Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Hukum & Kriminal

Polri Ajarkan Cara Pengungkapan Perdagangan Manusia ke Negara Anggota

| editor : 

JawaPos.com - Bareskrim Polri telah mengungkap kasus kejahatan kemanusiaan dan memberikan dampak yang tegas. Salah satunya yang terungkap di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang korbannya kebanyakan warga dari negara anggota Asean.

Atas pengungkapan itu, seluruh delegasi yang saat ini tengah berkumpul dalam konferensi Aseanapol ke-37 di Singapura, meminta Indonesia memaparkan keberhasilan pengungkapan kasus itu.

Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto mengatakan, keberhasilan Polri mendapat apresiasi dari seluruh delegasi dalam Aseanapol. "Kemudian negara anggota Asean sama-sama belajar (dari Indonesia) agar secara bersama berhasil mengungkap salah satu jenis kejahatan transnasional ini," kata dia dalam keterangan kepada JawaPos.com, Kamis (14/9).

Berdasarkan data, kasus itu bermula pada akhir Mei 2015 silam saat dua kapal bermotor pengangkut imigran di Pulau Lanu, Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) terdampar. Kedua kapal itu ternyata mengangkut imigran sebanyak 65 orang yang terdiri dari 10 orang warga negara Bangladesh, 1 orang warga negara Myanmar dan 54 warga negara Srilangka.

Para korban itu berangkat dari Tegal, Jawa Tengah, dengan tujuan ke Selandia Baru. Saat memasuki perairan Australia, dicegat oleh petugas perbatasan dan didorong sampai ke perbatasan Indonesia lalu terdampar di Pulau Rote, NTT.

“Pengakuan para korban, mereka diselundupkan untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negara baru karena di negara asalnya, mereka merasa terancam kehidupannya,” terang Ari.

Polri akhirnya mengungkap sekaligus menangkap sindikat yang mengorganisir penyelundupan manusia yang dikendalikan oleh Thines Khumar dan Abrham Louhenapessy alias Kapten Bram. Pengadilan juga telah memvonis mereka karena dianggap melanggar Undang-undang Keimigrasian dengan kurungan masing-masing lima tahunan.

“Para korban membayar sindikat sebesar USD 4.000 sampai dengan USD 8.000. Para pelaku, mendapat keuntungan haram mereka sekira USD 325.000 atau setara Rp 4 miliar,” jelas Ari.

Meski demikian, Ari melanjutkan, penyidikan dan penyelidikan Polri menemukan fakta lain yang berangkat dari penelusuran rekening dari koordinator sindikat yaitu Thines Kumar yang memang dikenakan juga pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) itu.

“Saat ini sudah ada kejelasan dan penyidik kembali menelusuri subyek rekening yang terafiliasi dengan sindikat Thines Kumar itu. Mengerucut pada seorang warga negara Srilangka,” lanjut lulusan Akpol 1985 ini.

Polri sendiri, tambah Ari, telah bekerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam negeri dan luar negeri. Salah satunya dengan Interpol agar menerbitkan red notice dan dengan Australian Federal Police (AFP) agar menerbitkan blue notice terhadap terduga asal Srilangka itu.

“Meski mendapat apresiasi yang besar, tapi ini merupakan kerja tim. Kerjasama lintas instansi bahkan negara. Polri meyakini, satu demi satu, para pelaku perdagangan manusia itu pasti bakal tertangkap. Dunia, khususnya Asean, tak memberi ruang bagi kejahatan HAM berat ini,” tukas dia.

(elf/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP