Rabu, 13 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Terungkap! Ini yang Bikin Tokoh Papua Senang dan Bangga dengan Jokowi

| editor : 

Presiden Joko Widodo saat berdialog dengan warga Papua

Presiden Joko Widodo saat berdialog dengan warga Papua (doc Jawa Pos.com)

JawaPos.com - Presiden Joko Widodo mendapat tempat di hati para tokoh Papua. Ini terlihat dari pertemuan sebanyak 14 tokoh Papua dengan Presiden Jokowi pada 15 Agustus lalu di istana negara Jakarta yang berlangsung hangat dan penuh keakraban.

Tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Pdt Lipyus Biniluk, Pdt Herman Saud, Pdt MPA Mauri, Ondoafi George Awi, Fientje Yarangga, Febiola Ohee, Yan Christian Warinussy, Miryam Ambolon, Ros Rode Muyasin, Leonard Imbiri, Jhon NR Gobay, KH Saiful Islam Al Payage, Marinus Yaung dan dirinya.

Yang menarik dari pertemuan yang dilakukan sekitar empat jam tersebut, dimana para tokoh ini disambut dengan jamuan makanan khas Papua yakni Papeda dan ada juga keladi. Suasana pertemuan semakin cair karena sosok Presiden Jokowi ternyata enak diajak ngobrol dan tidak kaku.

"Ini hal baru, saya pernah bertemu dengan Presiden SBY tapi tidak sesantai ini. Kami diundang untuk silaturahmi berkoordinasi membahas apa saja yang bisa dilakukan agar Papua jadi lebih baik dalam semua hal," kata Koordinator Jaringan Damai Papua, Pater Neles Tebay di halaman Sekolah Theologi Fajat Timur (STFT), Padang Bulan, Selasa (22/8).

Tak hanya itu, untuk membuka diskusi ini ternyata Presiden meminta Ondoafi George Awi untuk membuka dan menutup. Dijelaskan sebanyak 14 orang ini hadir untuk memenuhi undangan silaturahmi Presiden Jokowi yang juga dihadiri Menkopolhukam Wiranto serta staf kepresidenan.

"Kami dijamu papeda oleh Presiden, ini unik juga karena beliau yang siapkan. Ada juga makanan seperti ubi dan harus kami akui jika beliau sangat terbuka," kata Pater Neles yang duduknya persis berhadapan dengan Presiden.

Disitu mereka membahas soal perlunya sebuah upaya untuk menyelesaikan sejumlah persoalan di Papua, mulai dari SDM, SDA hingga kasus kekerasan aparat negara yang berujung pelanggaran HAM.

Masyarakat Papua dikatakan mulai jenuh dengan seringnya terjadi kekerasan aparat terhadap masyarakat sipil. Satu cara yang diusulkan dan disepakati adalah dilahirkannya dialog sektoral dan untuk mewujudkannya, perlu ada orang khusus untuk memulai dialog. Pater Neles meyakini dalam beberapa waktu ke depan orang tersebut akan ditunjuk.

"Presiden sangat memahami niat dialog ini. Bahasa tubuh presiden sangat jelas dan masalah Papua ini kompleks sehingga harus diurai lebih dulu karenanya kami sebut dengan dialog sektoral," kata Pater didampingi Fientje Yarangga sebagaimana dilansir dari Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group).

Dijelaskan soal SDM perlu dialog sektoral, soal kasus HAM juga perlu dilakukan hal serupa termasuk kesejahteraan dan pendidikan maupun kesehatan. "Presiden langsung tanya apa yang perlu dilakukan untuk SDM dan lainnya. Tidak menggunakan satu pola atau model untuk pengembangan SDM Papua tapi berbagai pola disesuaikan dengan daerahnya masing-masing," bebernya. Presiden lanjut Pater Neles membutuhkan informasi yang tepat untuk peta masyarakat.

Disinggung soal pelanggaran HAM di Papua, hal ini dikatakan sempat ikut dibahas. Poinnya adalah bagaimana tak perlu dengan kekerasan dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan bukan hanya harus dilakukan oleh aparat keamanan maupun pemerintah pusat, pemerintah Jakarta tetapi juga masyarakat adat dan semuanya. Perlu komitmen untuk menghilangkan bentuk kekerasan di Papua.

"Jangan ada kekerasan negara kemudian diambil langkah hukum, ini penting dan selama ini kita juga melupakan soal bagaimana mencegahnya jadi sebelum terjadi kekerasan harus dicegah, bukan sudah terjadi kemudian ditangani," katanya.

"Presiden sampaikan bahwa semua pihak harus terlibat," imbuhnya. Neles Tebay juga meyakini bahwa bahasa tubuh presiden tak menipu. Presiden telah menangkap pentingnya dialog sektoral yang menjadi tanggungjawab bersama termasuk rakyat mengawasi.

"Yang jelas kami sedih ada anak bangsa dari Papua yang meninggal, tapi kami juga sedih ada aak bangsa yang dipecat atau diberhentikan dari pekerjaannya. Seharusnya semua tak perlu terjadi," sambung Pater. Dari berbagai isi diskusi ini disimpulkan bahwa Presiden memiliki niat mendorong persoalan di Papua dan yang perlu dipikirkan saat ini adalah bagaimana semua ini terlaksana," pungkasnya.

(sad/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP