Minggu, 22 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Halimah Yacob Serap Aspirasi Ditemani Mi dan Teh

| editor : 

PUSAT KULINER: Restauran Hello Food di kawasan Shenton Way pada Minggu lalu (17/9). Di kawasan ini dulu Halimah Yacob berjualan nasi padang bersama sang ibu.

PUSAT KULINER: Restauran Hello Food di kawasan Shenton Way pada Minggu lalu (17/9). Di kawasan ini dulu Halimah Yacob berjualan nasi padang bersama sang ibu. (Candra Kurnia/Jawa Pos)

Jejak masa kecil Halimah Yacob di tempatnya berjualan nasi padang memang sudah sulit terlacak. Tapi, pengaruh ibu dan hari-hari berat di kawasan itu turut membentuk karakternya sampai sekarang: sederhana, pekerja keras, dan peduli kepada warga sepuh.

Candra Kurnia, Singapura

CHYE Simon masih mengingat benar hari-hari ketika Halimah Yacob kerap blusukan ke warungnya. Memesan makanan dan minuman sembari menyerap aspirasi.

Sampai dengan 2015, Halimah memang wakil rakyat yang mewakili Bukit Batok, kawasan di mana warung Simon berada. ’’Biasanya dia pesan mi rebus atau mi siam, sama teh. Saya masih simpan foto saat dia makan di tempat saya,’’ katanya tentang perempuan 63 tahun yang Kamis lalu (14/9) dilantik sebagai presiden Singapura itu.

Setiap kali Halimah datang ke daerah-daerah yang diwakilinya, terang Simon, warga bisa langsung melapor kalau ada masalah di lingkungan sekitar. Misalnya masalah pelayanan publik, kondisi ekonomi, atau nasib orang-orang tua yang tak memiliki penghasilan tetap. ’’Dia paling perhatian dengan nasib orang-orang sepuh. Yang dilakukan ya menyantuni mereka. Biasanya satu orang SGD 200 atau SGD 300,’’ terangnya.

Kepedulian Halimah terhadap warga senior sangat dipengaruhi kecintaannya terhadap sang ibu, Maimun Abdullah. Zaenal, sopir pribadinya selama delapan tahun, mengenang bagaimana ibu lima anak itu konsisten memperjuangkan dana sosial bagi janda-janda tua dan warga senior tak berpenghasilan.

Halimah bahkan menyebut hari meninggalnya sang bunda dua tahun lalu sebagai hari paling sedih sepanjang hidup. ’’Ibu saya adalah sosok yang membuat saya bisa seperti sekarang,’’ ucapnya dalam sejumlah kesempatan seperti ditirukan Zaenal saat bertemu Jawa Pos sehari setelah pelantikannya (15/9).

Sang ayah meninggal ketika Halimah baru berusia 8 tahun. Untuk menghidupi keluarga, sang ibu, dengan dibantu Halimah, berjualan nasi padang di kawasan Shenton Way. Tapi, sudah sangat sulit melacak jejak perjuangan masa kecil Halimah itu sekarang.

Shenton Way pada 1960-an adalah kawasan laut dan pertambakan. Namanya Telok Ayer Basin. Karena kebutuhan lahan, pemerintah Singapura kemudian melakukan reklamasi di sana. Lebih dari setengah abad kemudian, Shenton Way menjelma menjadi kawasan pusat bisnis. Dijejali kantor bank-bank level internasional seperti Deutsche Bank, Citibank, dan Shenton House.

’’Di sini dari dulu memang banyak orang jual makanan. Tapi, saya baru dengar dari Anda kalau Madam Halimah pernah jualan nasi padang di daerah sini,’’ kata Simon yang juga memiliki restoran, Hello Food, di kawasan tersebut.

Status warisan masa lalu Shenton Way yang masih tersisa sampai sekarang memang sebagai salah satu pusat icip-icip Singapura. Meski memang ketika Jawa Pos datang Minggu lalu (17/9) tampak sepi karena semua perkantoran sekitar libur.

Di seberang Shenton Way, misalnya, berdiri pusat kuliner Lau Pa Sat. Di sana puluhan warung menjual menu makanan dari berbagai belahan dunia. Mirip pujasera kalau di Indonesia. Sementara itu, di trotoar samping Lau Pa Sat, terdapat deretan penjual sate yang berdiri dengan kedai semipermanen. Penjual sate itu baru buka pukul tiga sore.

Dari sejumlah referensi, Halimah diketahui juga berjualan menggunakan rombong seperti kaki lima. Itu dilakukan sebelum ibunya bisa memiliki tempat permanen di kawasan tersebut.

Beberapa orang yang ditemui Jawa Pos meyakini bahwa Halimah pernah berjualan nasi padang di kawasan yang kini berdiri Citibank atau di belakang Shenton House. ’’Waktu saya masih muda dulu sering makan di daerah sini memang. Banyak stall yang berdiri dan kalau sudah tutup, stall itu ya didorong lagi pulang,’’ kata Nihayah Ali Yunus, seorang petugas sekuriti di sebuah kondominium di dekat Citibank yang kini usianya sudah 63 tahun.

Jejaknya di Shenton Way mungkin memang sudah sulit terlacak. Tapi, hari-hari berat bersama sang ibu di kawasan itulah yang tampaknya turut membentuk Halimah sampai sekarang.

Kesederhanaan dan perhatiannya kepada rakyat kebanyakan sedikit banyak bersumber dari kawasan tambak yang kini jadi sentra bisnis tersebut. Berjualan makanan dan berinteraksi dengan orang dari segala latar belakang membuatnya bisa luwes bergaul dengan siapa saja. ’’Dulu masih gampang berfoto dengan dia,” kenang Simon.

Ya, dulu. Halimah mungkin memang masih tetap figur sederhana sampai sekarang. Tapi, apa boleh buat, aturan protokoler membuat geraknya otomatis terbatasi. ’’Ada banyak pengawal yang menjaganya sekarang. Mau salaman saja susah, apalagi foto,’’ kata Simon.

Halimah memang juga memilih tetap tinggal di flat yang telah dia tempati selama 30 tahun terakhir bersama keluarga. Tapi, di mata warga seperti Simon, pilihan itu juga banyak mudaratnya. Terutama terkait tentang pengamanan. Yang paling dirasakan adalah ketika presiden perempuan pertama Singapura itu harus masuk dan keluar flat untuk pergi ke suatu tempat.

Satuan pengaman presiden akan menutup sementara jalur yang dilewati. Memang tidak terlalu panjang. Hanya dari lantai 6 flat menuju parkiran mobil, lalu keluar blok menuju jalan utama. Tapi, tutur Simon, kalau misalnya ada yang sakit atau mau melahirkan di saat seperti itu, akan sangat merepotkan. ’’Sudahlah, tinggal di istana saja. Rendah hati dan ingin hidup sederhana boleh, tapi jangan menyusahkan orang lain,’’ katanya.

Tiap pilihan memang akan selalu mendatangkan konsekuensi. Yang patut digarisbawahi, belum tentu juga suara Simon mewakili suara kebanyakan. Sebab, Halimah tentu juga punya pertimbangan mengapa memilih bertahan di flat. Agar tak lupa pada akar, misalnya. Agar tetap dekat dengan bagian tak terpisahkan dari dirinya: rakyat kebanyakan.

Toh Halimah sudah membuktikan kepedulian itu sepanjang karir politiknya. Bahkan, mungkin sepanjang hidupnya.

Sampai-sampai Perdana Menteri Lee Hsien Loong, saat memberikan sambutan di pelantikan, menyebut perempuan keturunan Melayu itu, dengan segala jejak hidupnya, adalah simbol yang paling tepat untuk menggambarkan Singapura. Sebuah negeri liliput yang menjelma jadi raksasa ekonomi berkat kerja keras. ’’Bahwa bagaimanapun kondisi Anda, Anda tetap bisa mengejar mimpi di tanah harapan ini,’’ ucap Loong.

(*/c17/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP