Senin, 25 Sep 2017
Logo JawaPos.com
Features

Sekolah Indonesia di Sittwe, Rakhine

Satu Ruang, Tiga Pelajaran, Tiga Puluh Dua Murid Rohingya

| editor : 

Suasana kelas di sekolah hasil sumbangan masyarakat Indonesia di Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma

Suasana kelas di sekolah hasil sumbangan masyarakat Indonesia di Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma (DHIMAS GINANJAR/JAWA POS)

Sebagian pelajar Rohingya harus rela saling memunggungi untuk mengikuti dua pelajaran berbeda dalam satu ruangan. Seragam rata-rata usang dan sebagian nyeker. Tapi, antusiasme para murid Rohingya untuk bersekolah tetap tinggi.

DHIMAS GINANJAR, Sittwe

---

RUANG kelas itu tidak lebih dari 8 meter persegi. Di dalamnya berjubel 32 murid. Persoalannya, mereka tidak memperhatikan satu pelajaran yang sama.

Sebab, mereka hanya berbagi kelas. Ke-32 murid di SD negeri di Myanmar itu berasal dari tiga kelas yang berbeda. Jadi, pada jam yang sama, ada tiga pelajaran berbeda di ruang kelas tersebut.

Sempitnya ruangan, membuat para siswa harus berbagi ruangan. Tampak dalam foto, siswa saling memunggungi supaya bisa melihat ke masing-masing papan tulis.

Sempitnya ruangan, membuat para siswa harus berbagi ruangan. Tampak dalam foto, siswa saling memunggungi supaya bisa melihat ke masing-masing papan tulis. (DHIMAS GINANJAR/JAWA POS)

''Bagaimana lagi, di sini cuma ada empat kelas,'' kata Kyaw Min Tun, salah seorang guru di SD Negeri Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma yang terletak tak jauh dari Sittwe, ibu kota Negara Bagian Rakhine, tersebut.

Pembangunan SD tersebut, bersama SD negeri di desa tetangga, La Ma Chae yang memiliki tiga kelas, dibantu dana dari para donatur Indonesia melalui PKPU Human Initiative. Muridnya para bocah muslim Rohingya.

Segala keterbatasan fasilitas itu toh tak menyurutkan semangat para bocah. Padahal, seperti yang dirasakan Jawa Pos sendiri yang berkunjung pada Senin lalu (11/9), sungguh tak mudah menjaga konsentrasi dalam satu ruangan berisi tiga kelas tersebut.

Sekat di SD Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma hanya dari papan tripleks setinggi sekitar 170 cm. Itu pun hanya berlaku untuk siswa grade (tingkat) 4 yang jumlahnya paling banyak. Yakni, 18 murid yang siang itu sedang belajar matematika dengan materi akar kuadrat. Gurunya perempuan bernama Myint Myint Tant.

Di sebelahnya, ada dua kelas berbeda. Pertama, untuk grade 5 yang sedang belajar bahasa Inggris dengan guru lelaki Kyaw Min Tun. Murid yang berada di tingkat itu hanya enam orang. Empat di antaranya adalah perempuan.

Satu kelas lagi adalah geografi untuk grade 6. Gurunya juga perempuan, Ma Shoe Pyu. Muridnya delapan. Dengan komposisi empat laki-laki dan empat perempuan. Untuk dua kelas itu, grade 5 dan 6, para murid harus duduk saling memunggungi karena masing-masing punya papan tulis yang berbeda.

Jawa Pos menunggu sekitar satu jam saat proses belajar-mengajar di sekolah perkampungan Rohingya tersebut berlangsung. Satu waktu, ketiga kelas ramai karena harus mengulang apa yang diucapkan guru. Sesekali satu kelompok murid saja yang ramai karena berebut memberikan jawaban.

Ketika itu terjadi, para murid yang sebagian datang ke sekolah tanpa sepatu tersebut biasanya menoleh ke sumber suara. ''Itu membuat konsentrasi mereka kerap terganggu,'' kata Kyaw Min Tun.

Seluruh murid di SD desa yang jalanannya berlumpur itu mencapai 250 orang. Ketika semua masuk, mau tak mau harus berbagi kelas. Jendela di keempat kelas berukuran besar dan dibiarkan terbuka lebar karena di dalam tak ada kipas angin. Apalagi AC.


 

Di sekolah tersebut, para murid umumnya malu-malu ketika ada orang asing yang datang. Ketika kamera diarahkan kepada mereka, biasanya mereka langsung melihat papan tulis atau buku. Sebisa-bisanya tidak menoleh ke kamera.

Tapi, beberapa kali mereka mengintip. Mungkin penasaran. Jika sudah demikian, mereka akan tersenyum dan membiarkan dipotret.

Tipikal lainnya, mereka biasanya diam ketika diajak berbicara. Bahkan ketika ditanya soal nama.

Ketika Jawa Pos dan guru Kyaw meminta seorang siswi untuk membacakan naskah bahasa Inggris yang disalinnya ke buku, dia diam saja. Bahkan, ketika sudah dibujuk gurunya, dia bergeming. ''Mungkin dia malu karena tidak banyak orang asing yang ke sini,'' timpal Kyaw, lantas tersenyum.

Di Myanmar, sebenarnya ada aturan soal seragam sekolah bagi sekolah dasar. Atasan seragam berwarna putih dengan celana atau rok hijau.

Tapi, di Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma, beberapa murid tidak memiliki pasangan seragam itu. Sebab, umumnya mereka berasal dari keluarga miskin.

Jawa Pos sempat melihat beberapa murid mengenakan seragam yang sudah usang dan rusak. Selain warna putih yang cenderung menguning atau cokelat, rok beberapa siswi juga sobek. Namun, mereka tetap cuek dan pergi sekolah lengkap dengan bedak thanaka di wajah.

Soal alas kaki, tidak semua memakai sandal. Kebanyakan nyeker sehingga kaki mereka tampak kotor. Apalagi, akses menuju sekolah itu tergenang air semata kaki. Kondisi diperburuk oleh halaman sekolah yang berlumpur karena guyuran hujan.

Meski serba terbatas, kondisi warga Rohingya di Thet Kay Pyia Ywar Ma dan La Ma Chae tetap lebih baik ketimbang mereka yang harus mengungsi. Mungkin karena itu pula, para pelajar di dua desa tersebut sangat bersemangat ke sekolah.

Tidak ada yang merasa terganggu dengan seragam usang dan kaki yang belepotan dengan lumpur kering. ''Mereka senang ke sekolah. Karena itulah, banyak anak kecil yang datang ke sini untuk ikut belajar,'' imbuhnya.

Para guru di sekolah tersebut juga tidak berasal dari lulusan sekolah khusus keguruan. Bahkan, mereka mengaku tidak mendapatkan sekolah sampai jenjang perguruan tinggi. Enam guru di sekolah itu umumnya lulusan sekolah di situ juga. Alias berijazah SD.

Karena itu, ketika melihat cara para guru tersebut mengajar, mereka masih menggunakan cara lama. Memegang kayu rotan, lebih banyak menyalin ulang dari buku ke buku tulis, sampai memberikan banyak tugas.

Interaksi dengan murid juga jarang. Misalnya, merangsang mereka untuk mengutarakan pendapat. Namun, tidak ada pilihan lain karena umumnya orang Rohingya terisolasi. Karena itu pula, kualifikasi para guru yang diminta mengajar oleh negara tidak terlalu diperhatikan.

''Tapi, kami sudah diberi standar dalam mengajar,'' terang Kyaw.

Selain ruang kelas dan toilet, sekolah tersebut nyaris tak punya fasilitas lain. Ruang guru, perpustakaan, hingga pagar belum ada. Padahal, perpustakaan sangat diperlukan supaya wawasan murid bertambah.

Di sekolah tersebut sebenarnya ada sebuah bak dengan pompa sumur yang bisa digunakan untuk membilas kaki. Namun, saat Jawa Pos ke sana, pompa itu tidak berfungsi. Sehingga yang tersisa dalam bak air hanya sedikit air sisa turunnya hujan pada Minggu malam (10/9).

Meski demikian, Kyaw Min Tun, Myint Myint Tant, dan Ma Shoe Pyu bersyukur sudah ada sekolah yang lebih baik dari sebelumnya. Kini tugas mereka adalah menyalurkan ilmu pengetahuan yang dimiliki supaya generasi mendatang Rohingya lebih melek pendidikan.

(*/c5/ttg)

Sponsored Content

loading...
 TOP