Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Women's

Tindakan Aborsi Pakai Obat Online oleh Mahasiswi Sleman Berbahaya

| editor : 

Dr Ns Ratu Kusuma, S. Kep

Dr Ns Ratu Kusuma, S. Kep (Rieska/JawaPos.com)

JawaPos.com - Tindakan aborsi yang dilakukan mahasiswi berinisial IUJ (18) di Seturan, Caturtunggal, Depok, Sleman dinilai berisiko. IUJ berusaha menggugurkan kandungannya yang berusia tujuh bulan di toilet. Kemudian bayinya yang sudah meninggal dunia disimpan di dalam lemari.

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturrahim, Jambi, Dr. Ns. Ratu Kusuma, S. Kep. M mengungkapkan dalam istilah medis, abortus adalah proses keluarnya janin sebelum usia kandungan kurang dari 28 minggu atau di bawah tujuh bulan. Sedangkan tindakan atau prosesnya namanya aborsi.

"Sebenarnya, kalau di online banyak obat bebas seperti itu. Abortus itu proses keluarnya janin kurangbdari 28 minggu. Keluarnya janin hasil konsepsi secara medis, sebelum usia kurang dadi itu. Atau sebelum janin mampu hidup bertahan di dunia luar," jelas Lulusan Doktor Keperawatan Universitas Indonesia (UI) ini kepada JawaPos.com, Kamis (14/9).

Menurut Ratu, abortus juga terdiri dari bermacam-macam jenisnya salah satunya abortus spontan. Abortus yang dilakukan IUJ bukan spontan, akan tetapi dilakukan dengan paksaan, kesengajaan, dan berbahaya.

"Berbahaya itu. Dokter saja enggak mau, ada sumpah dokter. Abortus itu dilegalkan jika kondisi ibunya enggak memungkinkan untuk hamil atau melahirkan. Artinya atas indikasi medis," kata Ratu.

Sedangkan pada kasus IUJ kata Ratu, adalah kehamilan yang tak diinginkan atau Unwanted akibat hubungan gelap.
Bahkan dilakukan saat kandungan sudah berusia tujuh bulan, dengan kondisi bayi sudah utuh menjadi bayi.

"Saya rasa ini, resikonya sudah besar sekali. Kondisi bayinya sudah besar, ibaratnya tujuh bulan itu lahir prematur yang semestinya bisa hidup melalui bantuan inkubator," katanya.

Tak Steril
Selain menggunakan pil peluruh atau peluntur yang diminum di toko online, Ratu yakin ada alat-alat lain yang digunakan untuk menggugurkannya. Tentunya alat-alat itu tak steril. Pasalnya, untuk menggugurkan kandungan tak semudah hanya tnggal mengonsumsi obat-obatan. Apalagi jika janin sudah tertanam kuat di bagian rahim yang tebal.

"Seseorang bisa abortus bisa dengan pil atau menggunakan alat-alat tak steril. Tapi jika janin tetanam di bagian rahim tebal, itu kokoh, tertanam di dalam. Ketika dicabut akan susah. Beda dengan di janin bawah. Karena itu ada orang yang minum peluntur bisa abortus, ada yang enggak bisa," jelas Ratu.

Risikonya Besar

Obat legal atau ilegal dalam pil peluntur yang diminum itu memiliki kandungan hormon. Hormon tersebut merupakan oksitosin. Kerjanya membuat rahim berkontraksi.

"Jika orang hamil minum maka rahimnya berkontraksi luluh atau longsor. Makanya janinnya keluar," jelasnya.

Namun jika kondisi bayi tertanam di dalam tak bisa dirangsang dengan oksitosin. Akan berbahaya dampaknya, sebab sisa-sisa janin bisa berada di dalam kandungan.

"Misalnya ada orang keguguran spontan biasanya harus dikuret dokter dikeluarkan sisa-sisanya. Ini kallau minum pil, masih ada sisa-sisa di dindingnya itu sangat berisiko. Apalagi ini kehamilannya sudah besar, sudah jadi orok," tegas Ratu.

(ika/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP