tapi di syair aslinya, sebagai lagu rakyat Banyuwangi tak ada sama sekali lirik lagu yang mengarah ke PKI atau peristiwa politik tertentu.

Kesimpulannya, kesusahan masyarakat di zaman Jepang lewat lagu itu kemudian dituangkan dalam lagu Genjer-Genjer dan menjadi propaganda, menggaet orang-orang desa dan rakyat miskin melawan kemapanan. 

Belakangan, lagu rakyat ini justru lekat dengan stigma PKI. Jika ada yang menyanyikannya akan diafiliasikan kepada kelompok PKI. Padahal tak ada isi dalam syair lagu itu yang mengarah ke PKI. 

Berikut Kutipan lirik lagu Genjer-Genjer ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia:

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih

Setengah matang ditiriskan untuk lauk

Setengah matang ditiriskan untuk lauk

Nasi sepiring sambal jeruk di dipan

Genjer-genjer dimakan bersama nasi

(ika/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP