Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Dampak Kekeringan, Warga Rela Antre Air Bersih Sejak Pagi Buta

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Radar Banyumas/JawaPos.com)

JawaPos.com - Wilayah kekeriangan terparah di Bogor salah satunya berada di Desa Teluk Pinang, RT: 04/01, Kecamatan Ciawi. Sumur-sumur yang menjadi andalan warga kini tak kunjung mengeluarkan air. Begitu juga dengan perusahaan air. Meski berlangganan, sudah tiga bulan terakhir tak mengalir.

Di sisi lain, pemandangan langka terjadi di sumur tua Teluk Pinang, kemarin (13/9). Saat musim hujan, sumur itu selalu sepi tak sedikit pun dilirik. Tapi saat kemarau ini, sumur itu berubah layaknya tambang emas. Sejak pukul 03.00 pagi, warga rela mengantre membawa jeriken untuk kebutuhan MCK. Ada juga yang menampungnya dengan ember sembarang asal mendapat jatah air segar.

“Ini sudah tiga bulan lebih susah air. Kebutuhan sehari-hari, nyuci, mandi, buat minum, susah,” keluh Rosita (56) warga RT 04/01, Desa Teluk Pinang.

Masih di kampung yang sama, RT 02/04, Fatma (29), seorang ibu rumah tangga, menyebut meski mengandalkan PDAM, tapi air tak kunjung muncul selama tiga bulan terakhir. Untuk mencukupi kebutuhan air, warga terkadang harus menunggu air sisa buangan salah satu depot air curah. Ada juga yang mengandalkan air dari pabrik-pabrik di sekitar perkampungan.

Warga lainya, Sukanda (47), mengaku setiap dini hari harus mengantre demi memenuhi kebutuhan air di rumahnya. Tak jarang ia harus menunggu tiga jam untuk mendapatkan air bersih.

“Kadang saya ambil siang dan malam. Kalau pagi repot deh. Jam empat sudah ramai jam enam atau jam tujuh baru kebagian,” bebernya kepada Radar Bogor (Jawa Pos Group).

Pada 23 Agustus lalu, warga yang tak mendapatkan pasokan air bersih dari PDAM Tirta Kahuripan membuat puluhan kaum ibu menggelar aksi demo. Menurut salah seorang pendemo, Asri Tuti, sudah sebulan lebih air PDAM tak mengalir ke kediamannya.

Kalaupun ada, debitnya sangat kecil. Akibat kurang pasokan air, warga terpaksa mencari sumber air bersih dengan membeli air curah ke pihak swasta. "Ini mengganggu kalau anak mau berangkat sekolah, nyuci baju, dan masak. Padahal kami bayar," akunya.

Saat mediasi, PDAM Tirta Kahuripan Cabang Pelayanan X Ciawi memberikan solusi dengan menyuplai air menggunakan truk tangki. Meski begitu, warga menolak dan tetap menuntut agar pelayanan kembali normal. Saat itu pula, Kabid Humas Protokol PDAM Tirta Kahuripan Agus Rianto menyampaikan permohonan maaf kepada para pelanggan.

(yuz/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP