Kamis, 14 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Cerita Pendakwah Sebarkan Islam di Daerah Terluar Indonesia

| editor : 

Pendakwah sebarkan Islam di Mentawai

Partito ketika memberikan tausiyah di pedalaman Mentawai, beberapa waktu lalu. (Novitri Silvia/Padang Ekspres/JawaPos.com)

Di tengah perkembangan zaman saat ini berdakwah sangatlah menghadapi berbagai tantangan. Apalagi berdakwah di daerah provinsi terluar Indonesia. Tentunya itu sebuah tugas yang sangat mulia dan membutuhkan kesabaran yang ekstra. Akan tetapi hal itu tidak menjadi persoalan bagi Partito pendakwah yang menyebarkan agama Islam di Pulau Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar).

Novitri Silvia, Padang

Selama ini banyak yang beranggapan bahwa Sumbar itu diidentik dengan budaya Minangkabau yang kental Islamnya. Namun di provinsi ini ada sebuah daerah yang bukan bagian dari budaya Minangkabau tetap menjadi wilayah administrasi dari Sumbar, yakni Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Partito, pendakwah di daerah terluar

Partito saat memberikan tausiyah (Istimewa)

Pulau Mentawai merupakan daerah terluar bagi Sumbar yang terletak di tengah Samudera Indonesia di bagian barat Indonesia. Kabupaten ini dikenal sebagai daerah yang sangat rawan terkena gempa dan tsunami, karena berada di zona megathrust. Yakni, merupakan zona subduksi lempeng yang berada di Samudra Hindia, sebelah barat Sumatera.

Namun demikian, Partito tetap menjalani tugasnya sebagai pendakwah di Bumi Sekerei itu. Sejak masuk pertama kali ke wilayah Mentawai pada sembilan tahun lalu, pria asal Solok itu tentunya menghadapi beragam cobaan dan tantangan yang cukup luar biasa. Mulai dari diusir oleh penduduk sekitar hingga harus berdakwah di dalam gereja.

"Daerah pertama kali yang saya masuki yakni Sagulubbek, Kecamatan Siberut Barat Daya," ungkap Partito kepada Padang Ekspres (Jawa Pos Group).

Sagulubbek ini merupakan daerah terluar Indonesia dan langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia. Dikatakannya, dia memang diutus oleh Kementerian Agama (Kemenag) Wilayah Sumbar ke Mentawai. Karena, di daerah itu masih banyak orang belum memiliki agama resmi yang diakui pemerintah. Baik Islam, kristen, katholik atau agama lainnya.

Apalagi daerah itu hingga 2009 baru mengenal pakaian. Penduduk setempat masih banyak mengenakan kabit atau koteka (pakaian khas daerah Mentawai, red).

Dikatakannya tantangan berdakwah di Mentawai bukan masalah sosial semata, tapi ada masalah lain, yakni menaklukkan kondisi alam yang berada di tengah samudera tersebut. Sebab dia harus melakukan dakwah dari pulau ke pulau kecil lainnya. Satu-satunya moda transportasi yang digunakan adalah speed boat.

"Terapung di tengah laut, terjun ke tengah laut dari speed boat yang ditumpanginya karena dihantam ombak, itu bukan hal yang aneh lagi. Sudah dianggap biasa," ungkapnya.

Bahkan Partito pernah mengalami terombang-ambing selama 10 hari di laut lepas. Pada saat itu ombak besar. Stok bahan makanannya habis. Dia terpaksa makan kapurun (sagu yang dibakar, red). Makanan itu membuat pencernaannya terganggu hingga berdarah.

”Karena tidak ada lagi makanan, saya terpaksa makan kapurun. Bagi yang tidak biasa memakannya akan menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan,” bebernya.

Sementara dari sisi sosial, kata Partito, berdakwah di Mentawai harus cukup cerdik memanfaatkan suasana. Bila salah dalam bersikap bisa berdampak pengusiran. Dan bukan tidak mungkin juga dikenakan hukum adat setempat. "Masyarakat Mentawai itu sangat sensitif," ujar ayah satu anak ini.

Kendati demikian, pria kelahiran 1983 itu mendapatkan pengalaman lain yang tidak kalah menarik dan tak mungkin dilupakan. Suatu hari Partito harus diundang memberikan tausyiah di dalam gereja. Hal ini tentu tidak lazim bagi dia sebelumnya. Bila salah melakukan penyampaian tausyiah, maka bisa berdampak fatal terhadap dirinya. "Di pedalaman itu justru saya sering diundang ke gereja untuk memberikan tausiyah,” ucapnya.

Alhasil berdakwah di tempat ibadah umat nasrani itu, kini banyak warga Mentawai menjadi mualaf. Tidak hanya sekadar memeluk Islam, warga Bumi Sikerei itu malah berapaya mempelajari Islam lebih dalam lagi.

"Kini pandangan masyarakat Mentawai telah berubah terhadap Islam. Warga tak lagi menganggap Islam, agama yang fanatik. Islam dan agama non-muslim lainnya dapat hidup berdampingan tanpa adanya permusuhan," terangnya.

(iil/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP