Selasa, 12 Dec 2017
Logo JawaPos.com
Travelling

Didik Nini Thowok Warnai Pembukaan Gumebyar Pesona Gunung Kawi 2017

| editor : 

Maestro Tari Didik Nini Thowok saat menarikan tari Pancasari

Maestro Tari Didik Nini Thowok saat menarikan tari Pancasari (Disparbud Kabupaten Malang for Jawa Pos)

JawaPos.com- Tarian Pancasari yang dibawakan maestro tari tradisionil dan kontemporer, Didik Nini Thowok, mewarnai acara pembukaan even Gumebyar Pesona Gunung Kawi 2017, Selasa (19/9). Tentu saja, penampilan dosen ASTI Yogyakarta ini, seperti biasanya selalu mengundang tawa para pengunjung yang memadati Lapangan Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari.

 Berbagai gerak tari dengan alunan musik gamelan jawa kontemporer, mengiringi Didik mampu memukau dan membuat decak kagum juga sekaligus tawa para tamu undangan serta para wisatawan yang hadir.  Ada gerak tari jawa, tionghoa, Bali dengan iringan sesuai gerak tari tersebut. ‘’Tari Pancasari ini merupakan simbol persatuan adat dan budaya di Gunung Kawi,’’ kata Didik usai acara.

Menurut Didik, sengaja tari itu dibawakan pada acara Pesona Gunung Kawi ini, karena berdasar pada kehidupan masyarakat Desa Wonosari, yang begitu menjaga kesatuan dan persatuan. ‘’Gunung Kawi ini  ada berbagai etnis dan agama. Antara mereka dari jawa dan Tionghoa, hidup berdampingan. Di sini juga ada masjid dan klenteng berdampingan, tapi bisa rukun,’’ katanya.

Oleh Karena itu, lanjut Didik, toleransi yang tinggi di Gunung Kawi ini mampu menjaga  kerukunan beragama yang begitu kental. Cerminan dari kehidupan masyakarat itulah maka lahirlah Tari Pancasari. ‘’Melalui kesenian, bisa dimunculkan semangat toleransi juga. Karena itu sudah sepantasnya bila Desa Wonosari, yang berada di Gunung Kawi ini memiliki tarian khas Gunung Kawi,’’ jelasnya.

Pada kesempatan itu hadir Istri Bupati Malang, Jajuk Sulistyowati, Wakil Bupati Malang, Sanusi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Malang, masyarakat Desa Wonosari, dan wisatawan yang hadir.

Kehadiran Didik sendiri di even Pesona Gunung Kawi 2017 ini, memang untuk memberikan arahan para peserta lomba cipta tari  Gunung Kawi. Diharapkan dari lomba tari ini, diperoleh satu bentuk tarian yang merupakan ciri khas dari masyarakat yang ada di Gunung Kawi, yakni Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari.

Kadisparbud Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara mengatakan, perlunya tari khusus yang bersumber dari masyarakat Gunung Kawi ini selain menggairahkan khasanah kesenian dan budaya lokal, juga untuk mendukung pariwisata di Gunung Kawi. ‘’Gunung Kawi ini sudah jelas merupakan destinasi wisata religi multi etnis. Ada Islam, ada pula Tionghoa. Tapi untuk kesenian khas masih belum punya. Karena itu, pada even inilah nanti bakal melahirkan kesenian tari khas Gunung Kawi,’’ katanya.

Lomba cipta tari itu sendiri diikuti sebanyak 35 grup tari dari berbagai wilayah di Kabupaten Malang. Mereka diberi kebebasan menampilkan tarian.’’Tentunya pemenangnya nanti kami pilih yang mencerminkan kehidupan masyarakat Gunung Kawi. Nah, peran Mas Didik ini untuk melakukan arahan tari bagi peserta yang lolos 10 besar,’’ jelasnya.

Setelah lolos 10 besar  akan dipilih kembali satu tarian yang memang pantas menjadi tari khas Gunung Kawi. Untuk satu tarian khas itu akan ditampilkan pada penutupan Kamis (21/9).

Even ini tidak hanya mencari tari khas Gunung Kawi, tetapi juga mencari kuliner khas Gunung Kawi. Sehingga dengan memiliki tari khas dan kuliner khas, Gunung Kawi tidak hanya sebagai tempat wisata religi, tapi juga sudah memiliki tarian dan kuliner tersendiri. Untuk kuliner, sudah disiapkan kuliner olahan telo yang juga tengah dilombakan pada even ini. ‘’Nah tarian dan kuliner terpilih nanti bakal mewarnai pariwisata di Gunung Kawi,’’ kata Made.

(mik/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP