Senin, 23 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Humaniora

Kapolri Ungkap Langkah Tangkal Paham Radikal dan Teroris ke Mahasiswa

| editor : 

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menggelar kuliah umum di Auditorium PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (19/9)

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menggelar kuliah umum di Auditorium PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (19/9) (Istimewa)

JawaPos.com - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menggelar kuliah umum di Auditorium PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (19/9). Di sana dia dia memaparkan bahayanya paham radikal dan terorisme kepada 1.000 lebih mahasiswa dari 30 perguruan tinggi di Jakarta.

Jenderal bintang empat ini menerangkan, perkembangan terorisme di Indonesia saat ini merupakan gelombang kedua perkembangan teror. Hal itu ditandai dengan berubahnya idelogi dari salafi jihadi menjadi ideologi takhfiri.

Lalu muncul pula lone wolf dan leaderless jihad. “Itu sebagai dampak permasalahan konflik yang berada di Timur Tengah, yang diterima tumpahannya sampai ke Indonesia dan negara-negara lain di regional Asia Tenggara, seperti di Marawi dan di Myanmar,” kata dia, Selasa (19/9).

Hal itu kata dia merupakan fenomena global yang perlu ditangani secara komprehensif dan hati-hati agar tidak menimbulkan rasa solidaritas yang masif dan akan mempersulit penanggulanngannya.

Mantan Kapolda Papua ini menerangkan, metode yang paling baik adalah dengan penggunaan soft approach, melalui lima langkah. “Yang pertama adalah kontra radikalisasi, kedua, pelibatan mahasiswa dan elemen negara lainnya dalam proses deradikalisasi, yang ketiga adalah meluruskan ideologi jihad agar tidak banyak masyarakat yang terpengaruh ideologi ini,” papar dia.

Lalu kata dia langkah selanjutnya adalah menetralisir media yang menyebarkan berita-berita bohong atau fake news. “Dan yang terakhir adalah menetralisir situasi yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya radikalisasi,” tambahnya.

Dia juga menyebut bila penggunaan kekuatan yang terukur juga diperlukan, hal itu tentu dengan didukung analisis intelijen yang kuat. Lalu menggunakan metode Scientific criminal investigation untuk membuktikan tindak pidana yang terjadi tanpa perlu penggunaan kekerasan.

“Kolaborasi dengan satuan-satuan TNI untuk menghadapi segala macam pertempuran baik urban war maupun jungle warfare, semua upaya ini perlu landasan hukum yang memberikan kewenangan kepada Polri untuk bertindak lebih flexible melalui revisi Undang-undang teror,” tukas dia.

(elf/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP