Rabu, 22 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Features

Budi Oetomo W., Akupunkturis, Dokter Saraf, dan Instruktur Selam TNI-AL

| editor : 

LEKAS SEMBUH: Budi Oetomo W. mengakupunktur M. Hamdan di ruang praktiknya di Apotek Kimia Farma, Jalan Raya Darmo, Surabaya.

LEKAS SEMBUH: Budi Oetomo W. mengakupunktur M. Hamdan di ruang praktiknya di Apotek Kimia Farma, Jalan Raya Darmo, Surabaya. (Salman Muhiddin/Jawa Pos)

Budi Oetomo W. mendalami akupunktur sejak usia 15 tahun. Profesi itu dia jalani dengan tekun sembari membuka praktik dokter saraf, instruktur selam TNI-AL, dan dosen hingga kini.

SALMAN MUHIDDIN, Surabaya

JADWAL Budi Oetomo padat sekali. Meski begitu, dia berkenan ditemui pada Sabtu malam (2/9) di sela-sela praktik sebagai dokter saraf di Apotek Kimia Farma, Jalan Raya Darmo, seberang Taman Bungkul.

Kalau Minggu pagi, dia sibuk mengajar selam. Nah, kalau akhir pekan saja sibuk, apalagi hari biasa. Pada pukul 21.34, pria berkulit kuning dengan badan tegap itu akhirnya menampakkan diri dari ruang praktik di ujung apotek. Saat itu sedang tidak ada pasien. ’’Sebenarnya ada dua lagi yang mendaftar. Tapi, kok belum muncul, ya?’’ kata pria kelahiran Tegal, 12 November 1956 itu, lantas mempersilakan Jawa Pos masuk.

Sejurus kemudian, dia mengeluarkan kartu nama dari sakunya. Gile beneer... Gelar dia berderet-deret bak gerbong sepur. Kompletnya adalah: Kolonel Laut (pur) dr Budi Oetomo W. Acp DiplBE SpS SpKL PhD.

Artinya, dia adalah pensiunan tentara yang juga bergelar doktor cum dokter. Dia adalah akupunkturis, neurolog (dokter saraf), spesialis kedokteran kelautan (ahli pengobatan penyakit penyelaman), instruktur selam Angkatan Laut (TNI-AL), instruktur perang ranjau laut, mediator, dan dosen.

Selain ilmu kedokteran, dia menguasai business English dan human resource management. Sejak purnatugas dari TNI-AL pada 2014, aktivitasnya tak jua kendur. Di antara semua aktivitasnya, profesi sebagai akupunkturis terhitung paling lama. Bahkan, jauh sebelum dia menjadi dokter TNI-AL yang pernah tugas di korps Marinir atau dokter saraf.

Begitu banyak ’’mukjizat’’ yang didapatkan dari pengobatan tusuk jarum asal Tiongkok yang ditemukan 5000 tahun sebelum Masehi itu. Budi dilahirkan dari keluarga sederhana. Dulu ibunya membuka usaha salon. Ayahnya berhenti bekerja karena sering sakit ketika Budi masih remaja.

Suatu saat ibunya demam dan sesak napas berbulan-bulan. Sudah diperiksa di empat dokter di Tegal. Tapi, dia tak juga sembuh. Saat itu sang ayah meminta Budi untuk mencari dukun. Dukun apa saja. Yang penting ibunya sembuh.

Saat itu Budi masih kelas 1 SMAN 1 Tegal. Dia menceritakan kondisi ibunya ke salah seorang penjual makanan yang tak jauh dari sekolahnya. ’’Ibu kenal dukun? Ibu saya sakit,” tanya Budi dengan polos. ”Tusuk jarum saja,” jawab ibu penjual itu.

Setelah diberi tahu tempatnya, Budi langsung meluncur. Dibawalah sang ibu untuk menjalani terapi akupunktur. Tak disangka, penyakit ibunya bisa disembuhkan hanya dengan jarum dan obat herbal. Budi berpikir, itu adalah mukjizat. Niat berobat pun berubah menjadi niat berguru agar dia bisa menyembuhkan orang lain yang sakit.

Sutan, sang ahli akupunktur yang membantu penyembuhan ibunya saat itu, masih muda. Budi memperkirakan usianya sekitar 23 tahun. Beruntung, adik Sutan adalah teman satu sekolah Budi. Jadilah, Budi sering belajar bersama di rumah Sutan.

Suatu saat dia mengutarakan keinginannya untuk belajar akupunktur. ’’Ah, kamu masih kecil. Belum cukup umur,” ucap Budi yang menirukan Sutan.

Namun, semangatnya tidak kendur. Ketika ada pasien datang, Budi ikut melihat. Pelajaran akupunktur didapatkannya dengan cara mengamati. Lama-kelamaan, Sutan mau mengajarinya. Sebelum menusuk kulit seseorang, dia diminta mempelajari teori yin-yang dan pergerakan lima unsur. Dia mempelajari itu dari buku.

Di tengah wawancara, seseorang mengetuk pintu. Dia adalah pasien yang ditunggu-tunggu. ”Masuk saja, Pak,” kata Budi. Kepala pasien itu nongol setelah membuka pintu perlahan. ”Oh, maaf masih ada pasien ya?” ujarnya, lalu balik kucing untuk duduk mengantre.

Budi lantas meminta izin agar cerita dilanjutkan setelah pasien dilayani. Pasien tersebut akhirnya diminta masuk. Tak lama kemudian, pasien lain datang. Dia membawa serta dua putrinya dan seekor kucing. Satu keluarga masuk dalam ruangan 2 x 4 meter itu begitu pasien pertama selesai diterapi. Tiap-tiap pasien diterapi selama 20 menit. Selama 15 menit dihabiskan untuk tusuk jarum dan 5 menit berikutnya digunakan untuk mengobrol tentang keluhan yang diderita pasien.

Budi akhirnya meneruskan kisah hidupnya pada pukul 23.30. Menjelang pergantian hari, dia terlihat masih bugar. Biasanya dia mulai bersiap-siap pulang. Namun, Budi terlihat masih bersemangat melanjutkan cerita yang baru dia sampaikan separo.

Setelah menguasai teori, dia mulai mempraktikkan tusuk jarum. Sutan memberinya beberapa jarum secara cuma-cuma. Kapas kering menjadi media belajar pertama. Jarum tipis itu tidak boleh bengkok. Tusukan tidak dilakukan dengan kekuatan. Tapi, perasaan.

Begitu mahir, lengan kirinya jadi kelinci percobaan. Titik akupunktur di dekat sikut bisa mencegah flu. Daya tahan tubuh bakal meningkat jika jarum mengenai titik akupunktur yang diinginkan.

Malam itu, Budi juga mendemonstrasikan caranya menusukkan jarum. Dia meminta Jawa Pos merebahkan diri. Sama sekali tidak ada rasa sakit saat jarum menembus kulit. Padahal, jarum itu masuk sekitar 2 sentimeter.

Namun, begitu jarum disentil dan dipilin ke kanan-kiri, rasanya sedikit linu dan kadang seperti tersengat listrik. ”Berarti sudah menyentuh saraf,” ujar pria dua anak tersebut.

Ada banyak titik lain yang tersebar di seluruh bagian tubuh. Mulai kepala, leher, pinggang, telapak tangan, hingga kaki. Masing-masing punya khasiat tersendiri. Asisten sekaligus anak angkat Budi, Muhammad Hamdan, juga meminta diakupunktur. Titiknya di punggung. Di bagian atas untuk pegal-pegal, sedangkan di dekat pinggang untuk sakit mag.

Lalu, siapa pasien pertama Budi? Dia tidak ingat. Salah seorang pasien yang pernah disembuhkan ialah ayah guru geografinya. Saat itu Budi sudah lebih dari setengah tahun mempelajari akupunktur. Tapi, dia masih kelas 2 SMA. Marwadi, gurunya, percaya pada kemampuan sang murid yang masih amatir itu. Budi diajak ke rumah ayahnya di Randudongkal, Pemalang. Ayah Marwadi terkena stroke. Separo tubuh kirinya lumpuh.

Budi hanya membawa empat jarum saat itu. Secara bergantian dia menusukkan jarum tersebut ke bagian yang lumpuh. Bukan sulap bukan sihir. Bapak itu sembuh dalam sehari.

Keesokan harinya, Marwadi menyebarkan kisah tersebut ke seluruh penjuru sekolah. Guru-guru, tukang kebun, dan teman-temannya tahu kisah itu. Nama Budi mendadak booming di sekolah. Bak Ponari, bocah asal Jombang yang katanya menemukan batu bertuah yang mujarab.

Kala itu Budi dianggap bocah ajaib. Semakin banyak guru yang minta diakupunktur. Semakin banyak pula yang disembuhkan.

Begitu lulus SMA, dia mengambil kuliah kedokteran di Universitas Gadjah Mada (UGM ). Pada 1986 dia bergabung dengan TNI-AL setelah seorang mayor Angkatan Darat (AD) memberi tahu ada kesempatan untuk bergabung dengan militer.

Dia sempat ragu. Sebab, sudah ada giginya yang tanggal. Dia juga sudah berkacamata saat itu. Setahu dia, untuk masuk militer, fisik harus sempurna. Namun, untuk para dokter, ternyata ada pengecualian. Saat dites, Budi pun masuk dengan mudah.

Tugas pertamanya di Jayapura. Dia langsung menjadi kepala rumah sakit Angkatan Laut (RSAL) setempat. Dia juga beberapa kali ditugaskan ke daerah-daerah terpencil. Salah satunya Timor Timur (kini Timor Leste) pada 1990. Saat itu Timtim masih menjadi bagian dari NKRI. Tapi, suasananya tidak kondusif. Kekerasan rasial kerap ditemukan. Tapi, Budi aman-aman saja karena mengenakan identitas TNI-AL dan bisa bahasa Tetun, bahasa daerah beberapa suku di ujung utara Pulau Timor.

Di situ, Budi membuka praktik akupunktur. Banyak pasien yang tidak perlu membayar karena tak mampu. ”Kan yang saya keluarkan hanya jarum dan ilmu. Enggak rugi,” ujar pria yang tinggal di kompleks AL di Kenjeran tersebut.

Pada 1994 dia mengambil spesialis saraf di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Ilmu saraf, akupunktur, dan kedokteran penyelaman memang berhubungan erat. Budi lalu menerangkan bahwa dalam akupunktur itu ada ilmunya. Bukan sihir dengan segala jampi jampi mantranya. Akupunktur juga sudah diakui World Health Organization (WHO) sejak 1975.

Selain akupunktur, Budi dikenal andal dalam dunia selam. Pada 1994 dia ditugaskan belajar ke Jerman untuk menjadi supervisor penyelaman dalam.

Di dinding ruang praktiknya, ada foto dirinya bersama dua putra mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Yakni, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas. Dua foto itu diambil ketika dirinya menjadi instruktur selam bagi dua putra presiden tersebut.

AHY mengambil kelas selam bersama 29 anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Kursus itu diberikan pada 2008 selama dua pekan. Tidak lama kemudian, gantian Ibas yang diajari. Tapi, waktu kursusnya 1,5 bulan. Sebab, waktu kursus Ibas harus terpotong tugas ke luar negeri.

Budi juga memiliki keahlian sebagai diving medicine. Mengobati penyakit-penyakit akibat penyelaman. Sebab, otak dan organ dalam bisa rusak ketika penyelaman dilakukan tanpa mematuhi prosedur.

Untuk mengobatinya, lagi-lagi Budi menggunakan tambahan terapi dengan teknik akupunktur. ”Pernah ada yang lumpuh total. Akhirnya bisa normal sampai sekarang. Bisa ditelepon orangnya kalau tidak percaya,” kata Budi sambil menunjukkan nomor di ponselnya.

Bagi Budi, di dunia ini hanya ada dua jenis penyakit. Yakni, penyakit karena kelebihan dan penyakit karena kekurangan. Itulah konsep yin-yang yang diyakininya.

Kalau ada yang kurang, artinya harus ditambahi. Kalau kelebihan, harus dikurangi. Sesederhana itu. Misalnya, diabetes atau penyakit kelebihan gula. Terapinya adalah obat penurun kadar gula dan menghindari asupan gula.

Contoh lain, demam berdarah karena kekurangan trombosit. Gizi buruk karena kekurangan gizi, gondok karena kekurangan yodium, dan penyakit-penyakit lain.

Lalu, kalau penyakit ’’gila’’? ’’Itu kurang waras,’’ sahut Hamdan yang menemani Budi.

(*/c7/dos)

Sponsored Content

loading...
 TOP