Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Bimbel Terang Surabaya, Pendampingan Pendidikan untuk Sekolah Swasta ’’Pinggiran’’

| editor : 

BERBAGI: Anggota Bimbel Terang Surabaya.

BERBAGI: Anggota Bimbel Terang Surabaya. (Okky Putri Rahayu/Jawa Pos)

Berawal dari niat berbagi yang berujung mengabdi. Itulah yang dialami tim bimbingan belajar (bimbel) Terang Surabaya. Tak mau sekadar menyumbang keperluan sekolah, kini mereka telaten memperbaiki mutu pendidikan.

OKKY PUTRI RAHAYU, Surabaya

RUANGAN kelas MI Diponegoro, Asemrowo, masih ramai. Murid masih lengkap meski jumlahnya tak banyak. Hanya ada 16 siswa di situ. Sang guru juga aktif menerangkan materi. Padahal, jam pulang sekolah sudah tiba. Yakni, pukul 10.00.

Sudah dua bulan terakhir ada jam tambahan di sekolah tersebut. Atau sebut saja bimbel. Hari itu, Senin (18/9), adalah jadwal kelas I. Karena anak-anak belum lancar baca tulis, materi bimbel adalah seputar pengenalan huruf. Maklum, sebagian besar murid tak menempuh jenjang TK. Karena itu, kemampuan baca tulis mereka masih kurang. Bahkan, ada yang tidak tahu huruf sama sekali.

Namanya juga anak-anak, tingkahnya beragam. Apalagi, kebanyakan murid berasal dari kalangan menengah ke bawah. Ketertiban kelas nyaris tak terlihat. Sepanjang bimbel, masih ada saja yang bicara sendiri. Ada yang naik ke meja. Hingga berlari-larian mengganggu temannya. Bahkan, tidak sedikit yang merengek minta pulang.

”Laopo sih gupuh mulih (kenapa bingung minta pulang, Red)?” ucap Fadhil Ahmad, salah seorang murid, menanggapi rengekan temannya. Memang, di antara murid yang tidak tertib, ada yang tampak tekun menulis. Meskipun Fadhil tak sejago yang lainnya dalam menghafal huruf.

Hal itu terlihat ketika sang guru, Muhammad Abdul Ghoni, menanyakan bentuk huruf W kepada Fadhil. ”Duh, cek angele (susah sekali, Red) sih, Pak,” celetuk bocah 6 tahun itu.

Untuk memudahkan pemahaman anak, pemaparan materi menggunakan media ajar. Salah satunya stik es krim. Siswa lantas diajak membentuk huruf dengan menggunakan beberapa stik es krim. Alhasil, siswa bisa kembali anteng menjalani bimbel.

Dengan bimbingan itu, para murid memang bisa mendapat pelajaran tambahan untuk meminimalkan ketertinggalan. Apalagi, bimbel tersebut gratis. Tak dipungut biaya sepeser pun. Bahkan, para guru mendapat insentif. Lalu, khusus lima anak dengan kemampuan kurang kembali mendapat tambahan pelajaran selama 30 menit.

MI Diponegoro hanya satu di antara total 60 sekolah yang diasuh Terang Surabaya. Program dari Yayasan Indonesia Sejahtera dan Barokah itu sudah berjalan tiga tahun terakhir. Terutama untuk meningkatkan kemampuan siswa-siswi SD/MI swasta ’’pinggiran’’. Plus kualitas mengajar para guru.

Tidak hanya memberikan bimbingan, Terang Surabaya juga getol memupuk semangat anak untuk bersekolah. Hal itu diungkapkan Yasin Wijaya, ketua Yayasan Indonesia Sejahtera Barokah sekaligus inisiator program Terang Surabaya.

Karena itu, seminggu sekali ada pembagian buah dan susu. Kadang buah dan roti. Hal itu, lanjut Yasin, dimaksudkan untuk menyemangati anak-anak. Maklum, tingkat bolos anak di sekolah marginal terbilang tinggi. ”Makanya kami ketat. Sekali bolos, dia enggak dapat jatah,” ungkapnya.

Tak jarang, ada saja anak yang menangis karena itu. Namun, hal tersebut memang cambuk agar anak jera dan tidak lagi membolos. Belum lagi, ada iming-iming game day setiap bulan. Syaratnya masih sama. Anak tidak boleh bolos bimbel.

Di ajang permainan itu, banyak permainan edukatif yang bisa diikuti murid. Belum lagi, banyak hadiah yang bisa diraih. Yasin mengungkapkan, kasus bolos masih jadi permasalahan sekolah pinggiran. Maklum, kesadaran akan pendidikan tak terlalu tinggi. Karena itu, Yasin dan tim terus mengadakan kegiatan untuk mengajak anak semangat belajar.

Selain itu, kemampuan akademik anak terbilang kurang. Karena itu, tak jarang anak ogah-ogahan belajar dan tidak memedulikan nilai. Sebagai solusi, Yasin menciptakan penilaian tanpa angka. Setiap anak mendapat stempel ketika menuntaskan tugas.

”Mereka ini biasa kalau dapat nilai 30 atau 40,” ungkapnya. Karena itu, dengan stempel, anak bisa mendapat kepercayaan diri. Setidaknya, mereka bisa mendapat stempel yang sama dengan para siswa yang tergolong pintar. Karena itu, lanjut Yasin, siswa tak jarang berlomba-lomba mendapat stempel ”The Best” dari sang guru.

Karena itu, ada pula anak yang menangis ketika stempelnya dirobek oleh temannya. Rupanya, menurut Yasin, anak-anak jadi lebih cinta pada stempel jika dibandingkan dengan nilai angka. Hal tersebut memang perlahan membuat anak berlomba menuntaskan tugas dengan baik.

Selama ini, proses bimbel memang dipasrahkan kepada para guru. Yasin dan tim hanya menyusun kurikulum dan memantau pelaksanaan di lapangan. Meski demikian, para guru yang mengajar bimbel tak bisa sembarangan. Bahkan, ada pelatihan khusus terhadap para guru tersebut. Ke depan, Yasin membuka pusat pelatihan untuk para guru.

Di situ, para guru bimbel Terang Surabaya akan dilatih untuk menyampaikan materi dengan metode konkret. Sebab, menurut Yasin, pemaparan materi harus konkret dulu. Misalnya, konsep perkalian. Anak harus diajak paham dengan contoh nyata. Yakni, lewat media ajar. Lalu, dilanjutkan konsep gambar. Barulah anak dikenalkan pada teori konsep perkalian. ”Ben gak bingung, jane sinau iku gawe apa sih (biar tidak bingung, sejatinya belajar itu untuk apa, Red),” ujar pria yang sempat tinggal 12 tahun di Amerika itu.

Model pembelajaran dan penilaian itu digodok oleh Yasin dan tim dengan matang. Hal tersebut terlihat ketika Yasin dan tim rapat di kantor mereka di kawasan Lebak Jaya pada Senin (18/9). Yasin dan tim juga mengevaluasi model pemaparan materi yang paling efektif pada anak.

Meski demikian, Yasin mengaku tak mudah menekuni kegiatan itu. Awalnya, Yasin dan tim hanya ’’asal sok tahu’’. Sebelumnya, yayasan sosialnya hanya berniat menyumbang kebutuhan sekolah. Rupanya, setelah terjun ke lapangan, Yasin menemukan masalah pembelajaran yang saat ini dibenahinya.

Karena itu, secara perlahan dia dan tim menciptakan kurikulum, melatih guru hingga konsisten, dan menyemangati murid. Apalagi, dia mengaku sempat heran dengan gaji guru swasta yang sangat kecil. Karena itu, demi meningkatkan kualitas mengajar guru, Yasin juga menambah penghasilan guru. ”Agar sumbangan dari donatur bisa berkelanjutan untuk perbaikan mutu pendidikan,” terang lulusan sarjana bidang finance accounting itu.

Lebih jauh, kegiatan tersebut juga ditujukan untuk memangkas kesenjangan antara kaum miskin dan kaya. Sebab, bekal pendidikan merupakan yang paling strategis untuk membenahi kehidupan sosial. ”Kalau enggak dididik, mereka berpotensi mengganggu aktivitas sosial. Jadi, kita ajak maju sama-sama,” ujarnya.

(*/c6/dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP