Jumat, 20 Oct 2017
Logo JawaPos.com
Hukum & Kriminal

Film PKI Harus Sama dengan Sebelumnya, Bila Tidak, Ini Resikonya

| editor : 

G30S/PKI

Diorama G30S/PKI (doc Jawa Pos.com)

JawaPos.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana ingin mengemas ulang, film tentang Penghianatan G30 S PKI, yang dahulunya disutradai oleh Arifin C Noer.

Maksud dan tujuan mantan Gubernur DKI Jakarta itu, supaya para generasi muda tahu dan mengerti apa yang terjadi pada masa silam.

‎Pengamat politik dan pertahanan Salim Said‎ mengatakan dalam film tersebut haruslah sama dengan isi cerita dari film aslinya. Jadi jangan lagi adanya penelusuran sejarah dalam film tersebut. Pasalnya apabila dicari sejarah sebenarnya maka akan timbul kegaduhan baru.

"Saya takut kalau menceritakan tentang penelusuran sejarah nanti makin banyak provokasi," ujar Salim dalam diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (23/9).

Menurut Salim, apabila penelusuran sejarah dilakukan maka akan menghabiskan waktu yang panjang. Di mana satu sisi PKI ingin dinyatakan sebagai korban. Dan satu sisi pemerintah juga dalam hal ini tidak salah.

Padahal lanjut dia, banyak persoalan yang perlu diprioritaskan oleh bangsa ini. Sehingga Indonesia bisa tertinggal jauh apabila hanya menelusuri dan mencari kebenaran dari peristiwa itu.

‎"Habis waktu ini kalau telusuri sejarah. Padahal masih banyak urusan yang lain," pungkasnya.

Sebelumnya, menyikapi rencana pemutaran kembali film Penumpasan Pengkhianatan G30SPKI yang diproduksi pada 1984 silam, Presiden Jokowi mengusulkan film terkait peristiwa sejarah itu diperbarui agar lebih mudah dipahami generasi saat ini.

Film Penumpasan Pengkhianatan G30SPKI dirilis pada 1984 silam itu disutradarai Arifin C Noer. Film itu disebut melibatkan lebih dari 10 ribu pemain dan figuran.

Saat orde baru berkuasa, setiap malam 30 September, ada pemutaran serentak film G30 SPKI di layar televisi. Pascareformasi 1998 kewajiban pemutaran film itu dihentikan.‎

(cr2/JPC)

Alur Cerita Berita

Sponsored Content

loading...
 TOP