Rabu, 27 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Ngeri, Guru SMP Tewas Dikeroyok 20 Orang Lebih

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok JawaPos.com)

JawaPos.com - Cobaan berat tengah menimpa Endah Widayati. Betapa tidak, perempuan berusia 47 tahun itu harus kehilangan suami tercintanya, Adrianus Amit, 47, yang dianiaya sekelompok orang, Sabtu (2/9) sekitar pukul 01:20.

Keseharian Amit mengajar di SMP Negeri 2 Siantan, Pontianak. Endah tidak mengetahui secara persis kronologi peristiwa penganiayaan hingga tewas yang dialami suaminya. Sehari sebelum kejadian, ia tengah berada di Pulau Jawa. Endah mengawasi operasi anak sulungnya akibat cedera karena kecelakaan tiga tahun yang lalu.

"Tahunya dari anak," tuturnya saat menunggui jasad Sang Suami yang sedang diotopsi di RSUD dr. Soedarso, Rabu (12/9) siang, sebagaimana dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group).

Keluarga menangisi kepergian Adrianus Amit sebelum dilakukan otopsi di RSUD dr. Soedarso Pontianak, Rabu (12/9).

Keluarga menangisi kepergian Adrianus Amit sebelum dilakukan otopsi di RSUD dr. Soedarso Pontianak, Rabu (12/9). (Maulidi Murni/Rakyat Kalbar/JawaPos.com)

Yang ia tahu, akhir pekan itu, Amit sedang berada di kediaman mereka, Jalan Khatulistiwa Gang Teluk Air Siantan Hilir. Hanya berdua saja dengan buah hati mereka yang paling kecil, Clara.

Dari dalam kamarnya, diceritakan Endah, Clara mendengar suara dan orang yang sedang diseret. Bungsu berusia 16 tahun itu mencoba keluar dari kamarnya tetapi dihadang oleh seorang pelaku di depan pintu. Ketika Amit dibawa keluar, Clara juga keluar. Diperkirakan lebih dari 20 orang yang datang ke rumah itu.

"Suami saya dimasukkan (ke sebuah mobil) lalu dibawa pergi, tidak tahu ke mana. Tahu-tahu sudah sekitar pukul 01.30, dikasih informasi suami saya ada di IGD (RS) Antonius," ujar Endah.

Selama sebelas hari di rumah sakit, suaminya tidak sadar alias koma. Dari luka yang tampak oleh mata, Endah menjelaskan, ada luka yang diakibatkan semacam benda tumpul pada bagian kepala kiri. Seperti tergores agak dalam dan mengeluarkan darah. Tidak hanya itu, ada juga luka memar di dagu kiri, serta gosong di bagian paha kanan maupun kiri yang di tengahnya terlihat tiga bekas tusukan.

"Saya orang awam hanya memprediksi itu kemungkinan seperti terkena ujung elektroda. Dugaan saya semacam entah disetrum atau gimana," duganya.

Pada lutut sebelah kanan almarhum Amit seperti dihantam suatu benda. Terdapat semacam bekas memar yang melintang di lututnya. Lebam juga tampak di punggung kiri belakang yang mengarah ke jantung dan bagian ketiak kiri.

"Meninggalnya hari ini (kemarin, 13/9) setelah ada cek untuk jantung, benar-benar dinyatakan tidak ada sekitar pukul 4.20," ucap Endah.

Amit tidak pernah bercerita apa pun kepada istrinya. Namun, Endah menyebut, ada orang yang pernah menitipkan mobil. Ia tidak mengetahui siapa.

"Kalau masalah hutang-piutang, saya kira tidak ada. Saya tidak tahu pasti, karena kami masing-masing punya pekerjaan. Saya percaya dengan suami saya dan suami saya percaya dengan saya," tambahnya. Pada Minggu, 3 September, ia telah melaporkan hal ini ke polisi.

Usai otopsi, jenazah Amit akan dikebumikan di Salatiga, kota asal Endah. Ia menyatakan, suaminya senang ketika berada di sana. Kota yang sejuk dengan pemandangan sangat cantik.

Ahli Forensik RSUD dr. Soedarso, dr. Monang Siahaan, Mked (For)., lah yang mengotopsi jasad Adrianus Amit. Secara singkat, ia menjelaskan, penyebab korban meninggal dunia adalah luka di bagian kepala.

"Lebih cenderung dan prioritas ke rongga kepala, yaitu di bagian otak oleh pengaruh benda tumpul," ungkapnya.

Sedangkan luka lainnya, menurut dia, hanya sebatas luka memar kecil. Luka di kaki yang diduga setrum, kata Monang, hanya lebam biru kecil dan tidak itu memengaruhi.

Salah seorang penasihat hukum korban yang diketuai Pengacara Martinus Ekok, Carlos Penadur, menyatakan akan mendampingi Endah sampai proses hukum selesai. Pihaknya sudah melaporkan kasus tersebut ke Polresta Pontianak.

"Sejauh ini proses penyidikan sudah ada empat orang tersangka yang sudah ditahan," beber Carlos. Ia belum tahu motif dari peristiwa itu. Yang pasti pihaknya meminta keadilan.

Ketika dikonfirmasi tadi malam, Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Kalbar, Kombes Pol Asep Safrudin menyatakan, pihaknya masih menyelidiki peristiwa tersebut. “Itu memang benar, sekarang udah dilimpahkan ke Polda Kalbar pada tadi pagi,” terangnya.

Empat tersangka pun sudah ditetapkan. “Nanti akan terus dikembangkan, bagaimana nanti hasil dari pemeriksaan tersangka apakah ada tersangka baru, masih terus kita kembangkan,” pungkas Asep.

(fab/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP