Sabtu, 23 Sep 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Tuntaskan Kasus Penembakan Polisi, Densus 88 Turun Kejar Pelaku

| editor : 

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok.JawaPos.com)

JawaPos.com - Polda NTB terus memburu pelaku penembakan polisi, di Kota Bima. Pengejaran tersebut akan dikoordinasikan dengan tim Detasemen Khusus Anti Teror (Densus) 88 Mabes Polri.

Wakapolda NTB Kombes Pol Imam Margono mengatakan, langkah tersebut dilakukan setelah Polda NTB mengetahui identitas terduga pelaku, yakni Rahmat alias Mamat alias Billy. Yang bersangkutan merupakan mantan narapidana dalam tindak pidana terorisme.

”Sudah kita koordinasikan dengan Densus,” kata Imam sebagaimana dilansir Lombok Post (Jawa Pos Group), Kamis (14/9).

Wakapolda NTB Kombes Pol Imam Margono

Wakapolda NTB Kombes Pol Imam Margono (Dok.Lombok Post/JPG)

Billy yang memiliki nama asli Rahmat Hisbullah sempat mendekam di Lapas Pasir Putih Nusa Kambangan, Jawa Tengah, selama 5 tahun delapan bulan. Pria asal Kelurahan Penatoi, Kecamatan Mpunda, Kota Bima ini diketahui baru bebas sekitar satu minggu lalu.

Identitas Billy terkuak berkat informasi dari korban, yakni Bripka Gofur. Korban mengenali wajah Billy, sekaligus wajah orang yang membonceng Billy saat melakukan aksi teror, yakni Munandar. ”Iya ini karena pengamatan dari korban sesaat setelah ditembak,” ujarnya.

Ditambahkannya, meski telah melakukan koordinasi dengan Densus 88, Polda NTB tidak mengetahui pergerakan tim di lapangan. ”Kita tidak tahu pergerakannya seperti apa, intinya informasi terkait terduga pelaku sudah kita berikan,” kata Imam.

Dalam upaya pengejaran terhadap terduga pelaku, Polda NTB juga telah menurunkan tim ke Bima. Mereka akan bekerja berdasarkan informasi dari sejumlah yang masih diamankan dan diperiksa secara intensif.

Lebih lanjut, mengenai proyektil peluru yang berhasil dikeluarkan, Polda NTB telah mengirimkannya ke Laboratorium Forensik (Labfot) Polri Cabang Denpasar. ”Hari ini (kemarin, Red) sudah kita kirim,” imbuhnya.

Menurut Wakapolda, langkah tersebut sebagai upaya untuk memastikan jenis peluru. Sekaligus jenis senjata yang dipakai untuk menembak Bripka Gofur dan Bripka Jainal.

Sebelumnya, polisi hanya bisa memastikan jika peluru tersebut merupakan buatan pabrik. Identifikasi tersebut terlihat dari peluru di pinggang Bripka Jainal. Peluru ini biasanya digunakan pada senjata api dengan kaliber 5,56 milimeter. Sementara peluru di Bripka Gofur tidak dapat diidentifikasi karena kondisinya yang sudah hancur.

Meski demikian, Wakapolda memastikan jika kedua peluru itu bukan dari jenis yang sama. "Jenisnya beda, nanti akan kita libatkan labfor untuk pendalaman," kata dia.

Meski demikian, Imam menduga jika terduga pelaku menggunakan senjata api rakitan untuk menembak kedua anggotanya. Sebab, peluru apa saja bisa masuk dalam senpi rakitan selama lubangnya sesuai dengan besaran peluru.

(nas/jpg/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP