Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Music & Movie

Minim Penonton Tidak Mampu Membendung Turah

| editor : 

Poster film Turah

Poster film Turah (Istimewa/dok fourcolorsfilms)

JawaPos.com - Wicaksono Wisnu Legowo tidak menyangka film yang disutradarainya, berjudul Turah dipilih mewakili film Indonesia dalam kancah Academy Awards atau Oscar 2018. Menurutnya film tersebut dibuat tanpa mimpi besar masuk ke ajang pengharagaan berkelas itu.

"Dulu awalnya yang penting filmnya jadi. Aku enggak menyangka umurnya bisa sepanjang ini, sudah hampir setahun ternyata masih ada yang mengapresiasi Turah," kata Wicaksono Wisnu Legowo, Selasa (19/9).

Dalam perjalanannya, Turah telah sering kali masuk nominasi dan meraih penghargaan dalam maupun luar negeri. Film yang diproduseri Ifa Isfansyah itu sukses berjaya di festival seperti Singapore International Film Festival 2016, Jogja - NETPAC Asian Film Festival 2016, Bengaluru International Film Festival 2017, Asean International Film Festival and Award 2017, Seoul International Agape Film Festival 2017, Cinemalaya Independent Film Festival 2017 dan lainnya.

Namun sayang saat diputar di bioskop nasional pada Agustus lalu, film Turah hanya meraih sekitar lima ribu penonton dengan total 16 layar. Meski demikian, Wicaksono Wisnu Legowo dan tim produksi tidak lantas kecewa, hingga akhirnya kini menorehkan prestasi bagus di tingkat internasional.

"Yang tadinya Turah bertemu penonton di ruang festival, ternyata bisa masuk di ruang yang lebih besar lagi, bertemu penonton baru, seru sih," ucapnya.

Seperti diketahui, Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) resmi memilih film Turah sebagai perwakilan Indonesia dalam Academy Awards atau Oscar 2018. Ketua Komite Seleksi PPFI Christine Hakim mengatakan bahwa banyak alasan film tersebut bisa dikirim untuk seleksi kategori Best Foreign Language Film dalam ajang tersebut.

"Salah satu kekuatan dari film ini adalah kejujuran dan kesederhanaan. Apakah itu dari segi tematik atau segi penggarapannya. Tidak ada pretensi untuk buat film yang genit atau kultural edukatif atau mau menjual kemiskinan," ujar Christine Hakim di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (19/9).

Pihak PPFI yang ditunjuk Academy of Motion Pictures Arts and Sciences (AMPAS) itu menilai konten yang diangkat dalam film Turah sangat kuat dan menarik. Yakni tentang problematika penduduk Kampung Tirang, Tegal, Jawa Tengah, yang terisolasi bertahun-tahun mencerminkan kehidupan sekarang.

"Masalah teknis, Hollywood tidak ada yang bisa mengalahkan. Jadi kami tidak berkompetisi dari segi itu. Tapi yang yang lebih penting adalah bagaimana kekuatan dari konten film ini bisa sampai ke penonton di belahan dunia lain," jelas.

"Belajar dari film-film yang menang Best Foreign Language Film, kalau mau dilihat secara teknis biasa-biasa aja, kayak film Separation dari Iran. Mengenai perceraian. Topik yang sangat sederhana, tapi penggarapannya dramatiknya begitu kuat dan sampai pesannya ke masyarakat," lanjut Christine Hakim.

Setelah dipilih, film Turah bakal mengikuti seleksi agar masuk dalam 10 besar Best Foreign Language Film untuk Oscar 2018.

Turah adalah film yang menggunakan bahasa Jawa dialek Tegal. Film arahan sutradara Wicaksono Wisnu Legowo itu mengangkat cerita konflik sosial di Kampung Tirang, Tegalsari, Kota Tegal.

Pemeran di film Turah seluruhnya memakai pemain dari Tegal yang merupakan seniman teater. Turah diperankan oleh Ubaidillah, Slamet Ambari sebagai Jadag, Yono Daryono sebagai Darso, Rudi Iteng sebagai Pakel, Narti Diono sebagai Kanti, dan lainnya.

(ded/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP