Senin, 11 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Halimah Berziarah ke Makam Ibu Sehari Setelah Dilantik Jadi Presiden

| editor : 

SEDERHANA: Foto kiri, flat yang ditempati Presiden Singapura Halimah Yacob. Dan kanan adalah Halimah.

SEDERHANA: Foto kiri, flat yang ditempati Presiden Singapura Halimah Yacob. Dan kanan adalah Halimah. (Candra Kurnia/Jawa Pos-AP)

Halimah Yacob tinggal di flat berlift kuno dengan hanya dua polisi yang berjaga. Tiap Ramadan rutin memberikan santunan kepada ratusan orang.

CANDRA KURNIA, Singapura

BEGITU keluar dari lift di lantai 6 flat itu, seorang polisi yang berjaga langsung mencegat. ”Anda mau ke mana?” tanyanya.

Jawa Pos pun menerangkan hendak berkunjung ke kediaman Madam Halimah Yacob. Untuk memberikan selamat atas dilantiknya dia sebagai presiden Singapura sehari sebelumnya (14/9). Juga, meminta waktu buat wawancara. Sebab, sudah mengirimkan e-mail untuk keperluan tersebut. Meski memang belum dijawab.

”Tidak bisa, beliau tidak ada di sini, sedang ada di istana. Jadi, maaf Anda tidak boleh ada di sini,” kata polisi tersebut.

Saat keluar dari lift di lantai tersebut, siapa pun memang akan langsung menuju beranda rumah madam president. Pada Jumat siang lalu itu (15/9), selain yang mencegat Jawa Pos, ada seorang polisi lain yang berjaga.

Mereka tidak bersenjata lengkap. Hanya tampak pistol terselip di pinggul kanan. Dua polisi tersebut saling berhadapan dengan posisi ”istirahat di tempat”.

Setiap orang yang tak dikenal (bukan tetangga kiri-kanan flat) pasti langsung dihadang untuk ditanya maksud keberadaannya di sana. Jawa Pos kembali mengalaminya sehari kemudian (16/9), saat berkunjung lagi ke sana dengan alasan sudah janjian dengan suami Halimah (padahal belum hehehe).

Di seantero flat yang beralamat di Yishun Avenue 4 tersebut, ya hanya dua polisi itu yang berjaga. Flat tersebut juga biasa saja. Bukan model apartemen kelas atas di Singapura. Dibangun oleh Housing and Development Board (HDB), badan di bawah Kementerian Pembangunan Nasional yang bertanggung jawab mengurusi perumahan rakyat.

Liftnya bahkan terlihat sudah kuno jika tidak ingin menyebutnya jelek. Para anggota DPR Indonesia perlu melakukan studi banding ke sini sebelum menuntut dibangunkan apartemen.

Sebenarnya tidak ada aturan di Singapura yang mewajibkan seorang presiden tinggal di istana. Hanya Yusof Ishak, kepala negara pertama negeri bekas koloni Inggris itu, yang tinggal di istana. Setelah itu, semua presiden tinggal di rumah pribadi.

Tapi, dalam kasus Halimah, dia akan menjadi presiden pertama Singapura yang tinggal di perumahan umum (flat). ”Hampir 80 persen rakyat Singapura tinggal di flat seperti saya. Saya sendiri nyaman tinggal di sana,” ucap Halimah dikutip The Strait Times.

Halimah merupakan presiden kedua Singapura dari etnis Melayu setelah Yusof. Tapi, terpilihnya perempuan 63 tahun itu dibayangi kontroversi. Dari tiga calon yang mendaftar, yakni Halimah, Salleh Marican, dan Farid Khan, hanya nama pertama yang lolos verifikasi administrasi.

Berdasar aturan pembagian jatah menjadi presiden kepada tiga etnis terbesar Singapura, pemilu tahun ini memang dijatah khusus untuk keturunan Melayu. Yang kemudian menjadi masalah dan serangan kritik dari sebagian rakyat Singapura adalah syarat superberat yang harus dipenuhi kandidat dari swasta. Mereka harus memiliki kepemilikan saham di perusahaan minimal senilai SGD 500 juta.

Syarat itulah yang menjegal dua kandidat di luar Halimah, Salleh Marican dan Farid Khan. Sementara itu, bagi calon berlatar pejabat publik seperti Halimah, syaratnya pernah menjabat minimal tiga tahun. Halimah memenuhi kualifikasi itu karena sudah pernah menjadi ketua DPR Singapura sejak 2013.

Jadilah, perempuan yang pernah berjualan nasi padang pada masa kecilnya itu menjadi satu-satunya calon yang lolos persyaratan. Tanpa lawan, dia pun terpilih sebagai presiden. Sebagai respons, langsung saja muncul tagar #NotMyPresident dan #BukanPresidenSaya di Twitter. Sebuah demonstrasi diam juga dihelat.

Untuk ukuran perpolitikan Singapura yang selama ini dikenal anteng dan tertib, protes tersebut sudah termasuk ”huru-hara”. Tapi, toh itu tak lantas membuat warga Singapura mengenal luar dalam presiden mereka.

Untuk menemukan flatnya saja tak mudah. Ketika turun di Stasiun MRT Yishun, setidaknya empat orang yang ditanyai Jawa Pos tak tahu letak kompleks flat di Yishun Avenue 4. Sampai kemudian Jawa Pos bertemu seorang ibu berjilbab dan berparas Arab. ”Oh Madam Halimah, rumahnya masih jauh dari sini. Anda harus naik bus 805 dulu ke Yishun Avenue 4. Saya kebetulan tinggal di dekat situ,” ucapnya.

Memang Yishun Avenue 4 ternyata tidak sedekat seperti yang disebut Google Map: hanya 750 meter dari Stasiun MRT Yishun. Tapi, ketidaktahuan itu bisa jadi tak terkait dengan jarak. Di Jakarta, rasa-rasanya tak ada yang tidak tahu di mana Jalan Cendana, kediaman mantan Presiden Soeharto.

Presiden di negara yang menganut sistem parlementer memang bisa dibilang hanya jabatan ”seremonial”. Kendali pemerintahan berada di tangan perdana menteri. Kendati untuk Singapura, seorang kepala negara masih punya hak veto menolak anggaran belanja negara. Juga, berwenang memilih pejabat senior seperti jaksa agung atau panglima militer.

Letak lantai kediaman Halimah didapat Jawa Pos dari mantan sopir pribadinya yang secara tak sengaja bertemu di depan flat. ”Beliau tinggal di lantai 6. Tapi, saya tidak yakin apakah kamu boleh ke sana. Banyak polisi yang menjaga,” katanya sebelum Jawa Pos naik ke lantai 6.

Ketika bertemu kembali di lantai bawah, pria berambut putih dan tambun itu mengaku delapan tahun menjadi sopir pribadi ibu lima anak tersebut. ”Orang-orang yang mengkritik Madam di Facebook itu tidak tahu bagaimana keseharian beliau. Beliau sangat dermawan, rendah hati, dan sangat peduli dengan orang yang tidak mampu,” kata si mantan sopir yang masih bersikukuh tak mau menyebutkan namanya itu.

Setiap Ramadan, lanjut dia, Halimah selalu memberikan santunan kepada orang-orang tidak mampu setiap hari SGD 200 atau SGD 300. ”Minimal SGD 100 kepada ratusan orang,” ungkapnya.

Meski dikritik habis-habisan, menurut dia, Halimah juga tetap bersikap rendah hati. ”Dia sudah berjanji akan menjadi presiden bagi semua rakyat Singapura,” katanya. Kebersahajaan Halimah lainnya adalah keengganannya pindah dari flat untuk tinggal di istana. Di lantai 6 flat Yishun Ave 4 itu, Halimah sudah tinggal bersama sang suami sejak 30 tahun lalu.

Sebelumnya bersama ibu yang membesarkannya dengan berjualan nasi padang. Itu dijalani setelah sang ayah meninggal ketika usianya masih delapan tahun. Sang ibu wafat dua tahun lalu. ”Pagi tadi Madam juga masih menyempatkan diri untuk berziarah ke makam ibu,” terangnya.

Di tengah-tengah perbincangan, seorang pria paro baya keluar dari lift dan menghampiri. Pria tersebut bersongkok, mengenakan kemeja batik, dan berkacamata. Dia ikut menanyakan asal Jawa Pos. ”Yo wes, mangan sek kono,” katanya dengan logat yang aneh.

Menurut dia, banyak orang Jawa yang tinggal di sekitar flat tersebut. Tiba-tiba pria itu meminta seseorang yang keluar lift bersamanya tadi untuk memfoto kami bertiga. Karena belum mendapatkan nama mantan sopir Halimah dari orangnya sendiri, Jawa Pos kemudian bertanya kepada pria paro baya tadi. Dari dia diketahui bahwa nama si driver tersebut Zaenal.

Untuk memastikannya, Jawa Pos memanggil namanya ketika si sopir sudah berjalan menuju mobil. Ternyata dia menoleh. Jawa Pos menghampiri untuk berterima kasih karena sudah memberikan banyak informasi.

Tak dinyana, Zaenal memberikan informasi tambahan yang sangat mengejutkan. ”Bapak itu (sambil menunjuk pria paro baya tadi, Red) adalah suami Madam Halimah,” katanya.

Dialah Muhammad Abdullah Alhabshee. Jawa Pos sulit mengenali karena di foto-fotonya bersama Halimah yang selama ini beredar, hampir tak ada yang sedang mengenakan penutup kepala. Tanpa berpikir panjang, Jawa Pos mengejar Alhabshee yang sudah bersiap pergi salat Jumat. Kaca mobilnya sudah tertutup dan siap melaju.

Tapi, ketika dihampiri, dia masih bersedia membuka kaca mobilnya lagi. Alhabshee menyopiri sendiri mobilnya. Sedangkan pria muda yang bersamanya dan duduk di sampingnya adalah sang asisten.

Meski tergesa, Alhabshee masih tetap menjawab satu dua pertanyaan Jawa Pos. ”Ya, sekarang semua kegiatan Madam sudah sangat terjadwal. Saya pikir semua presiden di dunia begitu,” jelas Alhabshee dengan kedua tangan tetap berada di setir dan bersiap berangkat ke masjid.

Selain itu, setelah Halimah menjadi presiden, jasa Zaenal tak digunakan lagi. Ada sopir khusus kepresidenan yang setiap hari mendampingi Madam Halimah berkegiatan. ”Pak Zaenal itu sudah delapan tahun menjadi personal driver Madam. Tapi, sekarang dia tetap bekerja dengan keluarga kami,” tambah Alhabshee.

Setelah menjawab pertanyaan itu, Alhabshee berpamitan untuk pergi salat Jumat. Menyetir sendiri, tanpa satu pun pengawalan. Kesederhanaan madam president rupanya menular ke semua anggota keluarga.

(*/c10/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP