Rabu, 20 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Kawasan Serapan Air Puncak Bogor Juga Dilanda Kekeringan

| editor : 

Sebagian warga Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor terpaksa memanfaatkan air Sungai Cikaniki yang sudah menyusut untuk keperluan mandi, cuci dan kakus, sejak pekan kemarin.

Sebagian warga Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor terpaksa memanfaatkan air Sungai Cikaniki yang sudah menyusut untuk keperluan mandi, cuci dan kakus, sejak pekan kemarin. (Arifal/Radar Bogor/JawaPos.com)

JawaPos.com - Satu per satu wilayah di Bogor mulai terjadi kekurangan air bersih. Bahkan, di wilayah hulu yang merupakan kawasan serapan air yakni Puncak, turut kekeringan.

Pantauan Radar Bogor (Jawa Pos Group), daerah serapan air hujan itu mendadak berubah menjadi wilayah yang nyaris tandus. Air jernih yang biasa mengalir di tebing-tebing tepian Jalan Raya Puncak, kini hanya menyisakan retakan. Banyak sumur-sumur warga yang mulai mengering.

Tak hanya itu perusahaan air minum swasta sebagian besar tak beroperasi. Akibatnya, fasilitas umum dan kantor-kantor pemerintahan juga tak mendapat pasokan air. Mereka hanya bisa mengandalkan air sumur untuk kebutuhan harian.

Kabid Kedaruratan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Sumardi mengatakan saat ini sudah banyak wilayah yang telah meminta bantuan pengiriman air bersih. Seperti Desa Sukagalih, Kecamatan Caringin dan beberapa desa di Kecamatan Jonggol.

“Air bersih sudah kita kirimkan bahkan sejak bulan lalu. Hari ini (kemarin, red) pun ada permintaan dari Caringin, langsung kita kirim,” ujarnya.

Dia melanjutkan, laporan biasanya datang dari pimpinan wilayah setempat seperti desa dan kecamatan. Namun BPBD tak menutup diri jika ada laporan yang langsung datang dari masyarakat. “Yang penting kebutuhan masyarakat kita penuhi dulu. Masalah surat belakangan yang penting air bersih kita kirim langsung ke titiknya,” tuturnya.

Guna mengantisipasi membeludaknya permohonan pengiriman air bersih, ia pun telah menyiapkan kendaraan tangki sebanyak lima truk. “Kita sudah mulai antisipasi sejak awal mulai terlihat kemarau, awal bulan September ini,” tukasnya.

Kepala BMKG Kabupaten Bogor Budi Suhardi mengatakan kemarau tidak merata di seluruh wilayah Bogor. Karenanya dia mengimbau masyarakat melakukan gerakan penghematan pemakaian air yang efisien. Juga melapor ke camat atau kepala desa, jika tak turun hujan hingga dua dasarian (20 hari). Jika dalam waktu tersebut tak juga hujan, maka dapat dipastikan air tanah mengering.

“Segera berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Bogor agar diusulkan bantuan jika sudah tidak turun hujan dua dasarian,” pungkasnya.

(yuz/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP