Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Baru 15 Tahun, Jasmine Jadi Adik Semua Orang di Kampus ITS

| editor : 

MASIH BELIA: Jasmine Athifa Azzahra, meski baru berusia 15 tahun, tapi dia sudah menempuh pendidikan di ITS Surabaya.

MASIH BELIA: Jasmine Athifa Azzahra, meski baru berusia 15 tahun, tapi dia sudah menempuh pendidikan di ITS Surabaya. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

Punya daya pikir di atas rata-rata dalam usia muda memang menakjubkan bagi sebagian orang. Namun, sebenarnya ada susah-senang yang mereka rasakan. Mulai minder karena jadi yang paling muda hingga takut tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan. Untungnya, banyak yang melindungi.

ANTIN IRSANTI, Surabaya

PADA 16 Januari, Jasmine Athifa Azzahra memasuki usia 15 tahun. Kalau ’’normal’’, seharusnya dia masih kelas 3 SMP (kelas IX). Tapi, lima bulan kemudian, Jasmine dinyatakan lolos seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN). Tepatnya, di Departemen Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Jadilah Jasmine sebagai mahasiswi termuda angkatan 2017.

Awalnya, Jasmine cukup excited dengan kehidupan baru yang menantinya sebagai seorang mahasiswa. Dia tidak sabar untuk segera masuk kuliah. Namun, sesampainya di Surabaya, gadis asal Malang itu merasakan homesick. Kangen rumah. Mbok-mboken, orang Jawa bilang.

’’Kos sepi, nggak ada TV, kuliah belum punya temen,’’ akunya mengingat awal kuliah sebulan lalu. Di rumah, Jasmine terbiasa menyalakan televisi. Dengan begitu, suasana rumah terasa ramai. Sementara itu, di kos dia harus hidup apa adanya.

Belum memiliki teman yang akrab di kampus juga menjadi kendala. Alumnus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Malang itu sempat merasa minder. Dia khawatir tidak bisa berinteraksi dengan teman-teman seangkatan karena terpaut usia. Bayangkan, kawan-kawan kuliahnya setidaknya tiga hingga empat tahun lebih tua.

Namun, lama-lama keadaan membaik. Jasmine mulai mengenal teman satu kos. Ibu pemilik kamar sewa tersebut juga sangat baik kepadanya. Apalagi teman-teman di kampus. Mereka memperlakukan Jasmine layaknya seorang adik. ’’Akhirnya jadi adik bersama,’’ ucapnya.

Usianya yang masih belia terungkap ketika masa orientasi mahasiswa baru di departemen teknik industri. Kala itu diumumkan bahwa di angkatan baru tersebut ada mahasiswa termuda. Tentu, nama yang disebut adalah Jasmine. Seketika seluruh mata menoleh kepadanya. Putri pasangan Hanieful Athhar dan Annisa Kesy Garside tersebut malu.

Namun, sejak saat itu, justru teman-temannya semakin baik. Apalagi teman-teman pria. Meski sering menggoda, mereka menjadi seperti kakak laki-laki bagi Jasmine. Mereka juga yang melindunginya ketika main bersama. Jasmine pun sering mendapat tumpangan. ’’Belum boleh punya SIM, jadi belum boleh naik motor,’’ terang gadis yang sebenarnya sudah bisa mengendarai motor matik itu.

Meski demikian, perjalanan awal kuliah Jasmine tidak bisa dibilang lancar-lancar saja. Hingga saat ini, dia masih berusaha beradaptasi dengan materi pelajaran yang diterima. Apalagi, dia masuk kelas Q. Yakni, kelas yang berisi 40 anak dengan skor TOEFL tertinggi. Materi kuliah disampaikan dalam bahasa Inggris.

Untuk memudahkannya dalam belajar, Jasmine membuat pemetaan materi berikutnya. Dia berupaya bisa mengerti pelajaran sebelum diberikan oleh dosen. Sifat ingin tahunya yang tinggi juga membuatnya tidak lepas dari buku pelajaran. ’’Setiap ada soal yang sulit, rasanya gatel pengin ngerjain,’’ katanya.

Lalu, bagaimana Jasmine bisa memiliki otak encer? Dia menjawab tidak tahu. Namun, menurut dia, sejak kecil dirinya memang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban dari persoalan yang menarik baginya.

Memang, Jasmine masuk SD ketika berusia 5 tahun. Dia adalah siswa SD Laboratorium Universitas Muhammadiyah Malang. Saat itu sebenarnya Jasmine sudah ditawari untuk ikut kelas akselerasi. Namun, orang tuanya menolak.

Setelah itu, Jasmine diterima di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Malang. Tawaran memasuki kelas akselerasi kembali datang. Kali ini, orang tuanya menyetujui. Jasmine pun mengikuti tahapan tes. Terutama tes IQ. Rupanya dia berhasil lolos kelas akselerasi. Jadilah dia menyelesaikan pendidikan setara SMP itu hanya dalam waktu dua tahun.

Meski masuk kelas akselerasi, Jasmine tak pernah merasa kesulitan belajar. Tidak ada kiat khusus untuk lebih memahami pelajaran. Dia belajar seperti anak lainnya. Yakni, antara pukul 19.00 hingga 21.00. Namun, dia selalu mendapatkan ranking pertama di kelas.

Masa sekolah mulai menantang ketika Jasmine masuk MAN 3 Malang. Kelas akselerasi di jenjang setingkat SMA itu rupanya jauh lebih sulit daripada saat SMP. Di antara 24 siswa, Jasmine berada di urutan ke-16 pada ujian pertama. Tapi, lama-lama bisa meningkat. Sampai pada kelulusan, dia menduduki peringkat ke-6 di antara 24 siswa.

Orang tua Jasmine sangat mendukung pendidikan anaknya. Sang mama merupakan dosen teknik industri di Universitas Muhammadiyah Malang. Sementara itu, sang ayah bekerja di bidang TI (teknologi informasi) sebuah perusahaan swasta. Tentu saja, mereka sangat peduli dengan kualitas pendidikan dan prestasi anak-anaknya.

Untuk mendukung pemahaman materi, Jasmine mengikuti les privat seminggu tiga kali di rumah. Salah seorang guru lesnya merupakan teman sang mama. Yakni, seorang dosen teknik mesin. Jasmine mengaku lebih nyaman belajar dengan guru les. ’’Kalau nggak tahu, bisa langsung tanya. Kalau belajar sendiri, malah bingung,’’ ujarnya.

Sebelumnya, Jasmine pernah mengikuti bimbingan belajar yang isinya beberapa siswa dalam satu kelas. Dia justru tidak nyaman. Sebab, dia tidak bisa bertanya secara leluasa. Padahal, Jasmine termasuk suka bertanya jika ada soal yang dia tidak mengerti.

Penyuka pelajaran fisika dan matematika itu juga suka mengerjakan soal-soal hitungan di kala bosan. Memikirkan pemecahan soal matematika dasar membuat hari-harinya kembali menyenangkan. Apalagi kalau bisa ketemu jawabannya.

Terkait dengan pemilihan jurusan, Jasmine sebenarnya ingin menjadi dokter. Tapi, karena tidak suka biologi dan hafalan, dia mengurungkan niat tersebut. Kemudian, pilihannya beralih ke manajemen. Tapi, rupanya di jurusan itu juga banyak hafalan. Akhirnya, pilihan jatuh pada teknik industri setelah berdiskusi dengan sang mama. ’’Di industri masih bisa belajar manajemen, tapi juga ada hitung-hitungannya yang aku suka,’’ ungkapnya.

(*/c7dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP