Jumat, 24 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Lifestyle

Tak Gengsi Lagi Beli Tas Branded Bekas

| editor : 

Sejumlah pengunjung mengerubungi lapak-lapak penjual tas brended seken

Sejumlah pengunjung mengerubungi lapak-lapak penjual tas brended seken (Rieska/JawaPos.com)

JawaPos.com – Perempuan paling senang belanja tas. Tas semahal apapun akan dibeli demi memenuhi hasrat dan imej di mata komunitasnya. Tas merek atau branded luar negeri paling diincar. Dari mulai Hermes, Chanel, Louis Vuitton, Fendi, Givenchy, dan US Brand seperti Tory Burch, Michael Kors, Kate Spade, Prada dan lainnya.

Bahkan untuk mendapatkan tas asli branded dengan harga yang miring, perempuan saat ini semakin banyak membeli produk bekas atau second. Istilahnya disebut dengan Preloved Branded. Ditemui dalam pameran Irresistible Bazaar, bazar ribuan tas preloved branded, ratusan perempuan ramai-ramai berbelanja.

“Mungkin tujuh tahun lalu orang pakai tas second masih gengsi, ngumpet-ngumpet, masih malu karena belum jadi smart shopper. Sekarang, orang malah jual atau beli second karena berkaitan dengan menabung ya, semacam investasi,” kata Founder Irresitible Bazaar Marisa Tumbuan, Rabu (13/9).

Marisa menyebutkan tren jual beli tas preloved branded justru menjamur di Jepang seperti Tokyo, Osaka, Nagoya, dan lainnya. Banyak perempuan mampir ke toko tas second. Begitu juga orang Eropa, Taiwan, dan China.

Baginya dan perempuan lainnya, membeli tas ibarat investasi. Jika sudah bosan dengan modelnya, maka tas yang masih bagus kualitasnya atau baru dipakai sebentar, bisa dijual kembali. Kemudian hasilnya bisa menjadi tambahan untuk membeli tas dengan model terbaru lainnya.

“Di sana berjajar penjual tas branded second, kekuatan mereka bisa menjadi magnet wisatawan,” jelas Marisa.

Untuk kurasi tas-tas branded, tentu dilakukan oleh penjual masing-masing. Terutama jika ada masalah jahitan yang lepas, kancing kurang baik, resleting rusak dan lainnya. Sebelum dijual dalam pameran, penjual bisa mereparasi tas tersebut di Bag Spa yang sudah semakin banyak di pasaran.

“Tergantung penjualnya itu sendiri ya, misalnya ada kikis, atau masalah pada zipper, kalau mau jual seadanya tentu harganya juga lebih turun ya,” katanya.

Marisa menilai tas preloved branded justru lebih baik ketimbang tas palsu atau tiruan yang dikenal dengan istilah KW. Pihaknya juga memiliki kiat tersendiri untuk membedakan tas branded asli dan KW.

“KW membedakannya banyak kok sekarang di media sosial. Agar lebih selektif lagi jika dijual di Instagram bisa ditelusuri dari foto-fotonya, kelihatan sekali dan banyak informasi soal penipuan. Jadi semakin mudah aksesnya,” ungkapnya.

(ika/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP