Jumat, 15 Dec 2017
Logo JawaPos.com
Metropolitan

Sepi Pengunjung, STC Bak 'Mal Hantu'

| editor : 

Suasana Sepi di STC Senayan

Suasana Sepi di STC Senayan (Rieska Virdhani/JawaPos.com/)

JawaPos.com - Senayan Trade Center (STC) kini tak lagi menjadi primadona. Ya, sekalipun berada di pusat bisnis, STC mulai ditinggal pengunjungnya.

STC Senayan seolah kalah cantik dari pusat perbelanjaan premium di sekitarnya. Sebut saja, Plaza Senayan dan Senayan City yang lebih ramai didatangi pengunjung.

Mengapa kalah cantik? Pantauan JawaPos.com, tampak luar gedung seolah kurang perawatan. Gedung berwarna krem merah jambu itu mulai luntur karena cuaca. Cat dinding dari luar juga seperti terkelupas dan butuh dicat ulang.

Begitu akan masuk ke dalam, hanya ada dua pintu kanan dan kiri yang dibuka secara manual. Ada tiga petugas keamanan yang berjaga. Sedangkan pintu di bagian tengah tak lagi difungsikan dan ditutup dengan pot bunga.

Tak nampak banyak pengunjung, STC Senayan justru cenderung sepi. Dari delapan lantai, ketika JawaPos.com menyambangi mal itu di jam sibuk pada sore hari, tetap saja mal itu sepi pengunjung.

Pencahayaan juga cenderung gelap dibandingkan mal premium. Meski begitu, AC dan aroma mal masih lumayan baik.

Saat mencoba menelusuri satu persatu lantai di sana sekitar pukul 17.00 WIB kemarin (18/9), banyak toko atau gerai yang memilih tutup.
Padahal jam operasional mal tutup pukul 22.00. Entah sang pedagang pulang kampung atau pindah toko, namun hampir seluruh tenant sepi pengunjung alias sepi pembeli.

"Memang sepi seperti ini setiap hari. Ada sih pembeli paling lumayan di akhir pekan (weekend)," kata salah satu penjual mainan yang enggan disebut namanya.

Tak hanya sepi, mal itu seolah horor karena kurang perawatan. Begitu masuk ke dalam mal, pengujung langsung disambut eskalator yang rusak.

Hanya eskalator turun yang berfungsi. Lalu berlanjut ke lantai paling atas, mulai dari lantai 4 seterusnya, eskalator tak berfungsi di kedua arah.

"Memang sudah lama rusak, sudah sebulan belum diperbaiki, mending lewat lift saja," kata petugas kebersihan STC Senayan di lokasi.

Terpaksa harus naik dan turun eskalator secara manual. Semakin ke atas, hampir seluruh tenant tutup. Hanya dua atau tiga toko yang masih buka. Berbeda dengan mal pada umumnya di mana lantai atas biasanya ada pusat makanan atau food court.

"Gerai makanan di Ground Floor. Ada MCDonalds yang masih ramai," ujar petugas kebersihan itu lagi.

Dia mengungkapkan dari delapan lantai, ada dua lantai paling atas yang sedang direnovasi. Kabarnya, dua lantai itu akan disulap menjadi hotel. Sedangkan enam lantai lainnya, selain diperuntukkan untuk pedagang, juga dipakai sebagai perkantoran.

"Lantai atas lagi direnovasi katanya mau jadi hotel. Wah enggak tahu deh kapan jadinya, masih lama juga sih kayaknya," ungkap dia.

Sejumlah pedagang mengaku masih ada pembeli yanng menyambangi toko mereka meski kurang laku. STC Senayan dibangun sejak tahun 2000an sebelum mal premium di sekitarnya beroperasi seperti Senayan City.

Pantauan JawaPos.com, hanya gerai McDonalds yang ramai pengunjung. Gerai lainnya yang masih ramai seperti kedai kopi atau coffee shop.

Ulasan catatan peristiwa di STC Senayan tahun 2014, mal itu sempat diterpa kasus menghebohkan. Kala itu seorang anak bernama Amanda tewas di dalam mal.

Saat itu almarhumah disebut-sebut tersengat listrik karena duduk di antara eskalator dan tersengat kabel neon box.

Namun di luar kasus itu, pengunjung berharap STC Senayan lebih berbenah agar tak kalah dengan mal premium di sekitarnya. Sebab pengunjung tentu lebih menyukai pengalaman (experience) mal kelas premium yang menawarkan fasilitas lebih.

"Tentu saya lebih memilih menyebrang ke Senayan City atau Plaza Senayan karena tenant tokonya lebih banyak barang yang branded jadi saya bisa banyak pilihan. Lalu lebih menarik banyak pilihan kulinernya, wangi dan bersih malnya, dan lebih ramai," kata pengunjung warga Kalibata, Cynthia.

(ika/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP