Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Travelling

Kentang Krawu dan Batik Adas Laris Manis di Peringatan Hari Raya Karo

| editor : 

Kadisparbud Kab. Malang Made Arya, W. (kanan) didampingi Kades Ngadas Mujianto, saat meresmikan  batik khas Desa Ngadas, di Hari Raya Karo, Rabu (13/9).

Kadisparbud Kab. Malang Made Arya, W. (kanan) didampingi Kades Ngadas Mujianto, saat meresmikan batik khas Desa Ngadas, di Hari Raya Karo, Rabu (13/9). (Kades Ngadas for jawapos.com)

JawaPos.com  - Peringatan hari Raya Karo  tak hanya dilaksanakan masyarakat Hindu Tengger di kawasan Bromo sisi Probolinggo dan Pasuruan, namun juga di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang sebagai salah salu daerah di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS).

 Tak ada perbedaan menyolok peringatan hari Raya Karo di Desa Ngadas dengan daerah lainnya, seperti di kawasan Brang Kulon (Pasuruan) atau Brang Wetan (Probolinggo). Untuk Desa Ngadas (Brang Kidul) acara puncaknya pada Rabu (13/9). ‘’Peringatan Hari Raya Karo ini jatuhnya pada 6 September lalu menurut penanggalan masehi. Tapi puncak acaranya bisa berbeda-beda. Kan berlangsung selama sebulan,’’ kata Kades Ngadas, Mujianto, Rabu (13/9).

 Hari Raya Karo merupakan hari raya kedua setelah Kasadha. Karo, merupakan bulan kedua dari 12 bulan menurut kalender Suku Tengger. Sedangkan perayaan Karo diperingati setiap tanggal 15 di bulan Karo. Karena itu disebut hari Raya Karo.

Tradisi sedekah pangonan menjadi bagian prosesi hari raya Karo

Tradisi sedekah pangonan menjadi bagian prosesi hari raya Karo (Kades Ngadas for Jawapos.com)

 Secara umum tidak ada perbedaan menyolok pada perayaan hari Raya Karo di Desa Ngadas. Bila puncak acara di Brang Kulon dan Brang Wetan, pada 10 September lalu. ‘Kalau di Ngadas ya pada hari ini (Rabu, 13/9). Kalau diistilahkan resepsinya saja yang berbeda, tapi perayaan hari Rayo Karo tetap sama ya 6 September itu, ’’ ujar Mujianto menegaskan.

 Rangkaian acara hari Raya Karo dimulai pada 29 Agustus lalu. Melaksanakan acara ‘ping pitu pertama’.  Kemudian acara prepegkan yakni makan bersama pada 6 Semptember lalu dengan menyugugkan ‘tumpeng gedhe’. Lalu prosesi acara berlanjut dengan tradisi ‘Ngroan’ pada 12 September. Pada acara ini, warga saling mengundang tetangga untuk makan bersama. Secara bergantian.

Selanjutnya dilaksanakan acara ping pitu terakhir. Warga Ngadas melakukan sadranan ke pemakaman leluhur mereka di pemakaman umum di Desa Ngadas. Setelah itu dilanjutkan kesenian ‘Ujung-Ujungan’ atau saling menyambit menggunakan rotan pada Rabu (13/9) sebagai puncak acara. ‘’Kesenian Ini merupakan sebuah simbol. Bahwa tidak ada permusuhan dan perkelahian di Desa Ngadas. Kalau ingin berkelahi ya silahkan di acara ujung-ujungan,’’ kata Mujianto, menjelaskan.

Peringatan puncak acara hari Raya Karo di Ngadas memang memiliki daya tarik tersendiri .

Itu terbukti ribuan pengunjung sejak hari Minggu (10/9) sudah mulai memadati Desa Ngadas. Animo masyarakat luar Desa Ngadas begitu besar untuk datang di Desa dengan ketinggian  2.140 mdpl ini. Terbukti, 57 homestay yang dimiliki Desa Ngadas laris manis alias dipenuhi para tamu luar kota. ‘’Sebagian besar mereka yang menginap dari luar Malang, yang sengaja untuk menyaksikan puncak peringatan hari Raya Karo,’’ kata Mujianto menambahkan.

Tentu saja, banjir wisatawan ke Desa Ngadas ini tidak disia-siakan warganya.  Berbagai macam kuliner dan cindera mata khas masyarakat Desa Ngadas mereka tawarkan ke wisatawan. Termasuk diantaranya kuliner andalan Desa Ngadas, ‘Kentang Krawu’. Yakni, sebuah kentang yang masih masih bulat utuh dimasak dengan cara dikukus. Kemudian setelah matang diberi suwiran parutan kelapa disekilingnya. Makannya juga pada kondisi masih hangat.  Kudapan yang satu ini  terasa nikmat sekali ketika dimakan hangat  pada suasana dinginnya udara Desa Ngadas. Kuliner yang satu ini kini jadi andalan.  

Tidak hanya itu, selain kuliner, kain batik motif bunga ‘Adas Klaras’ degan warna dasar warna coklat mulai jadi andalan dan baru dipasarkan sebatas ada wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung ke Ngadas. ‘’Batik ini memang baru memulai. Sudah ada empat kelompok pembatik di sini, sementara baru warna cokelat, tapi nanti akan dikembangkan lebih banyak warna,’’ kata Mujianto.

Sementara Kepala Disparbud Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara mengatakan, pelaksanaan hari Raya Karo ini dirayakan bersama pada 6 September lalu di seluruh kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS). Hanya saja puncak acaranya tergantung dari kawasan masing-masing daerah.  ‘’Pelaksanaan berbagai kegiatan ritual masyarakat Tengger di Ngadas ini juga menjadi objek wisata menarik bagi para wisatawan,’’ katanya.

Untuk itulah, lanjut Made, demi  meningkatkan kunjungan wisata di Desa Ngadas sebagai Desa Adat  ini, pihaknya terus menerus memberikan pemahaman kepada masyarakat Desa Ngadas bahwa wilayah mereka akan sering menjadi jujukan para wisatawan. ‘’ Termasuk menggali berbagai jenis kuliner lokal yang khas. Nah yang sudah ketemu itu kentang krawu. Lalu batik Adas, masih ada beberapa lagi jadi panganan khas Desa Ngadas, tapi belum diberi nama,’’ pungkas Made.

(mik/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP