Rabu, 22 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Hoax Atau Bukan

Jawa Pos Clearing House of Information

Gambar Ucapan yang Berbahaya

| editor : 

TANDA TANYA: Pesan ini hoax atau benar?

TANDA TANYA: Pesan ini hoax atau benar? (Facebook)

JawaPos.com- Sebuah pesan peringatan tentang bahayanya mengirimkan gambar dan video berisi ucapan selamat belakangan banyak tersebar di media sosial. Anda diminta tidak mengirimkan gambar atau video ucapan selamat karena ada hacker yang berupaya mencuri data.

Ada pesan yang berbahasa Inggris. Ada juga yang berbahasa Indonesia, tetapi kalimatnya kacau seperti hasil terjemahan instan yang tersedia secara online. Dalam pesan tersebut, kita diminta menghapus dan tidak mengirimkan sebuah gambar atau video berisi ucapan selamat. Entah selamat pagi, selamat malam, atau selamat untuk perayaan hari tertentu.

Kenapa dilarang? Sebab, foto dan video itu sengaja diciptakan hacker untuk membobol identitas pribadi Anda. Terutama data yang berkaitan dengan perbankan. Pesan peringatan tersebut dikutip dari berita Shanghai News Today. Di situs berita itu dilaporkan sudah ada 200 ribu orang yang menjadi korban.

Anehnya, di situs pencarian, tidak ada kabar tersebut. Bahkan, tidak terdapat situs Shanghai News Today di internet. Hasil pengecekan di situs pendaftaran domain, nama shanghainewstoday masih tersedia. Termasuk yang berekstensi .com. Artinya, memang tidak ada situs yang menggunakan nama Shanghainewstoday.com.

Domain shanghainews.com memang ada, tetapi tidak aktif. Domain shanghaitoday juga tidak ada. Domain itu belum banyak terpakai orang. Jadi, sumber dari informasi di atas memang patut diragukan.

Dosen Ma Chung University Soetam Rizky menyatakan, isi pesan tersebut memang terindikasi spam. Meski begitu, menurut Soetam, pengguna teknologi internet tetap harus hati-hati dengan berbagai virus yang sekarang ini bisa ditanam lewat berbagai media. ’’Khususnya menginstal aplikasi yang berasal dari sumber tidak resmi,’’ katanya.

Sementara itu, praktisi IT asal Surabaya, Nuansa Jala Persada, menjelaskan bahwa penanaman virus lewat sebuah file biasanya hanya semacam malware. Teknik pencurian data atau sniffing umumnya tidak seperti yang ada dalam informasi dari Shanghai News Today. ’’Biasanya, modus pencurian data adalah meminta korban mengakses link tertentu yang mirip sebuah situs asli. Misalnya, mirip PayPal,’’ jelasnya.

Lewat situs tersebut, korban biasanya setengah dipaksa untuk login dengan memasukkan user dan password-nya. Dari sana, pelaku bisa mendapatkan identitas kita.

(gun/eko/c14/fat)

Sponsored Content

loading...
 TOP