Senin, 25 Sep 2017
Logo JawaPos.com
Hukum & Kriminal

Jadi Seperti Ini Modus Suap Bupati Orang Kaya

| editor : 

Barang bukt suap Bupati Batubara, Orang Kaya Arya Zulkarnaen.

Barang bukt suap Bupati Batubara, Orang Kaya Arya Zulkarnaen. (Derry Ridwansah/Jawapos)

JawaPos.com - Lelang proyek secara online ternyata tidak menjamin bebas dari korupsi. Misalnya saja dalam kasus suap proyek infrastruktur di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. 

Meskipun melalui sistem online, kata Komisioner KPK Basaria Panjaitan mengatakan, tetap saja ada fee yang mengalir ke Bupati Batubara Orang Kaya Arya Zulkarnain dari sejumlah proyek infrastruktur di Kabupaten itu. 

Untuk pembangunan jembatan, OK Arya dijanjikan Rp 4 miliar oleh Maringan Situmorang atas proyek pembangunan Jembatan Sentang senilai Rp 32 miliar yang dimenangkan oleh PT Gunung Mega Jaya (PT GMJ) dan Jembatan Sei Magung senilai Rp 12 miliar yang dimenangkan PT Tombang.

"Lalu kesepakatan mereka, yang kalau kita lihat jumlah total yang diterima (dijanjikan) Rp 4,4 miliar, berarti 10 persen. Ya ini fee yang diterima oleh OK sebagai bupati," ujar Basaria saat konferensi pers di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis (14/9).

Selain proyek pembangunan jembatan, Arya juga dijanjikan fee dari proyek betonisasi jalan Kecamatan Talawi senilai Rp 3,2 miliar. Dari proyek ini, Arya mendapat jatah sekitar Rp 400 juta dari Syaiful Azhar.

"Jadi fee yang 400 juta itu tidak sama dengan MAS, ada dua orang yang berbeda di tiga proyek tersebut," tuturnya.

Adapun uang suap yang diterima OK Arya itu ditampung di rekening milik Sujendi Tarsono yang merupakan pemilik dealer mobil di daerah Petisah, Kota Medan. 

Jika sedang membutuhkan uang, OK Arya memerintahkan Sujendi untuk menyerahkannya kepada pihak tertentu.

"Semua dana ini disetorkan ke STR (Sujendi Tarsono). Kalau pada saat tertentu Bupati OK membutuhkan, dia telepon kemudian diberikan nanti diinformasikan kepada STR. Peritahnya, kirim ke si A sekian,” tutur Basaria. 

Modus itu terbongkar ketika penyidik menemukan aliran transaksi dalam buku tabungan yang dipegang Sujendi. "Ditemukan buku tabungan BRI sisanya ada 1,6 miliar yang ada dikusai oleh  pemilik dealer mobil tadi," jelasnya. 

Pada OTT kemarin, OK Arya meminta Sujendi menyiapkan uang sebesar Rp 250 juta. Uang itu diambil dari seorang swasta bernama Khairil Anwar di dealer mobil milik Sujendi di daerah Kota Medan, pada Rabu (13/9). 

Setelah mengambil uang tersebut, Khairil Anwar memasukannya ke sebuah kantong plastik berwarna hitam. 

Tim Satgas KPK yang mendapat informasi mengenai transaksi ini bergegas mengikuti pergerakan Khairil Anwar dan mengamankannya di sebuah jalan yang akan menuju Amplas. 

Di dalam mobil tersebut, tim Satgas KPK menyita uang tunai sebesar Rp 250 juta yang sebelumnya diambil Khairil di dealer Sujendi.

"Pada tanggal 13 September 2017 saat dilakukan OTT, (penyerahan uang itu) adalah perintah dari bupati. Dia tidak pegang uang sendiri, tapi pengepulnya STR," ungkap Basaria.

Tim Satgas kemudian membawa kembali Khairil Anwar ke dealer mobil milik Sujendi tersebut. Dari dealer tersebut, KPK mengamankan Sujendi beserta dua karyawannya. Keempatnya dibawa ke Mapolda Sumatera Utara untuk diperiksa. 

Tak lama berselang, tim Satgas KPK kemudian mengamankan seorang Maringan di rumahnya di daerah Kota Medan dan Syaiful Azhar di kediamannya di daerah Medan Sunggal. 

"Tim bergerak kembali dan kembali mengamankan Kadis PUPR Kabupaten Batubara, HH (Helman Hendardi) di ‎rumahnya di Medan," ucap mantan jenderal bintang dua itu.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, tim Satgas KPK juga menangkap OK Arya Zulkarnaen di rumah dinas Bupati Batubara bersama sopir istrinya berinisial MNR. Dari tangan Bupati Batubara tersebut, tim menyita uang tunai Rp 96 Juta.‎ 

"Uang tunai tersebut diduga sisa dana yang disetor STR kepada AGS (Agus Salim), Staf Pemkab Batubara, atas permintaan Bupati sebesar Rp 100 Juta," kata Basaria.

Tim Satgas KPK kemudian mengamankan Agus Salim di rumahnya di Kabupaten Batubara. Dari lokasi, tim mengamankan buku tabungan BRI atas nama Agus Salim yang berisikan uang transfer. 

Para pihak yang diamankan dalam OTT ini dibawa ke Mapolda Sumatera Utara untuk diperiksa intensif. Selanjutnya para pihak ini dibawa ke Gedung KPK Jakarta untuk melanjutkan proses pemeriksaan.

(dna/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP